
"Den, Mamah Aden sudah bangun, selamat, Aden akan berkumpul lagi sama keluarga Aden," kata bibi dengan semangatnya.
Sementara Nara, ia terdiam, sebisa mungkin menyembunyikan rasa kesalnya pada Jeje yang bukannya pergi ke akhirat justru harus kembali ke rumah.
Sekarang, Nara mengatakan pada bibi kalau Ryder akan sarapan dan bibi menatap tak suka pada Nara.
"Ini ibunya loh, ibunya yang ingin melihat putranya, putra yang sudah bertahun-tahun ditunggu," kata bibi, ia menegaskan kata Ibunya untuk mengingatkan Nara kalau Ryder masih memiliki ibu.
Dan Nara tidak menjawab lagi, ia membawa Ryder ke kursinya dan bibi dengan sengaja mengikuti Nara, ia meletakkan ponselnya di meja makan sehingga Jeje dapat melihat Ryder yang begitu menggemaskan.
Di rumah sakit, Jeje terus menatap Ryder dan Jeje hampir menangis untuk itu, kemudian, Jeje mengusap perutnya yang memiliki luka operasi.
Kemudian, Jeje segera menghapus air mata itu. Hatinya berteriak, ingin segera memeluk Ryder.
"Siapa namanya," tanya Jeje dan Darren menjawab, "Ryder, apakah kamu menyukai nama itu?"
Jeje menjawab dengan mengangguk.
"Awalnya, aku takut kamu tidak suka," kata Darren.
Jeje menjawab dengan tersenyum.
Sekarang, Darren menyudahi panggilan video tersebut karena Darren ingin menunjukkan sebuah video untuk Jeje.
Video itu yang Darren rutin buatkan setiap menjenguk Jeje dan Jeje melihat video itu bergantian menatap suaminya.
"Kamu mencintai ku?" tanya Jeje dan Darren terkekeh dengan pertanyaan itu.
"Kalau tidak, untuk apa aku membiayai mu di sini, kamu harus tau kalau biayanya sangat mahal, aku harus rajin mencari uang untuk istri dan anakku!"
Jeje tersenyum dan Darren yang sudah sangat merindukan istrinya itu mengecup bibirnya membuat Jeje terdiam.
Darren pun membawa Jeje ke dekapan.
Lalu, Jeje yang teringat dengan suster bertanya seraya mendongak untuk menatap suaminya, "Siapa yang bersama Ryder?
"Dia suster, selama ini sudah menjaga Ryder dengan baik," jawab Darren, ia tersenyum, lalu, mengecup kening Jeje.
Darren yang sedang merasa bahagia sama sekali tidak mau beranjak, ia terlalu menempel pada istrinya. Lalu, Jeje mengingatkan kalau Ryder membutuhkannya dan meminta Darren untuk tidak melupakannya.
"Dia sudah ada yang menjaga, seraya menunggu kita pulang," jawab Darren.
"Kalau begitu, kamu bisa membawanya kesini," kata Jeje.
Tanpa menjawab, Darren bangun dari duduk, ia mengambil kunci mobil yang ada di nakas.
"Tunggu aku!" kata Darren seraya menatap Jeje dan Jeje mengiyakan.
__ADS_1
Setelah kepergian Darren, Jeje memikirkan suster Nara.
"Lalu, untuk apa kemarin malam dia ke sini, aku kira wanita itu pacar Mas Darren," kata Jeje seraya merubah posisinya untuk berbaring.
Tidak lama kemudian, datang suster yang akan memeriksa keadaan Jeje. Suster tersebut menanyakan keadaan Jeje dan Jeje menjawab kalau dirinya baik.
"Apakah sudah mendapatkan jawaban, Bu?" tanya suster.
"Sudah, sus. Aku kira setelah hampir dua tahun tidak bangun, suamiku memiliki yang baru," kata Jeje.
"Sepertinya tidak, Bu. Karena Bapak selalu di sini, sebelum bekerja dan setelah bekerja."
Mendengar itu, Jeje mengangguk ingin melanjutkan rencananya untuk pura-pura hilang ingatan.
"Aku masih sebal sama kamu, Mas. Kenapa waktu itu kamu pergi dan tidak pulang!" kata Jeje dalam hati.
"Sekarang, gantian. Aku harus melihatmu yang mengejarku, supaya kamu tau bagaimana rasanya mengejar!" Jeje masih bicara dalam hati.
