
Singkat cerita, Darren juga bayinya sudah ada di ruangan Jeje, Darren menggendong Ryder dan mendekatkan keduanya.
"Lihat, Je. Dia sangat mirip denganmu, bukalah matamu, kamu pasti ingin bertemu dengannya, kan?" tanya Darren.
Dan Darren mengecup pipi bayinya, membuat Ryder yang sedang tidur menjadi bangun, seolah membangunkan ibunya, Ryder menangis sekarang juga.
Tetapi, tidak terjadi apapun karena nyatanya, Jeje masih memilih untuk menutup matanya.
Melihat bayinya yang menangis membuat Darren sedikit gugup dan Darren memberikan bayi itu pada suster yang selalu ada di dekatnya.
Suster berhasil menenangkan Ryder.
****
Hari-hari Darren lalui dengan tidak pernah berhenti berharap untuk Jeje supaya segera membuka matanya.
Hingga satu tahun pun telah berlalu dan sudah dapat kita duga kalau Ryder yang diasuh oleh Nara itu menjadi sangat lengket dan itu membuat Nara semakin merasa dekat juga pada Darren walau kenyataannya, Darren hanya menganggap Nara sebagai pengasuh.
Sekarang, Rossi mengadakan acara makan malam dan acara itu diadakan di rumah Pak Somat.
Tentu saja, ini menjadi acara kumpul keluarga yang artinya Darren dan juga Ryder ada di sana.
Rossi yang sedang menyiapkan minuman dingin di dapur itu tanpa sengaja melihat Nara, Nara yang sedang berdiri dengan menggendong Ryder, ia memperhatikan Darren yang sedang bermain dengan Gala di sofa ruang tengah.
Sekarang, Darren meminta Ryder dari gendongan Nara dan Ryder yang begitu lengket dengan susternya itu menolak.
Nara tersenyum dan membujuk Ryder supaya mau ikut bersama dengan Papahnya.
Dan sekarang, Ryder pun untuk turun dari gendongan Nara.
Melihat itu, Rossi berpikir kalau Nara menyukai Darren.
"Tidak dapat dibiarkan!" kata Rossi seraya mengangkat nampan gelas dan mulai membawanya ke ruang tengah.
Sekarang, Pak Somat dan Bu Sarah datang, terlihat kalau keduanya membawa buah-buahan.
"Pak, kenapa tidak bilang, kalau bilang biar Justin yang belikan," kata Justin seraya meminta barang bawaan Pak Somat.
"Tidak apa-apa, Bapak sekalian pulang menjemput Mama kamu," jawab Pak Somat.
Lalu, pandangan Pak Somat segera beralih pada cucunya yang sekarang kabarnya sudah dapat berjalan.
"Cucu Kakek kumpul semua di sini," kata Pak Somat yang merasa senang dan tentu saja kurang lengkap dengan dengan adanya Jeje yang masih belum membuka mata.
Karena suster sedang menganggur, Rossi pun memanggilnya untuk ikut ke dapur.
__ADS_1
"Baik, Bu." Suster mulai mengikuti langkah Rossi.
Di dapur, Rossi meminta pada suster untuk membantunya menyiapkan makanan di meja makan.
Sebelum itu, Rossi menahan tangan suster dan suster itu pun menatap Rossi, ia menatap penuh dengan tanya.
"Maaf, ada apa, ya, Bu?" tanya Nara.
"Kamu sudah berkeluarga?" tanya Rossi seraya melepaskan tangan Nara.
"Dulu pernah, Bu." Nara menjawab dan sekarang, Nara mengangkat mangkuk sayur, wanita yang mengenakan seragam biru putih itu membawanya ke meja makan.
Sementara Rossi, ia masih memahami jawaban yang didapat.
"Dulu pernah, berarti, sekarang, dia janda?" tanyanya pada diri sendiri.
Lalu, Rossi kembali bertanya pada Nara yang kembali ke dapur untuk mengambil mangkuk nasi.
"Kamu janda? Kenapa jadi janda, aku lihat, kamu tidak terlalu jelek," kata Rossi seraya memperhatikan Nara.
Mendengar itu, Nara merasa sakit, ia menatap Rossi dengan tersenyum tipis yang dipaksakan.
"Memangnya kenapa, Bu? Lagi pula, itu urusan pribadi saya," kata Nara, mendengar itu, Rossi merasa kalau dirinya sudah salah bertanya.
