
Setelah itu, Darren pamit pada Pak Somat dan Pak Somat mengantarkan sampai ke depan pintu bersama Jeje.
"Sabar, ya," kata Darren dan Pak Somat pun merasa pusing, mendengar itu Pak Somat mengira kalau Darren meminta pada putrinya untuk bersabar menunggu melakukan hubungan itu.
Dan Pak Somat pun merasa memang sudah seharusnya segera menikahkan keduanya.
Lalu, Pak Somat yang berdiri di samping Jeje itu memanggilnya, "Je," lirihnya.
"Iya, Ayah," jawab Jeje seraya menoleh.
"Kamu bukan sedang hamil, kan?" tanya Pak Somat dan apa yang Pak Somat tanyakan pada putrinya itu di dengar oleh tetangga yang sedang melintas dan yang didengarnya itu menjadi gosip dan kebanyakan orang menggosipkan kalau Pak Somat tidak pantas menjadi RT.
Sementara itu, Jeje meyakinkan kalau dirinya tidak tengah hamil dan Jeje minta pada Pak Somat untuk percaya.
"Bagaimana Jeje mau hamil, Ayah. Mas Darren itu menyentuh Je saja tidak, ini karena Je terlalu agresif, Je harus lebih agresif lagi supaya Mas Darren pusing," kata Jeje dalam hati dan Jeje pun terkekeh, ia sangat suka ketika melihat Darren pusing karenanya.
****
Di kantor Sam, ia kedatangan tamu yang sudah lama tidak menyambangi kantornya dan tamu itu adalah Darren.
"Ada apa?" tanya Sam seraya menatap Darren dan Darren yang berjalan kearahnya itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Begini, Darren ingin menikah," jawab Darren dan sekarang, Darren sudah duduk di kursi depan Sam.
Sam mengangguk mengerti dan Sam menatap menyelidik pada putranya.
"Kamu sudah besar, Papi masih ingat sekali dulu waktu kamu kecil, kamu meminta mainan pada Papi dan sekarang kamu minta Papi melamarnya untukmu," kata Sam.
"Masa mau kecil terus, Pi," jawab Darren.
"Tapi tetap, semua kenangannya seperti baru kemarin Papi melewati itu semua, tak terasa waktu begitu cepat berlalu," kata Sam dan Darren tersenyum padanya.
Lalu, Sam bangun dari duduk. "Ayo," ajak Sam pada putranya.
"Kemana?" tanya Darren.
"Jangan tunggu lama, Papi tau kamu sudah tidak tahan, hahaha!" ledek Sam dan Darren menjadi malu memiliki Papi yang begitu slengean.
"Astaga, Papi. Masih bagus Darren bisa tahan, tidak seperti Papi!" kata Darren dalam hati.
Singkat cerita, sekarang, Darren dan Sam sudah ada di rumah Pak Somat dan hari pernikahan ditentukan oleh calon pengantin.
__ADS_1
"Kalau bisa, jangan lama-lama, Mas," bisik Jeje pada Darren dan Darren meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi kode supaya Jeje tidak berisik.
Dan Jeje pun segera menutup mulutnya.
****
Tidak hanya Darren dan Jeje, tetapi, ada Justin juga Rossi yang sekarang sedang makan sore bersama di restoran.
Ayah Justin menanyakan keseriusan dari keduanya.
"Apa benar kalian serius?" tanya Ayah Justin dan Justin menatap Rossi yang sedang menatapnya.
"Om, Rossi boleh berkata jujur?" tanya Rossi dan Ayah Justin pun mengangguk.
Sebelum melanjutkan apa yang akan dikatakan, Rossi menatap Justin lebih dulu membuat Justin mengira kalau Rossi akan mengatakan kalau sebenarnya Justin hanya pelariannya.
"Kami saling mengenal dari SMP dan saat itu Justin menyatakan cintanya, waktu itu Rossi tau kalau itu adalah cinta monyet, tetapi, berbeda dengan sekarang, kami sudah sama-sama dewasa dan Rossi yakin kalau Justin yang sekarang bukanlah Justin yang suka bermain perempuan dan itu yang membuat Rossi suka, Justin mau berubah menjadi lebih baik," ujar Rossi dan Justin merasa sedikit meleleh saat Rossi mengatakan itu. Lalu, Justin menggenggam tangan Rossi yang ada di bawah meja.
