
Darren pun menjawab dengan apa adanya, "Darren kira Je sudah sampai, Pak."
"Belum, memangnya kalian tidak berangkat bersama?" tanya Pak Somat dan Darren menggaruk kepala.
"Iya, tau ujungnya nyusul begini tadi berangkat saja," batin Darren.
Darren menggeleng, setelah itu, Darren mencoba menghubungi istrinya dan Jeje yang sedang mengobrol bersama satria itu mengabaikan panggilan suaminya.
"Siapa suruh kamu terlalu cuek, Mas?" tanya Jeje dalam hati.
Dan karena ponselnya terus berdering, Jeje mengubah setelannya menjadi silent.
Satria melihat itu dan mempertanyakannya, "Kenapa? Bukankah dia suamimu?"
"Iya, biarkan saja," jawab Jeje seraya kembali menyimpan ponselnya ke tas selempangnya.
Satria mengangguk dan menduga kalau Jeje sedang ada masalah dengan suaminya.
Sekarang, setelah motornya sudah selesai di perbaiki, Jeje mengucapkan terima kasih dan ia tidak lupa meminta maaf karena sudah menyeruduk mobil Satria.
Satria tidak mempermasalahkannya dan mengingatkan untuk hati-hati pada Jeje. Jeje pun mengiyakan dan sebelum pergi, Jeje mengusap pucuk kepala Gania.
Gania tersenyum dan merasa senang karena siang ini bertemu dengan Jeje, setelah dari bengkel, Gania dan Satria melanjutkan perjalanannya.
Satria terus memikirkan Jeje, kenapa dia bertengkar dengan suaminya.
Apakah Satria benar-benar akan menjadi pebinor demi Gania mendapatkan apa yang ia minta?
"Tidak... tidak, aku tidak boleh berpikiran seperti itu," kata Satria dalam hati, setelah itu.
****
Setelah beberapa menit, sekarang, Jeje sudah sampai di rumah Ayahnya dan Jeje melihat ada mobil Darren.
"Benarkah dia mengejar sampai sini?" tanya Jeje dalam hati.
Ia merasa senang jika membuat Darren kepikiran dan Jeje merasa kalau itu jurus yang manjur.
Jeje disambut oleh suaminya yang segera bertanya, dari mana?"
"Aku kecelakaan tadi, nabrak mobil dan harus ke bengkel lebih dulu," jawab Jeje apa adanya, tetapi, Jeje tidak memberitahu siapa yang telah ia tabrak, Jeje tidak ingin Darren menjadi bawel karena yang Jeje tau, Darren tidak menyukai Ayah Gania.
Mendengar kecelakaan, Darren pun panik, ia masih trauma dengan kecelakaan Jeje lima tahun lalu.
__ADS_1
Darren memutar-mutar tubuh Jeje dan Darren bersyukur karena tiada kurang satu pun dari istrinya.
Darren pun memprotes Jeje, kenapa tidak memberitahu dan Jeje menjawab kalau bisa menyelesaikan masalahnya.
Dan Darren mencubit gemas pipi Jeje.
Setelah itu, Darren dan Jeje bergabung dengan yang lainnya dan Jeje yang melihat Gala sedang memainkan ponsel itu segera merebutnya untuk meledek.
"Anak kecil, jangan kebanyakan main ini," kata Jeje dan Gala menarik nafas.
"Memangnya yang boleh main ponsel hanya orang dewasa saja?" tanya Gala dan ini adalah pertama kali baginya bicara dengan kalimat yang panjang.
Rossi pun merasa senang dan ini patut dirayakan, begitulah pikir Rossi.
Dan benar saja, Rossi memesan pizza untuk semua orang.
Seraya menunggu, Darren dan Justin bermain game online, Rossi dan Jeje bermain bersama Gala.
Pak Somat dan Bu Sarah memperhatikan dari tempatnya duduk. Keduanya merasa bahagia di hari tuanya.
Tidak ada kata sepi diantara keduanya. Setelah hari sudah sore, Darren mengajak Jeje untuk pulang dan Jeje pun mengiyakan.
****
Siang berganti malam dan sekarang, Jeje sedang menatap wajah suaminya yang sudah tertidur.
Melihat pesan itu adalah pesan suara, Jeje pun keluar dari kamar supaya tidak mengejutkan Darren.
"Bu guru, Gania sedang di puncak, di sini sangat seru, andai saja Ibu ikut, kami sedang barbeque, Ayah sangat pandai memasak," kata Gania dengan suara yang imutnya.