Dan Jeje merasa tidak sabar untuk sabar, ia ingin bertemu dengan Ryder.
Jeje yang berbaring itu menatap langit-langit kamarnya, ia masih tidak mengira kalau baru saja ia mengalami koma selama hampir dua tahun.
"Maafkan Mamah, Nak. Mamah terlalu lama ada di sini," kata Jeje dalam hati.
Lalu, Jeje melihat ke arah pintu, Jeje melihat Rossi yang datang dengan membawa parcel buah, terlihat tidak hanya parcel, tetapi, Rossi juga membawa album foto.
Kemudian, Jeje berpikir kalau dirinya menjadi hilang ingatan cukup seru juga dan Jeje pun melakukan itu pada Rossi demi rencananya berjalan lancar.
"Akhirnya, kamu bangun juga, Je," kata Rossi seraya meletakkan parcel tersebut ke nakas.
Jeje tidak menjawab, ia terus menatap Rossi seolah tak mengenalnya.
"Jangan bilang kalau kamu juga melupakanku!" kata Rossi seraya duduk di kursi.
"Kamu siapa?" tanya Jeje dan Rossi pun segera membuka album foto keluarga yang ia punya.
"Untung aku bawa ini," kata Rossi, kemudian, Rossi menunjukkan foto-fotonya bersama dan Rossi juga mengenalkan Sarah pada Jeje.
"Ini aku," tunjuk Rossi pada fotonya sendiri yang berdiri di samping Sarah, terlihat itu adalah foto pernikahan Sarah dan Pak Somat.
"Iya, aku tau itu kamu," kata Jeje dan Rossi menatapnya datar.
Mendapatkan tatapan itu, Jeje pun tersenyum.
"Berarti sudah tau kalau aku ini siapamu?" tanya Rossi.
Jeje menjawab dengan menggeleng.
__ADS_1
"Aku ini kakak tiri kamu, baik-baik kamu sama aku!" kata Rossi dan Jeje terkekeh dalam hati, ia merasa senang juga setelah mengerjai Rossi.
Kemudian karena belum jam besuk, suster yang berjaga mengingatkan itu pada Rossi.
"Baiklah, aku akan menjemput Gala, cepat sehat supaya kita bisa kumpul lagi!" kata Rossi dan Jeje menjawab dengan mengangguk.
****
Di rumah, Darren sedang meminta pada suster untuk cepat. "Cepat, sus. Ryder harus bertemu dengan Ibunya!" kata Darren yang berdiri di pintu kamar Ryder.
"Iya, Pak." Nara yang sedang menyiapkan barang Ryder menjawab dengan tanpa melihat Darren.
Sekarang, Ryder yang sudah tampan itu berjalan ke arah Darren, ia meminta gendong padanya dan Darren pun segera menggendongnya.
Setelah itu, Darren menunggu di lantai bawah.
"Jangan lama-lama, sus! Ryder tunggu di bawah!" kata Darren.
Suster tidak menjawab, ia melihat Darren sudah tidak berdiri di depan pintu lagi.
"Yang akan bertemu dengan istrinya sudah tidak sabar!" kata Nara seraya menggendong tas gendongnya yang berisi barang-barang Ryder.
Sekarang, Nara sudah ada di lantai bawah dan Darren yang menelepon itu segera menyudahinya, ia berjalan keluar dan Nara mengikuti dari belakang.
Jika waktu lalu Nara merasa adalah keluarga bagi Ryder, sekarang, nampak jelas kalau dirinya hanya suster.
Hanya suster, kata-kata itulah yang Nara selalu ingat.
Sekarang, Darren memberikan Ryder pada Nara dan Darren mulai masuk ke mobil, duduk di bangku kemudinya.
"Ada yang tertinggal tidak, sus?" tanya Darren seraya menatap suster dari kaca spion.
"Tidak ada, Pak." Nara menjawab dengan menggeleng.
Janda itu terlihat sangat lemas dan sama sekali tidak memiliki semangat.
****
Sesampainya di rumah sakit, Nara terus mengekor di belakang Darren yang menggendong Ryder. Ia merasa kalau Darren akan semakin jauh untuk digapai.
Sekarang, Darren, Ryder dan Nara sudah ada di ruangan Jeje.
Nara mengangguk pada Jeje yang menatapnya tajam.
"Kalau dia suster, kenapa ingin menghabisi ku?" tanya Jeje dalam hati.
Bersambung.
__ADS_1