Keduanya saling menatap dan mengangguk.
Ya, Rossi merasa lebih baik dengan Justin dari pada harus mengejar Darren yang sama sekali tidak mengerti perasaan.
Justin pun bertanya, "Untuk?"
"Karena kamu telah menyadarkanku," jawab Rossi.
Justin menjawab dengan mengangguk dan Justin yang semakin menyukai Rossi itu ingin menciumnya, tetapi itu tidak terjadi karena ada ayah Justin yang memperhatikan.
"Kalau begitu, lebih baik kalian tetapkan tanggal," kata ayah Justin dan pria yang ber brewok tipis itu juga mengatakan kalau pesta akan diadakan di hotelnya.
Singkat cerita, pria Jepang yang mendengar kalau Rossi akan menikah itu pun menjadi patah hati, ia pulang ke negaranya tanpa pamit pada gadis pujaan hatinya.
Dan sekarang, hari sudah malam, Justin mengantarkan Rossi pulang dan Sarah yang membukakan pintu itu heboh sendiri, ia tidak sabar ingin menyampaikan kabar kalau Darren telah menghamili anak Pak RT.
Rossi yang mendengar kabar itu pun terkekeh, membuat Sarah bertanya-tanya.
"Kenapa, memangnya tidak mungkin Darren menghamili anak orang?" tanya Sarah.
"Tidak mungkin, Mah. Itu tidak akan terjadi, kami mengenalnya dengan baik," jawab Rossi dan Justin yang mendengar itu pun sependapat dengan Rossi.
"Benar apa kata Rossi, Mah. Darren tidak akan melakukan itu sebelum waktunya, mungkin Darren melamar Jeje karena sudah tidak tahan lagi, Mah." Justin membela calon istrinya sekaligus sahabatnya.
__ADS_1
Dan Sarah bukannya menanggapi ucapan Justin, justru ia menanyakan sejak kapan Sarah menjadi Mamahnya dan Justin pun tersenyum.
Pria tampan berwajah oriental itu pun mengatakan kalau sebentar lagi orang tuanya akan datang untuk melamar Rossi.
"Benarkah?" tanya Sarah dan Justin juga Rossi mengiyakan.
"Syukurlah, akhirnya kalian menemukan cinta dan harus kalian jaga cinta itu. Justin jangan sesekali kamu sakiti anak Tante, Tante akan marah besar jika itu terjadi," kata Sarah seraya menatap calon menantunya.
"Justin akan menjaganya dengan baik, Tante."
"Bagus, itu harus," kata Sarah dan karena hari sudah malam, Rossi pun mengusir Justin untuk pulang.
Justin pun menurut dan tanpa Justin tau kalau Jeje sudah menunggu di depan gerbangnya.
Justin yang sedang mengendarai mobilnya itu melihat dan bertanya padanya, "Sudah malam, kenapa masih di luar?"
"Aku mau mengucapkan terima kasih," jawab Jeje dengan polosnya.
"Untuk apa?" tanyanya dan Justin masih ada di mobilnya, ia menatap Jeje yang berdiri di samping pintu mobilnya.
"Karena Mas Justin mengajarkanku untuk agresif, sekarang ada kemajuan atas hubunganku," kata Jeje dan Justin pun ikut senang.
"Tapi, kamu belum hamil kan?" tanya Justin dan Jeje menjawab bagaimana akan hamil kalau Darren begitu sangat pemalu.
"Yang ada juga aku yang hamili dia," kata Jeje dengan terkekeh.
"Ada-ada saja, kamu!" kata Justin dan sekarang Justin mengucapkan selamat dan Jeje memberitahu tanggal pernikahannya yang akan digelar 2 minggu lagi.
"Wah... cepatnya," kata Justin seraya mengangguk.
"Anak itu sudah tidak tahan rupanya, harus aku ledek sampai mampus dia!" kata Justin seraya terkekeh.
Setelah itu, Justin pun pamit dan menyuruh Jeje untuk segera masuk karena hari sudah malam.
"Baiklah, lain kali ajarkanku lagi hal baru," pinta Jeje dan Justin menjawab dengan senang hati.
Semoga lancar sampai hari H.
Selamat untuk dua pasangan yang akan menikah.
Bersambung...
__ADS_1