MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN

MENGEJAR CINTA MAS-MAS DINGIN
Menggoda Tapi Takut


__ADS_3

Dan Jeje yang sebelumnya inginkan adegan romantis itu tiba-tiba menjadi takut, takut Darren akan lepas kendali.


Sekarang, Darren mengangkat dagu Jeje, ia bersiap untuk menciumnya dan tiba-tiba saja Darren seperti mendengar suara Sarifah yang mengatakan kalau keduanya belum halal untuk melakukan itu.


Jeje yang memejamkan mata dan sedang menunggu Darren mengecupnya itu pun membuka mata dan Jeje melihat kalau Darren masih menatapnya.


"Belum sah!" kata Darren dan Darren sendiri merasa tidak tahan lagi, apalagi dengan sikap agresif Jeje.


Lalu, Jeje menarik nafas dan mengatakan kalau dirinya ingin pulang.


Dan Darren masih belum mau melepaskannya, sekarang, Darren mengecup kening calon istrinya dan Jeje berharap kalau adegan romantis itu akan dilengkapi dengan kata manis atau kata sayang dari calon suaminya.


Kenyataannya tidak seperti itu, setelah mengecup keningnya, sekarang, Darren menyuruh sopir untuk mengantarkannya.


"Aku banyak kerjaan, nanti malam aku datang ke rumahmu," kata Darren dan Jeje pun mengangguk.


****


Sepanjang pekerjaannya, Darren selalu memikirkan Jeje dan Darren merasa frustasi.


"Astaga, anak kecil itu!" geram Darren dan sekarang, Darren harus ke kamar mandi melepaskan yang sedari tadi meronta.


Darren merasa kalau dirinya tidak harus seperti itu, tetapi mau bagaimana jika Jeje selalu memancingnya.


Lalu, Darren yang merasa sudah lega itu menghubungi Justin.


"Halo, kamu di mana?" tanya Darren.


"Di hotel," jawab Justin dan Darren pun segera memutuskan sambungan teleponnya.


"Kebiasaan, nih, anak!" gerutu Justin dan sekarang Justin melanjutkan pekerjaannya.


Tidak lama kemudian, Darren sudah ada di ruangannya dan Darren merasa bingung untuk memulai obrolan dari mana.


Lalu, Justin yang penasaran dengan tujuan Darren itu bertanya, "Ada apa?"


"Just, kalau perempuan terlalu agresif itu, kita harus bagaimana?" tanya Darren dengan polosnya dan itu membuat Justin tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa, Jeje minta ciuman?" tanya Justin dan Darren menatapnya.


"Begini, aku tau kamu bukan orang yang bebas, tapi, dari pada itu mengganggu, sedangkan kalian saling suka, kenapa tidak menikah saja?" usul Justin dan Darren mengiyakan.

__ADS_1


"Terus, kenapa belum kamu lamar?" tanya Justin dan Darren mengatakan kalau sudah melamar dan Pak Somat meminta untuk menunggu.


"Mungkin Pak Somat meragukanmu," jawab Justin dan Darren merasa tidak ada yang perlu diragukan.


"Kalau begitu, bilang sana sama calon mertuamu!"


"Bilang apa?" tanya Darren, ia tidak mengerti maksud dari sahabatnya.


"Aku lagi pusing dan kamu minta aku pukul, ya?" tanya Justin seraya menatap Darren yang duduk di sofa panjang yang tersedia.


"Astaga, aku tanya serius dan kamu marah-marah," kata Darren seraya bangun dari duduk.


Darren keluar dari ruangannya dan Darren berpikir kalau Justin menyuruhnya untuk mengatakan pada Pak Somat kalau dirinya sudah ingin menikah.


Dan benar saja, sore ini, Darren datang lebih awal dan Darren melihat Jeje sedang tidur di sofa ruang tengah.


"Ternyata, hobinya tidur," gumam Darren dalam hati.


Lalu, Darren membangunkannya dan Jeje tak mengira kalau Darren sudah datang.


"Ada kabar baik," kata Darren pada Jeje.


"Apa itu?" tanya Jeje seraya merubah posisinya menjadi duduk.


Jeje bertanya, "Apa?"


"Aku mau melamarmu," kata Darren dan Pak Somat yang baru kembali dari membeli kopi itu melihatnya.


