Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 38


__ADS_3

"Mas ayo! keburu siang nih." teriak Tari


Ia sedang berada di teras rumah yang akan olahraga pagi, sudah siap dengan setelan olahraga ala ibu hamil. Kaos lengan pendek longgar berwarna putih dan legging khusus untuk ibu hamil warna hitam, rambut panjangnya ia kuncir kuda agar tidak menghalangi aktivitas olahraganya, tak lupa ia membawa tas berukuran kecil untuk menyimpan ponsel dan beberapa uang lembar.


"Ayo lest go!" ajak Andra.


Andra memakai Kaos lengan pendek warna putih dan celana jogger training sebatas lutut warna hitam, tidak lupa ia memakai sepatu sportnya.


"Mas sudah pake sepatu nya." Tari yang sedari tadi kesusahan membungkuk untuk memakai sepatu karena perutnya sudah membesar.


Dengan sigap Andra berjongkok di hadapan Tari, ia memakaikan istrinya sepatu.


"Udah siap, yuk berangkat!" ajak Andra.


"Ayo mas." ucap Tari.


Mereka berencana untuk mengelilingi taman yang ada di komplek, biasanya di pagi hari banyak orang yang sedang berolahraga. Ada yang joging, ada juga kelompok ibu-ibu yang sedang senam.


Berhubung Tari sedang hamil jadi mereka hanya jalan-jalan santai saja dan Andra sesekali lari kecil.


Jarak dari rumah mereka ke taman komplek lumayan cukup jauh, sehingga ketika sampai di taman Tari cukup kelelahan.


"Haduh mas cape banget." keluh Tari ngos-ngosan.


"Ya udah istirahat dulu, duduk sini." titah Andra mengajak Tari duduk di kursi taman.


"Mas aku lupa gak bawa botol minum, aku haus." ucap Tari.


"Ya udah mas beli dulu, eh tapi mas lupa gak bawa uang hehehe." ucap Andra menunjukan deretan giginya.


Tari membuka tas kecilnya lalu mengambil uang lembar berwarna biru dan memberikan nya pada Andra dan Andra mengambilnya.


Andra berlari kecil menuju kios minuman, ia membeli satu botol air mineral Tari dan dirinya. Sengaja ia membeli satu agar tidak repot memegangnya.


Andra membuka tutup botol air mineral itu lalu menyodorkan nya pada Tari.


"Nih minum dulu!" titah Andra lalu Tari mengambil dan meminumnya.


Mereka sedang duduk berdua di kursi panjang yang terbuat dari tembok.


"Permisi mas, mbak numpang duduk ya." ucap wanita paruh baya kira-kira seusia dengan ibu nya Tari.


"Boleh Bu silahkan." ucap Tari dan Andra ramah.


Si ibu itu melihat ke arah perut Tari, lalu ia mengusapnya.


"Berapa bulan mbak?" tanya wanita tua itu.


"Jalan tujuh bulan Bu." jawab Tari


"Wah tapi gak keliatan yah? perutnya keliatan kecil, anak pertama ya?" tanya si ibu itu.


"Iya Bu anak pertama." jawab Tari.


"Oh pantesan, kayaknya ini laki-laki deh soalnya kecil." tebak si ibu itu.


"Emang gitu ya Bu?" tanya Tari penasaran.


"Iya, biasanya kalo laki-laki perutnya suka mancung ke depan, kalo perempuan lebar ke pinggir. Gitu sih pengalaman saya." jawab ibu.

__ADS_1


"Oh gitu."


"Oh iya mbak saya kasih tau, kalo kehamilan sudah menginjak trimester ke tiga harus sering di tengok bapaknya apalagi pas udah sembilan bulan." ucap si ibu itu.


"Di tengok? maksudnya?" tanya Tari polos.


"Itu loh mbak, anu-anu. Masa gak ngerti sih?" ucap si ibu sambil menyatukan kedua telunjuknya πŸ‘‰πŸ‘ˆ


"Oh, emang kenapa harus di tengok Bu?" tanya Tari sama sekali tak mengerti karena ibunya tidak pernah membahas itu.


"Biar si dedeknya cepat menemukan jalan lahir, makanya bapaknya harus rajin ngasih jalan. Ya mas?" ucap si ibu itu terkekeh sambil matanya beralih menatap Andra.


"Ah ibu ini ada-ada aja." ucap Andra terkekeh.


"Eh beneran loh mbak, mas. Ini pengalaman anak saya, waktu hamil anak pertama pas sudah hpl nya anaknya belum lahir juga, terus dokternya menyarankan untuk HB sama suaminya. Eh bener siangnya mereka nganu sore nya langsung lahiran, padahal dari pagi sampai siang belum ada pembukaan." jelas si ibu itu.


"Waw ajaib juga ya Bu hahahaha." ucap Andra tertawa.


"Iya, makanya kalian harus rajin biar gak telat lahirnya." saran si ibu itu.


"Iya bu, makasih atas saranya ya Bu." ucap Tari.