Rossi pun tidak bertanya lebih jauh lagi.
****
Di jalan, Darren melihat Nara yang terdiam dan Darren bertanya, "Kenapa, sus? Ada masalah dengan Ryder?"
Suster yang duduk di bangku belakang itu menatap Darren dari kaca spion, ia menjawab, "Tidak, Pak."
Dan Darren tidak bertanya lagi, selagi tidak ada masalah dengan putranya, ia tidak ingin mengurusi urusan pribadi Nara.
Dan setibanya di rumah, Darren hanya mengantarkan Ryder dan Nara saja, karena Darren harus ke rumah sakit untuk menjenguk istrinya.
Nara yang menggendong Ryder itu segera membawanya ke kamar, ia meletakkan Ryder yang tertidur di ranjangnya.
Setelah itu, Nara yang merasa lapar segera turun, ia memasak mie instan.
Masih teringat dengan ucapan Rossi membuat Nara terdiam sampai ia tidak melihat air dalam panci itu hampir habis.
Lalu, datang bibi yang ingin mengambil air minum dan bibi melihat itu, bibi pun mengingatkan Nara.
"Sus, airnya sudah habis."
__ADS_1
Dan Nara yang melamun di dekat kompor itu segera mematikan kompor sebelum panci itu hangus.
"Maaf, bi. Nara lupa," kata Nara seraya menatap bibi.
"Makanya, jangan melamun!" kata bibi yang sedang mengambil air di dispenser.
Dan sebenarnya, bibi kurang menyukai Nara yang kedapatan sering memperhatikan Darren.
Sekarang, bibi kembali ke kamarnya meninggalkan Nara yang melihat kepergian bibi.
"Kenapa banyak yang tidak menyukaiku, padahal, aku tidak mengusik mereka," kata Nara dan sekarang, Nara melanjutkan memasak mienya.
****
Sekarang, Nara sudah kembali ke kamar dan menemani Ryder tidur.
Nara menatapnya sedikit lama.
"Kenapa Mamah kamu tidak mau membuka mata?" tanya Nara dan Ryder yang mendengar suaranya itu menjadi bergerak, ia merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.
Esok harinya, Nara meminta libur dan Darren mengizinkannya, Nara ingin pulang ke rumah ibunya dan sebelum itu, Nara ke rumah sakit lebih dulu untuk menjenguk Jeje.
Nara menatapnya dan bertanya, "Bu, apakah kamu akan bangun?"
"Astaga, apa yang ku tanyakan," kata Nara dalam hati, setelah itu, Nara pergi dari ruangan Jeje.
Di perjalanan, Nara berpikir kalau Jeje bangun maka dirinya semakin tidak akan memiliki kesempatan untuk masuk ke kehidupan Darren.
Sementara itu, Ryder sedang menangis, pria kecil itu mencari-cari Nara dan Darren yang tidak berhasil membujuknya itu meminta pada bibi untuk membantunya menenangkan Ryder dan bukannya tenang, justru Ryder semakin menangis.
"Dak auu, Yder au suster," tangis Ryder dengan menggunakan bahasa balitanya.
Untuk menenangkannya, sekarang, Darren mengajak Ryder untuk ke rumah Sam, di sana, Ryder bisa bermain dengan Lovely, begitulah pikir Darren.
Namun, kenyataannya, Lovely sedang belajar kelompok dan Darren yang melihat putranya masih menangis itu membawanya ke rumah sakit untuk bertemu dengan Jeje.
Setibanya di sana, Ryder yang ada di gendongan Darren itu menatap Jeje, ia memanggilnya dengan sebutan Mama, tetapi, yang Ryder tau adalah Nara sebagai ibunya.
Tetapi, Ryder berhenti menangis setelah melihat Jeje yang masih lengkap dengan alat-alat medisnya.
"Mamah, cepat bangun, Ryder menunggu Mamah," kata Darren seraya menatap Jeje bergantian menatap Ryder.
Dan Ryder yang terdiam itu terus menatap Jeje.
Lalu, Darren mengambil tangan Ryder, ia membawanya untuk mengusap wajah Jeje, tetapi, Ryder kembali menarik tangannya, ia menempel begitu eratnya dengan melingkarkan tangannya di leher Darren.
__ADS_1
Darren menghela nafas dan bersambung.
Je, bangun, Je. Kamu sudah ditunggu sama Ryder.