
Darren menjawab kalau dirinya hanya sedikit pusing dan sekarang, Darren melanjutkan langkahnya.
Ia segera mandi dan setelah itu mulai mencari nama untuk putranya.
Darren duduk dengan terus membuka album lamanya bersama Jeje.
Dari semasa pacaran sampai menikah, Darren berharap dengan melihat Jeje membuatnya mendapatkan nama yang sesuai.
Dan Darren berpikir untuk memberikan nama bayinya Ryder Putra Adhitama.
Terlihat, Darren masih memikirkan nama itu, ia takut kalau Jeje nantinya tidak akan menyukainya.
Lalu, Darren menanyakan nama itu pada Sam. Sekarang, Darren memanggil Viona yang sedang duduk di sofa ruang tengah, mengawasi suster baru dan yang dipanggil pun menoleh.
"Iya, ada apa?"
"Papih dimana, Mi?"
"Di ruang kerja Nenek," jawabnya singkat.
Darren pun mengangguk dan segera menyusul ke ruangan tersebut. Darren mengetuk pintu dan Sam yang sedang bekerja dari rumah itu menyuruhnya untuk masuk.
Darren membuka pintu dan sekarang menutup kembali pintu itu.
"Ada apa?" tanya Sam seraya menatap Darren, Darren memilih duduk lebih dulu di kursi yang tersedia.
Lalu, Darren menatap Sam. "Darren memikirkan sebuah nama, tapi, Darren tidak tau apakah nama itu cocok atau tidak," kata Darren, "Ryder Putra Adhitama," lanjut Darren.
Mendengar itu, Sam mengangguk, ia merasa nama itu cukup bagus dan cucunya akan dipanggil dengan nama Ryder.
Karena Sam juga menyukai nama itu, Darren pun semakin yakin dan sekarang, Darren bangun dari duduk, ia bergegas akan segera mengurus berkasnya.
"Berikan berkas itu sama Papih, biar Dandi yang mengurus dan kamu bisa fokus pada istri dan anakmu," kata Sam seraya bangun dari duduk.
Tetapi, Darren menolak, ia ingin mengerjakan semua tugas seorang ayah untuk bayinya dan Sam merasa bangga padanya.
"Baiklah, lakukan yang dulu tidak pernah Papih lakukan," kata Sam.
Dan setelah mengumpulkan semua berkas, sekarang, Darren pergi ke kecamatan. Ya, pria itu memilih langsung ke kecamatan.
Setelah menyerahkan berkas, sekarang, Darren diminta untuk datang setelah 5 hari kerja dan Darren mengiyakan.
Darren juga mengucapkan terima kasih.
Lalu, Darren yang selalu ingat dengan istrinya itu memilih untuk menjenguknya lebih dulu.
Di ruangan Jeje, Darren mengucapkan salam, ia menyapa Jeje dan tidak lupa mengecup keningnya.
__ADS_1
"Apa kabarmu hari ini, Je?" tanya Darren seraya menatap wajah istrinya.
Tidak ada jawaban membuat Darren tersenyum, kemudian, pria yang tengah duduk di kursi itu memberitahu nama putranya.
"Je, aku sudah menemukan nama untuk bayi kita, dia Ryder, je. Ku harap, kamu suka dengan nama itu," kata Darren, kemudian, Darren mengecup punggung tangan istrinya, "aku minta maaf karena harus menggunakan jasa suster untuk merawat kita, karena aku harus bekerja, Je. Cepat bangun, supaya Ryder dibesarkan oleh Mamahnya," lanjut Darren, pria itu tersenyum, hatinya mendoakan untuk istri yang sangat ia cintai.
Setelah bercerita panjang lebar, sekarang, Darren bangun dari duduk, ia harus ke kantor untuk melihat pekerjaan orang-orangnya.
Setelah itu, Darren kembali ke rumah, ia melihat suster Nara sedang menimang putranya.
Darren pun mendekat untuk menyapa Ryder.
"Halo, Ryder. Papah baru saja bertemu dengan Mamah kamu, dia menitipkan salam rindu untukmu, Nak!" kata Darren seraya menatap wajah bayi mungil itu.
Dan Nara merasa sedikit grogi saat berdekatan dengan Darren, pria tampan yang terlihat keren, wangi dan begitu menyayangi keluarganya.
Seketika, Nara mengidolakan Darren sebagai Ayah dan suami idaman.
Lalu, Nara harus memberikan Ryder pada ayahnya.
"Astaga, dia tampan sekali," puji Nara dalam hati.