"Sama-sama mbak, saya doain semoga proses persalinannya lancar, ibu sama dedek nya sehat ayah nya juga harus sehat." ucap sang ibu dan di Amini oleh Andra dan Tari.


"Bu kami duluan yah, mau keliling dulu." pamit Andra sambil menuntun Tari berjalan.


"Oh iya silahkan silahkan."


Mereka mulai melakukan olahraganya, dengan berjalan santai mengitari taman komplek.


"Oh iya, jadwal periksa kapan Bun?" tanya Andra.


"Gimana dong mas? udah kelewat waktunya, sekarang udah hampir jam 9." ucap Tari.


"Masih keburu sih, dokter Heni praktek sampe jam 10 kan? Tapi pasti cape kalau kita berangkat sekarang soalnya belum persiapan Bun." jelas Andra.


" Iya Mas, jadi gimana?" tanya Tari.


"Sore aja, kita ke klinik tempat praktek nya." jawab Andra.


"Okeh mas."


Berjalan sambil mengobrol tak terasa mereka sudah mengitari taman sebanyak tiga putaran, dan itu sangat menguras tenaga Tari.


"Mas aku cape, udahan yuk!" ajak Tari.


"Hmm." jawab Andra singkat.


Mereka beristirahat dahulu di kursi taman.


"Mau cari makan dulu gak? apa mau langsung pulang?" tanya Andra.


"Aku mau makan sate lontong mas, kayaknya enak." pinta Tari yang melihat pedagang sate lontong di sebrang sana.


"Ya udah ayo!" ajak Andra sambil meraih tangan Tari untuk membantunya beranjak.


Mereka menyebrangi jalan, karena roda sate itu berada di sebrang taman. Sesampai disana Andra memesannya lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan bersama Tari.


"Tari? apa kabar?" tanya Rita sedari tadi berada disana.

__ADS_1


"Allhamdulilah baik, mbak sendiri? sama siapa mbak?" tanya Tari yang hanya melihat Rita sendirian.


"Sama mas Bima, dia lagi ke ATM sebentar." jelas Rita yang di tinggal suaminya ke ATM karena mereka lupa tidak membawa uang cash.


"Oh iya mbak, ini Andra suami aku." Tari memperkenalkan suaminya pada mantan majikannya.


"Andra." ucap Andra memperkenalkan diri sambil tersenyum, namun ketika melihat Rita dia merasakan ada getaran di hatinya.


"Rita." ucap Rita, ia pun merasakan hal yang sama .


"Kenapa aku merasa sangat dekat sekali dengan orang ini?" batin Rita dan Andra.


"Hei ponakan aku udah berapa bulan ini? udah gede aja." tanya Rita sambil mengelus perut Tari yang sudah membuncit.


"Udah tujuh bulan aunty." jawab Tari.


"Wah gak kerasa yah, mudah-mudahan persalinannya lancar ya." ucap Rita.


"Aamiin." jawab Andra dan Tari.


"Oh iya kapan mau ke rumah mamah? sepertinya mamah kangen kamu." tanya Rita.


"Oh iya gimana keadaan mamah?" tanya balik Tari.


"Ya begitulah Tari, mamah masih terkulai lemas dan belum bisa berbicara." ucap Rita lemas.


"Kasian mamah, insya Alloh kalau mas Andra gak sibuk kita kesana mbak, ia kan mas?" tanya Tari pada suaminya.


"Iya." Andra mengiyakan dan tersenyum.


"Iya Tari sekalian kenalin Andra sama mamah dan papah, mereka pasti seneng." ucap Rita antusias.


Pada saat mereka asik mengobrol si pedagang sate itu membawakan pesanan Andra dan menghidangkannya di meja.


"Mbak makan lagi yuk, bareng!" ajak Tari.


"Mbak udah kenyang Tar, kalian aja makan, mbak lagi nunggu mas Bima lama banget." ucap Rita matanya beredar mencari keberadaan suaminya.


Tiba-tiba Bima datang dengan nafas ngos-ngosan.


"Mi, jauh-jauh daddy ke ATM, eh malah gangguan jd gak bisa deh ambil uangnya." keluh Bima.


"Gimana dong dad? kita belum bayar satenya." tanya Rita berbisik.


"Kenapa mbak?" tanya Tari.


"Hehehe Tari aku lupa gak bawa uang cash, jadi belum bayar sate nya. Nyari ATM bank BMI susah disini ada juga malah gangguan." ucap Rita cengengesan.


"Oh ya udah mbak gak apa-apa nanti sekalian aku yang bayar." ucap Tari.


"Aku pinjem uang dulu ya Tari, nanti aku ganti aku transfer sekarang ke rekening kamu." ucap Rita.


"Gak usah mbak, gak apa-apa kok gak usah ganti." tolak Tari.


"Tapi mbak udah transfer gimana dong?" ucap Rita terkekeh, sambil menunjukan bukti transfernya.


Tari shock melihat jumlah angka yang di transfer ke rekeningnya.


"Sepuluh juta? apa harga sate disini semahal itu ya? 😱😱😱😱😱

__ADS_1


__ADS_2