Jeje tidak tau harus membalas apa dan Jeje pun akhirnya mengiriminya pesan, "Iya, selamat berlibur."
Setelah itu, Jeje kembali ke kamar dan setelah bertemu cukup lama dengan Satria, Jeje membayangkan seandainya suaminya seperti Satria, mau mengajaknya mengobrol mungkin hidupnya begitu indah.
****
Esok harinya, setelah mengajar, Jeje membuat janji makan siang bersama Arum dan Jeje datang lebih dulu, ia menunggu Arum yang belum membalas pesannya lagi setelah mengatakan akan berangkat.
Lalu, datang Gania yang ternyata juga ada di restoran yang sama, Gania datang bersama dengan Satria.
Satria yang tak ingin mengganggu Jeje pun mengajaknya untuk ke meja lain karena Satria pikir kalau Jeje sedang menunggu suaminya.
Dan karena Arum tak kunjung datang, Jeje tidak keberatan dengan keberadaan Gania dan Satria.
__ADS_1
Siang ini, Gania merasa memiliki keluarga yang utuh, seperti ada Ibu yang menemaninya makan siang dan perhatian dari Jeje semakin membuat Gania menyukainya.
Jeje mengusap sudut bibir Gania yang terkena saus dan dengan latahnya, Satria mengatakan kalau bibirnya juga terkena saus.
Jeje mengatakan untuknya harus mengusapnya sendiri dan Satria pun mengambil tisu, ia mengelap mulutnya sendiri dan sebenarnya, Satria hanya berniat menggoda saja tidak meminta Jeje melakukan itu sungguh-sungguh.
Lalu, karena sedang makan bersama, akhirnya obrolan mereka mengarah ke kehidupan pribadi masing-masing.
Satria bertanya sudah berapa lama Jeje menikah dan Jeje menjawab kalau sudah lima tahun.
Kemudian, sekarang, giliran Jeje yang bertanya, ia menanyakan kepergian Ibu Gania yang meninggal setelah melahirkan.
Jeje pun mengucapkan kata maaf dan Satria dan juga Gania tidak keberatan.
Tanpa Jeje sadari kalau pemandangan itu dilihat oleh Darren yang sedang memesankan makan siang untuk karyawannya.
Dan Darren yang melihat keseruannya itu tak ingin mengganggu, Darren ingin menanyakan di rumah.
Dan siang ini, Darren yang tidak seperti biasanya karena sudah ada di rumah itu menunggu terlalu lama.
Darren gelisah, kenapa istrinya belum pulang dan Darren bangun dari duduk, ia ingin menyusul Jeje dan baru saja Darren membuka pintu utama, Jeje sudah ada di depannya..
"Tumben di rumah, Mas?" tanya Jeje seraya meraih tangan suaminya untuk ia cium.
Dan Darren tidak menjawab pertanyaannya, justru ia bertanya dari mana istrinya.
"Aku habis ngajar, pulang ngajar aku makan siang di restoran," jawab Jeje seraya meminta pintu untuk masuk dan Darren mengikuti langkah kaki istrinya.
"Makan siang dengan siapa?" tanya Darren dan Darren berharap kalau Jeje menjawab dengan jujur.
"Awalnya aku janjian sama Arum, tapi dia tidak datang, lalu, aku bertemu dengan Gania dan Ayahnya tanpa sengaja," jawab Jeje.
"Jauhi mereka, aku tidak suka," kata Darren dan Jeje menatapnya.
"Kenapa kamu tidak suka? Apa salah mereka?" tanya Jeje dan Darren tidak mau dibantah.
"Bagaimana tidak dekat-dekat kalau dia adalah muridku?" tanya Jeje pada Darren dan menjawab, "Berhenti mengajar, fokuskan dirimu pada keluarga!"
"Fokuskan? Fokus yang seperti apa? Bukannya selama ini aku selalu sepi, kamu sibuk dan aku tidak ada teman di rumah, ketika kamu pulang kamu akan sibuk main ponsel, kamu tau betapa kesepiannya aku?" tanya Jeje.
Dan Darren yang merasa tidak ada masalah itu pun menjadi heran dengan sikap Jeje.
Darren mengira kalau Jeje sudah berubah setelah Jeje bertemu dengan Satria.
__ADS_1
Benarkah apa yang Darren pikirkan?
Bersambung.