
Hari ini adalah hari terakhir Andra mengabdikan diri di toko bulan, tempat pertama ia bekerja sampai ia bisa mempunyai usaha sendiri. Andra pamitan pada semua rekan kerjanya, pertama ia menemui para staf dan manager di toko ini lalu ia pamitan pada bawahannya.
"Beneran loe mau ninggalin gue bro?" tanya Denis, ia sedih di tinggal teman seperjuangan nya.
"Ah loe kayak yang gue tinggal jauh aja den." ucap Andra.
"Gak ada loe gak rame Dra." ucap Denis.
"Kita kan masih bisa ketemu, loe maen nanti ke bengkel Den." ucap Andra.
"Ngapain gue maen ke bengkel?"
"Bantuin gue hahaha." canda Andra.
"Berani bayar berapa hah?" tanya Andra.
"Bantuin temen, bayar pake terima kasih ajalah hahaha." gelak Andra.
"Enak aja." ujar Denis.
"Gimana hubungan loe sama Dena? loe udah lamar dia?" tanya Andra.
"Belum Dra, Kayaknya lamaran nya di tunda." ucap Denis lemah ambil menyeruput kopi nya. Mereka sedang berada di warung kopi sebrang tempat kerja mereka.
"Kenapa?" tanya Andra
"Gue kira waktu Dena terima lamaran gue dia serius, ternyata dia cuma main-main." keluh Denis.
"Main-main gimana maksud loe?" tanya Andra.
"Kalau gue ngajak dia ketemu orang tuanya, dia suka mengulur waktu. Ada aja alasannya, kayak nya dia gak mau gue ketemu sama orang tua nya." jawab Denis.
"Setau gue Dena udah gak punya orang tua Den, emang dia gak ngomong sama loe?" ucap Andra.
"Masa sih Dra? gue gak tau lho, Dena belum pernah cerita tentang orang tua nya." tanya Denis.
"Iya, waktu kita briefing pernah lah cerita sedikit-sedikit tentang keluarga. Nah Dena cerita tentang hidupnya yang sebatang kara." ujar Andra.
"Kasian sekali Dena, gue harus buru-buru nikahin dia biar gak sebatang kara lagi." ucap Denis.
__ADS_1
"Iya Den, gue setuju banget. Ta-pi." ucap Andra terpatah.
"Tapi aa Dra?" tanya Denis.
"Maaf ya den sebelumnya, loe tau tentang latar belakang Dena gak?" tanya Andra sedikit ragu.
"Tentang pekerjaan malam dia?" tanya Denis tersenyum getir.
"Iya Den, gue pernah beberapa kali dia jalan sama om om." ucap Andra.
"Gue tau Dra, makanya gue mau menyelamatkan dia." ucap Denis.
"Kayaknya Dena terikat kontrak Den, gue takut aja dia ketauan sama pihak toko dan dia kena sanksinya." ucap Andra khawatir.
"Iya Dra, gue lagi mikirin cara bawa dia keluar dari lingkaran itu tanpa membahayakan Dena." ucap Denis.
"Kalau loe perlu bantuan, gue bantu semampunya Den." Andra menepuk bahu teman seperjuangan nya itu.
"Thanks Dra." Denis tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Silahkan pak masuk." pak Syarip mempersilahkan Aryo masuk setelah membukakan pintu.
"Terima kasih pak." ucap Aryo.
"Sebentar saya bawakan dulu minum ya pak, kebetulan istri saya sedang tidak ada." ucap Syarip.
"Memang nya istri bapak kemana?" tanya Aryo.
"Sudah tiga hari istri saya menginap di rumah anak saya Tari, jaga-jaga saja pak. Tari sudah mendekati waktunya persalinan." jelas Syarip.
"Oh iya benar, semoga persalinannya lancar ya pak." ucap Aryo.
"Aamiin, terima kasih pak." ucap Syarip.
"Sama-sama pak Syarip." ucap Aryo.
"Tuh kan sampai lupa saya mau buatkan pak Aryo minum." ujar pak Syarip terkekeh.
