Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 10


__ADS_3

Seketika ada perasaan takut kehilangan,Tari takut suaminya itu pergi meninggalkannya seperti yang Rita ceritakan.


Tiba-tiba Tari mengingat percakapannya dengan Mira tadi pagi yang menginginkan suaminya itu,walau Tari mengganggap Mira bercanda tapi kali ini Tari kepikiran.


Takut ucapan Mira tidak main-main,kini ada perasaan was-was.


kenapa ini? apakah Tari mulai mencintai Andra?atau Tari takut kehilangan Andra sebagai sahabatnya?


"Fokus Tar,kenapa kamu buang telurnya? malah kulit nya yang di masukin mangkuk." ucap Mira


"Astagfirullah." Tari kaget kala melihat beberapa kulit telur di mangkuk dan isinya di tempat sampah.


"Loe mikirin apa Tari?" selidik Mira.


"Enggak kok, gak mikirin apa-apa" elak Tari.


"Ya sudah kita lanjutin, biar cepat beres" ajak Mira.


Tari mengangguk tanpa jawaban,mereka mengerjakan tugasnya dengan cekatan.


Tak terasa waktu sudah pukul 18.30, pekerjaan mereka pun kini sudah selesai.


semua karyawan bersiap untuk pulang.


Tari menelpon Andra suaminya untuk memberitahukan bahwa ia akan segera pulang.


"Assalamualaikum Tar." jawab Andra di sebrang sana


"Waalaikumsalam, Dra gue udah selesai." jawab Tari.


"Oke gue otw sekarang" ucap Andra


Tari menutup teleponnya, ia berniat menunaikan sholat magrib terlebih dahulu sembari menunggu Andra di perjalanan untuk menjemputnya.


"Hai Andra ya? suami Tari kan?" sapa Mira tersenyum lebar.


Andra membalas senyuman Mira "ah iya,Tari nya kemana?" tanya Andra.


"Tari masih di mushola, tungguin aja bentar lagi selesai kok. Aku temenin yah." tawar Mira dengan antusias.


"Gak usah, aku udah selesai kok." tiba-tiba Tari muncul dari arah belakang mereka.


Selesai sholat magrib Tari buru-buru melipat mukena dan bersiap untuk menuju ke area parkiran toko, Mira tidak ingin Andra terlalu lama menunggunya.


Bolak-balik dia menjemput Tari kasian juga kalau harus lama lagi menunggunya, lagi pula Tari sudah sangat lelah ingin segera merebahkan diri di tempat tidur.


Namun pada saat Tari berjalan tiba-tiba melihat Mira, dari kejauhan ia sudah senyum-senyum sendiri lalu ia menghampiri seseorang di parkiran sana.


Tanpa dia sadar Tari berjalan di belakangnya, bukan maksud Tari untuk membuntuti dia tapi memang Tari juga akan ke arah parkiran untuk menunggu Andra.

__ADS_1


Tidak Tari sangka ternyata seseorang yang Mira hampiri itu adalah Andra, terlihat betapa genitnya dia saat mengajak ngobrol Andra sepertinya obrolan dia tadi pagi tidak main-main.


Kenapa bisa Mira seperti itu? padahal Tari temannya dia?


Yah walaupun Mira tau Tari dan Andra suami istri tidak jelas, tapi tidak perlu lah dia seperti itu, memang nya tidak ada laki-laki lain?


Entah kenapa hati Tari terasa panas melihat mereka bercengkrama, walaupun Andra tidak merespon kegenitan Mira tetap saja hati Tari panas.


Apa ini yang namanya cemburu? entahlah Tari tidak peduli, yang jelas Tari harus memberi Mira pelajaran.


Tari meraih tangan Andra dan menyalaminya.


"Ayo dra kita pulang" ajak Tari lalu ia menumpangi jok belakang motor yang di tumpangi Andra.


"Mir gue duluan yah" pamit Tari tersenyum sinis sambil melingkarkan tangannya di perutnya Andra Tari memeluk Andra untuk pertama kalinya, ia memberanikan diri memeluk suaminya itu untuk memanas manasi Mira teman nya.