Ia berdiri di pintu ruang tengah dan berdeham membuat Darren dan Jeje segera melihatnya.


Pak Somat pun meminta pada Darren untuk duduk dan ia menyuguhkan kopi instan untuknya.


"Terima kasih, Pak," kata Darren.


Dan Pak Somat sudah tidak basa-basi lagi, ia segera ke intinya. "Bukankah saya sudah mengatakan untuk kalian menunggu, setidaknya sampai Je lulus kuliah," kata Pak Somat dan Darren menarik nafas, walau hatinya berdegup cukup kencang saat berbicara serius dengan calon mertuanya itu, ia tetap harus menyampaikan niat baiknya.


"Begini, Pak. Bukan saya tidak mau menurut, tetapi, Je tetap kuliah walau sudah menikah, saya mengizinkannya dan saya akan bertanggung jawab untuknya," jawab Darren.


Dan jawaban Darren itu membuat Jeje semakin menyukainya dan sekarang, Jeje semakin yakin kalau Darren juga mencintainya, bukan hanya bertepuk sebelah tangan.


"Setelah menikah, seorang wanita akan hamil, lalu, melahirkan. Apakah setelah itu Je dapat mengejar mimpinya untuk menjadi guru tk?" tanya Pak Somat.

__ADS_1


"Ayah, kalaupun Je tidak menjadi guru tk, Je tidak apa-apa, Je akan menjadi guru untuk anak Je nanti," kata Jeje, ia berusaha meyakinkan Ayahnya dan Pak Somat menatapnya datar.


"Ayah takut Darren bukan pria yang tepat untukmu, Nak!" kata Pak Somat dalam hati.


Dan Darren yang mendengar itu berpikir keras supaya Pak Somat segera merestuinya. "Sebenarnya, ada yang lebih penting lagi, Pak."


"Apa itu?" tanya Pak Somat.


"Kami sudah tidak dapat menunggu, Pak. Kami takut kebablasan," kata Darren.


Mendengar itu, Pak Somat merasa kalau telah kecolongan dan ini adalah modus Darren untuk menutupi ulahnya.


Pak Somat pun bangun dari duduknya, ia berkacak pinggang, lalu, menunjuk calon menantunya.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku?" geram Pak Somat.


Seketika, Darren menjadi sangat gugup, ia sadar kalau Pak Somat telah salah paham dengan ucapannya.


"Sudah ku duga, kamu bukan calon menantu yang baik, buktinya, kamu sudah menyentuh anakku sebelum waktunya!"


"Bukan... bukan seperti itu, Pak. Kami belum melakukan apapun," ujar Darren yang berusaha menjelaskan.


Dan Jeje yang melihat Ayahnya sudah keluar tanduk itu pun bangun dari duduk, ia memenangkannya.


"Ayah, sabar dulu. Dengarkan Mas Darren, Mas Darren bukan pria seperti itu, Je mengenalnya dengan baik," kata Jeje seraya kembali mengajaknya duduk.


Dalam hati, Jeje merasa tidak enak pada Darren yang sudah mau menutupi ulahnya dengan tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Ayah, sebenarnya Jeje yang selalu membuat Mas Darren pusing," kata Jeje dalam hati. Ya, Jeje hanya bisa mengatakan itu dalam hati. Jeje berpikir kalau Darren sudah menutupi ulahnya, lalu, kenapa dirinya harus membuka kartu, itulah yang Je pikirkan.


Setelah Pak Somat sedikit tenang, sekarang, Darren melanjutkan untuk meyakinkan calon mertuanya.


"Kami saling suka, Pak. Tidak baik menunggu lama, takut terjadi sesuatu yang di luar kendali," ujar Darren seraya menatap Jeje dan Jeje tersenyum padanya.


Jeje merasa kalau keagresifannya itu membuatnya semakin dekat dengan Darren dan Jeje akan mengucapkan terima kasih pada Justin.


Mendengar itu, Pak Somat pun berpikir hal yang sama, ia takut kalau Jeje dan Darren akan melakukan hal yang tidak-tidak di belakangnya.


Lalu, Pak Somat pun mengangguk.


"Kalau begitu, datanglah bersama Ayah kamu, kita harus tetapkan tanggalnya," kata Pak Somat dan Darren mengucapkan kata 'Alhamdulillah'.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2