Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 39


__ADS_3

Di sebuah klinik kini Andra dan Tari sedang menunggu antrian pemeriksaan. Mereka duduk di kursi ruang tunggu, tidak lama kemudian assiten dokter memanggil nama Tari dan mereka masuk ke ruangan dokter.


"Silahkan pak, bu." Ucap dokter Heni mempersilahkan Andra dan Tari duduk.


"Apa ada keluhan Bu?" tanya dokter Heni sambil membuka buku catatan kehamilan Tari.


"Tidak ada Dok." jawab Tari


"Sudah pertengahan tujuh bulan ya Bu?" tanya dokter.


"Iya Dok." jawab Tari.


"Mari bu, kita periksa dulu mudah-mudahan udah keliat jenis kelaminnya ya." ucap sang dokter.


Lalu Tari membaringkan diri di tempat pemeriksaan, assiten dokter membuka menutup bagian bawah tubuh Tari dengan selimut karena saat ini Tari hanya menggunakan dress, lalu mengangkat baju Tari ke atas sebatas dada dan mengolesinya dengan gel khusus untuk USG.


"Dedek nya sehat ya Bu, aktif sekali." ucap dokter Heni sambil menggerakkan transducer di perut Tari.


"Iya Dok, apalagi kalau malem dia lincah banget." timpal Tari terkekeh.


"Allhamdulilah ya, ini berat badan nya sekitar 1.500 gr cukup besar ya Bu di usia 29 week. Jantung nya normal, oh ini dia ni jenis kelaminnya akhirnya dia menghadap ke depan.


Jenis kelamin nya laki-laki ibu Tari, pantes yah aktif terus sepertinya dia sedang main bola." canda sang dokter.


"Laki-laki Dok?" tanya Andra antusias.


"Iya pak Andra, si dedeknya laki-laki." jawab dokter Heni dan melanjutkan lagi pemeriksaan nya.


"Allhamdulilah Bu Tari, pak Andra dedeknya sehat, normal tinggal nunggu beberapa Minggu lagi menjelang kelahiran." ucap sang dokter sambil membersihkan gel bekas USG, lalu mereka kembali ke meja dokter.


"Persiapan seperti apa Dok yang harus saya persiapkan untuk menjelang kelahiran?" tanya Tari.


"Ibu harus rajin berolahraga, jalan-jalan kalau mau ibu bisa mengikuti kelas senam hamil disini. Kami mengadakan kelas senam hamil untuk ibu hamil yang sudah menginjak trimester tiga." saran dokter Heni.


"Boleh Dok, saya mau." Tari setuju.


"Baik nanti ibu bisa atur jadwalnya dengan assiten saya. Selain olahraga saya menyarankan agar bapak sama ibu lebih rutin melakukan hubungan agar mudah memberikan jalan lahir ya Bu." ucap Dokter.


"Ba-baik Dok." ucap Tari ragu.


"Untuk makanan tidak ada yang di pantang sih, paling ya itu yang sudah sering saya sampaikan. Ibu harus banyak mengkonsumsi makanan yang bernutrisi." ucap sang dokter sambil menuliskan resep obat.


"Baik Dok." ucap Tari.


"Ada pertanyaan lagi ibu Tari? pak Andra?" tanya dokter Heni.


"Tidak ada Dok semuanya sudah jelas, terima kasih." ucap Tari


"Kalau begitu ini resep obatnya, semoga dedek sama ibu nya sehat selalu sampai menjelang lahiran nanti. Sampai jumpa bulan depan Bu." ucap sang dokter sambil menyerahkan resep obat pada Tari.


"Aamiin, terima kasih banyak Dok." ucap Tari lalu beranjak dari duduknya bersama Andra.

__ADS_1


"Mari Dok." ucap Andra sopan dan dokter Heni mengangguk.


Seperti biasa, mereka menuju apotek untuk menebus obat. Andra menyerahkan resepnya pada apoteker lalu menunggu panggilan, ia duduk di samping Tari.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Tari melihat suaminya sejak tadi tersenyum sendiri.


"Gak apa-apa, mas seneng aja akhirnya udah tau jenis kelamin anak kita." ucap Andra tersenyum.


"Oh iya mas, kita belum belanja perlengkapan bayi." ucap Tari.