"Ah iya Tar, silahkan." ucap Mira tersenyum lebar dan senyuman itu menghilang pada saat motor yang di kemudi Andra melaju.


"Dasar munafik." gumamnya.


Diperjalanan Andra begitu bahagia melihat tangan Tari masih melingkar di perutnya,pertama kalinya ia di peluk istrinya sendiri seperti ini.


"Ngobrol apa tadi sama Mira?" tanya Tari membuka pembicaraan.


"Cuma nanyain loe aja." jawab Andra.


"Astagfirullah Tar, suudzon loe yah sama gue." ucap Andra.


"Ya kali aja, tadi pagi loe nyuruh gue jaga jarak sama Mira.


sengaja kan biar loe bisa bebas Deket sama Mira?" seloroh Tari.


Andra heran dengan sikap istrinya itu,kenapa dia? apa mungkin dia cemburu gara-gara temannya mengajak Andra ngobrol?


"Loe cemburu Tar?" tanya Andra.


Deg, jantung Tari berdetak lebih cepat mendengar kata cemburu, apa iya iya cemburu? apa ia sudah mulai mencintai suaminya?


"Loe udah mulai cinta kan sama gue?" tanya Andra lagi.


"Apa sih loe? mulai ngaco deh,siapa juga yang cinta sama loe?" ucap Tari.


"Terus kenapa loe meluk-meluk gue?" tanya Andra melihat tangan Tari masih melingkar di perutnya.


Sontak Tari langsung melepas pelukannya "gak sengaja gue, minta maaf." ucap Tari berbohong.


"ah elu don" (sambil menirukan gaya bicara Indro Warkop DKI)


Tidak ingin berdebat terlalu panjang Andra mengalihkan pembahasan "Udah makan belum? makan dulu yuk?" ajaknya.

__ADS_1


"Belum lah, mana sempet gue makan kerjaan seabreg gitu." jawab Tari.


"Mau makan apa? sate mau?" tanya Andra dengan lembut.


"Boleh deh, tapi makan di rumah aja yah, masih ada nasi kan di rumah?" ajak Tari.


"Ada, cukuplah buat sekali makan mah." ucap Andra.


Tiba di kedai sate.


"Bang sate nya 30 tusuk yah." pesan Andra.


"Siap mas." ucap Abang tukang sate.


Tari dan Andra duduk di bangku yang di sediakan di kedai sate itu menunggu sate pesanannya, mereka melihat seorang ibu Muda sepertinya umurnya tak jauh dari Tari sedang kerepotan dengan dua anaknya.


Ibu itu memangku anak bayi laki-laki berumur sekitar 6 bulan, tangan sedang aktif merebut sendok sang ibu yang sedang menyuapi kakaknya yang kira-kira umur 3 tahunan.


Sang adik penasaran ingin meraih sendok itu, sementara sang kakak terus meminta di suapi.


"Diem dulu dek, ibu nyuapin kakak dulu. Adek diem yah." pinta sang ibu.


Si bayi gembul itu menangis kala sendok yang ibunya pegang tidak dapat di raih.


Tari merasa kasihan melihat si ibu itu kerepotan, Tari berinisiatif untuk mengambil alih si bayi gembul itu.


"Maaf mbak boleh saya gendong adek nya? sepertinya mbak kerepotan." pinta Tari.


"Gak usah mbak, nanti mbak repot." tolak ibu muda itu dengan halus.


"Gak repot kok mbak, kebetulan saya lagi menunggu pesanan saya selesai." jelas Tari.


Dengan sumringah ibu muda itu memberikan anaknya pada Tari "Maaf yah mbak jadi ngerepotin." ucapnya tak enak.


Tari mengambil alih bayi gembul itu, di pangkunya sang bayi yang sedang menangis, seketika bayi itu terdiam kala Tari menggendongnya.


"Anak pinter." ucap Tari senang melihat bayi itu terdiam.


Rupanya sang bayi nyaman berada dalam pangkuan Tari, bayi gembul itu tertawa khas bayi kala Tari mengajak dia main.


Hati Andra menghangat melihat Tari menggendong bayi, ia membayangkan bayi itu adalah anak mereka.


"Mau dong yang gemoy gini." bisik Andra.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2