__ADS_1
"Tidak usah pak, saya gak lama kok cuma ingin menanyakan sesuatu." tanya Aryo.
"Tanya apa pak?" tanya Syarip.
"Saya mau menanyakan tentang Andra pak, apa benar Andra di besarkan di panti asuhan?" tanya Aryo.
"I-iya pak benar." Deg, Syarip sudah mulai tak tenang. Ia takut rahasianya akan terbongkar telah menyembunyikan Andra dari keluarganya selama ini.
"Begini pak, saya tau dari Rita kalau Andra di besarkan di panti asuhan tempat istri pak Syarip bekerja dulu, dan saya kesini mau menanyakan asal usul Andra." Aryo mengutarakan tujuannya datang kesini.
"Kenapa pak Aryo menanyakan asal usul Andra? ada apa pak?" tanya Syarip berpura-pura.
"Begini pak, beberapa hari kemarin kami sekeluarga bertemu dengan Andra dan Tari di mall dan istri saya langsung menangis melihat Andra, ia menyebut bahwa Andra adalah Devan anak kami. Dan istri saya yakin bahwa dia adalah Devan, entah kenapa istri saya bilang seperti itu, apa karena mungkin ikatan batin ibu dan anak itu sangat kuat." ucap Aryo panjang lebar.
Seketika hati Syarip mencelos, ia merasa bersalah telah memisahkan Andra dan keluarganya sehingga membuat ibu nya Andra sakit keras.
"Dan satu lagi pak Syarip, kami menemukan tanda lahir di belakang leher Andra seperti tanda lahir Devan." ujar Aryo kembali.
"Tapi kan itu bisa saja mirip pak Aryo, Den Devan kan tidak mungkin di panti asuhan pak, sudah lama sekali dia menghilang." Syarip mengelak.
"Mungkin saja pak, tapi Devan belum tentu sudah meninggal. Tapi mohon ijinkan saya untuk melakukan tes DNA pak, agar saya tau kebenaran nya, bahwa Andra benar anak saya atau bukan." ijin Aryo.
Dengan segenap hati, Syarip memberanikan diri untuk membeberkan semuanya apapun resikonya nanti. Karena sudah waktunya Andra mengetahui keluarga yang sebenarnya.
"Pak Aryo tidak perlu melakukan tes DNA, se-benarnya Andra itu anak pak Aryo." ungkap Syarip.
"Apa benar itu pak? tapi kenapa bapak menyembunyikan nya dari kami? maksud bapak apa?" Aryo sedikit emosi.
"Sebentar pak, ijinkan saya menjelaskan semuanya." ucap Syarip.
Syarip menjelaskan tentang kejadian percobaan pembunuhan oleh kedua tantenya Devan, dan sebelumnya mereka pernah melakukan dengan cara berbeda, namun yang kali ini menurut mereka, mereka telah berhasil melenyapkan nyawa Devan.
"Begitulah ceritanya pak, maafkan saya telah menyembunyikan Devan selama ini pak. Dan maafkan saya telah lancang menikahkan Devan dengan anak saya." Syarip bersimpuh di hadapan Aryo.
"Sudahlah pak Syarip, saya tidak terlalu menyalahkan pak Syarip walaupun memang kenyataan pak Syarip salah. Yang penting sekarang Devan selamat dari bahaya, tentang bapak menikahkan Devan dengan Tari, saya tidak keberatan pak. Saya sangat bersyukur karena Devan memiliki istri sebaik Tari." ucap Aryo.
"Terima kasih pak Aryo, tapi jika bapak ingin menghukum saya tidak apa-apa. Saya tidak keberatan pak, karena saya telah melakukan kesalahan." ucap Syarip pasrah.
"Tidak pak Syarip, saya tidak akan menghukum bapak. Tapi tolong bapak bersedia untuk menjadi saksi percobaan pembunuhan Devan. Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya nya, saya akan mengusut kasus ini ke jalur hukum." ucap Aryo penuh amarah.
__ADS_1