"Iya, mau kapan belanja nya?" tanya Andra.


"Maunya sih secepatnya." jawab Tari.


"Besok aja ya, belanja di tempat kerja mas aja yah banyak barang baru datang kemaren, lucu-lucu" ajak Andra antusias.


"Besok kan mas kerja." ucap Tari.


"Kan bisa pas pulang kerja, mas pulang sore abis magrib kita kesana." usul Andra.


"Jangan abis magrib lah, besok sore aku nyusul kesana mas jangan pulang dulu." ucap Tari.


"Tapi kamu hati-hati ya, jangan naik ojol naik taksi aja." ucap Andra.


"Iya mas." jawab Tari.


Lalu apoteker memanggil nama Tari untuk menyerahkan obatnya, Tari mengambilnya dan Andra membayar pemeriksaan dan obat Tari.


"Tuh mas nendang-nendang lagi dia." ucap Tari menunjuk perutnya.


"Iya sayang, kayaknya dia lagi main bola." jawab Andra terkekeh.


"Oh iya mas, ternyata benar apa yang di bilang ibu-ibu di taman waktu itu, kita harus hubungan kalau udah trimester tiga, dokter juga menyarankan itu." ucap Tari.


"Iya nih, gimana? kamu siap Bun?" tanya Andra.


"Insya Alloh aku siap mas, tapi aku takut mas." ucap Tari menunduk.


"Takut kenapa? kamu masih trauma?" tanya Andra.


"Gak kok mas, cuma aku takut sakit lagi kayak waktu itu mas." ungkap Tari.


"Waktu itu yang pertama, kalau nanti kita melakukanya lagi insya Alloh gak akan sesakit itu Bun." ucap Andra kini tangannya beralih mengusap puncak kepala Tari.


"Iya mas, tapi pelan-pelan ya." pinta Tari ragu.


"Iya sayang, kamu tenang aja." ucap Andra tersenyum, akhirnya ia akan mendapatkan jatah nya 🤭


"Mas aku pengen ke minimarket dulu." pinta Tari.


"Boleh, mau beli apa?" tanya Andra.

__ADS_1


"Pengen beli keripik kentang, aku pengen banget makan itu." ucap Tari.


"Ya udah yuk." Andra mengedarkan pandangannya mencari minimarket sambil menyetir mobil.


"Tuh mas, di depan kita minimarket yang itu aja." ucap Tari.


Andra menuruti nya, lalu ia memarkirkan mobilnya di depan minimarket. Namun siapa sangka mereka bertemu lagi dengan Gery dan ibu nya di minimarket, Andra menatap kesal mereka.


"Heran deh tiap ke minimarket pasti ketemu mereka, apa mereka beralih profesi menjadi penjaga minimarket." batin Andra


"Tari, Andra kebetulan kita bertemu lagi. Bisa kita bicara sebentar?" pinta Gery.


"Mau apa lagi? mau maki-maki aku lagi?" tanya Tari.


"Tidak Tari, kita mau minta maaf, boleh kita bicara sebentar?" tanya Tuti.


"Baiklah." jawab Tari malas.


"Bagaimana kalau kita bicara di cafe sebrang sana? biar enak bicaranya." usul Gery.


"Hmm." jawab Andra singkat lalu mereka menyebrang menuju cafe.


Kini mereka berada di dalam cafe, Gery memanggil pelayan untuk memesan.


"Kalian mau makan apa?" tanya Gery.


"Gak usah, kami sudah makan." jawab Tari.


"Ya sudah kalau begitu kita pesan minum saja yah, Tari sama Andra mau minum apa?" usul Tuti.


"Jus alpukat aja." jawab Tari dan di setuju Andra.


"Baiklah, mbak jus alpukat dua ya, lemon tea hangat satu, Gery mau apa?" tanya Tuti beralih ke anaknya.


"Es lemon tea aja mah." ucap Gery.


"Es lemon tea nya satu mbak." pesan Tuti lagi.


"Tidak ada lagi tambahan Bu?" tanya pelayan.


"Tidak, untuk sementara itu saja dulu." ucap Tuti.


Sambil menunggu pesanan datang, Tuti memulai bicaranya.


"Tari, Andra saya minta maaf atas kejadian yang tak mengenakkan waktu itu."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2