Nara terus memperhatikan Darren yang menggendong Ryder, terlihat kalau Darren membawa Ryder ke kamar.
Sekarang, Darren membaringkan bayinya di ayunan, pria itu menatapnya lama,lalu, tersenyum.
****
Dan sebelum keluar dari kamar Ryder, Lovely mencubit gemas pipi bayi tersebut sehingga membuatnya menangis.
"Lovely, jangan!" kata Darren seraya mengambil tangan Lovely untuk menggandengnya keluar dari kamar.
Setelah itu, Nara yang melihat Ryder menangis pun mendekat, ia mulai menimang bayinya.
"Kasian, ade di cubit, ya? Aunty nakal, ya?" tanya Nara seraya menimang.
Melihat Nara yang cekatan, Darren merasa cocok dengannya dan terlihat kalau Ryder juga nyaman dengannya.
Di meja makan, Sam mengatakan kalau dirinya beserta anak dan istrinya akan pulang, Sam juga mengajak Darren untuk ikut tinggal bersamanya, tetapi, Darren menolak.
Darren merasa lebih nyaman di rumah Nenek yang sudah membesarkannya dari kecil.
Sam pun tidak dapat memaksa dan setelah makan malam, Sam beserta lainnya sudah ada di mobil, Lovely melambaikan tangannya pada Darren.
"Kakak, Lovely akan sering datang untuk ajak main adik bayi!" seru Lovely, ia bicara dari kaca mobil yang terbuka.
Darren menjawab dengan senyum, setelah itu, Darren melambaikan tangan pada adiknya.
__ADS_1
Setelah itu, Darren kembali masuk dan Darren melihat Nara yang sedang menunggunya.
"Ada apa?" tanya Darren seraya menatapnya.
"Tisu basah Mas Ryder habis, Pak," jawab Nara dan Darren yang sudah mengetahui keperluan suster pun mengangguk.
Pria berpakaian santai itu pergi meninggalkan Nara yang sekarang sedang memperhatikan Darren belakang, terlihat kalau Darren mengambil ponselnya di saku celana dan Darren menghubungi Mamang.
Mamang yang baru saja mengecek area belakang rumah itu segera mengambil ponselnya yang berdering.
Belum sempat bertanya pada si penelepon, Mamang sudah menjawab siap laksanakan.
Setelah itu, Mamang segera masuk melalui pintu belakang dan berjalan ke arah kamar Darren.
Sekarang, Mamang yang sudah berdiri di depan pintu kamar Darren itu mendapatkan pesan, pesan itu Darren yang mengirim list daftar belanjanya.
Dan Darren yang mendengar suara ponsel Mamang menjadi tau kalau pria bertubuh kurus dan berambut gondrong itu sudah ada di depan.
Darren yang baru saja mengambil uang di brangkas pun segera membuka pintu, ia memberikan uangnya pada Mamang dan Mamang menerimanya.
"Jangan lupa sekalian beli martabak, untuk Mamang dan Bibi," kata Darren.
"Terima kasih, Aden," jawab Mamang, setelah itu, Mamang pun pergi, ia pergi dengan mengendarai motor Jeje.
Menggunakan motor itu, ia menjadi ingat pada pemiliknya. "Non, cepat bangun atuh," kata Mamang dalam hati.
Singkat cerita, setelah mendapatkan belanjaannya, sekarang, Mamang memberikannya pada Nara dan Nara mengucapkan terima kasih.
****
Esok paginya, Darren yang membuka tirai kamar itu melihat kalau Ryder sedang berjemur bersama suster.
Melihat itu, Darren pun menjadi tidak sabar untuk segera menemui bayinya, ia berjalan cepat keluar dari kamar.
Dan ternyata, kedatangan Darren membuat suster terkejut.
"Jangan melamun!" kata Darren dan Nara pun meminta maaf.
Setelah itu, Darren menyapa bayinya yang ada di keranjang, "Halo anak tampannya Papah."
Mendengar sapaan itu, membuat Nara ingin menjawab dan ia hanya bisa menjawabnya dalam hati. "Halo juga Papah, semalam aku tidur dengan nyenyak."
Dan Darren yang baru saja menyapa itu bertanya, "Semalam rewel tidak, sus?"
"Tidak, Pak," jawab Nara.
Darren yang masih memperhatikan Ryder itu meminta pada Nara untuk bersiap, Darren ingin membawa Ryder untuk menjenguk Ibunya, berharap dengan kedatangan Ryder membuat Jeje akan segera membuka mata.
__ADS_1
Benarkah seperti itu?
Bersambung.