Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 27


__ADS_3

"Udah dong bun jangan marah terus." pinta Andra.


Tari yang sejak tadi masih kesal dengan suaminya karena di anggap hantu, sampai sekarang tetap mendiamkannya tak menghiraukan permintaan maaf suaminya. Kini mereka berada di tempat tidur.


"Tau ah, aku masih kesel sama mas." ucap Tari merajuk sambil berpangku tangan.


"Mas kan udah minta maaf." ucap Andra melembutkan nada bicaranya.


Tari tetap tak menghiraukannya, ia tidur membelakangi Andra dan meletakan guling di tengah nya.


"Huft gini ni kalo cewek udah marah, lebih seram dari pada hantu." keluh Andra dalam hati.


Lalu Andra menyusul Tari ke alam mimpi, dalam hitungan 3 detik Andra sudah mendengkur halus. Tanpa Andra ketahui ternyata Tari belum memejamkan matanya.


"Cih malah tidur, arrghh ngeselin banget sih kamu mas." gerutu Tari kesal dengan suaminya.


Tari berusaha untuk tidur tapi tetap tidak bisa.


Tari memiringkan tubuhnya ke kiri lalu ke kanan untuk mencari kenyamanan, tapi tetap saja tidak menemukannya. Sudah larut malam Tari masih terjaga.


Sebenarnya ia menginginkan tidur di pelukan Andra, tapi Tari malu untuk mengatakannya. Tari terus gelisah mengerakkan tubuhnya kesana kemari.


Karena Andra terganggu dengan pergerakan Tari akhirnya Andra terbangun.


"Kenapa?" tanya Andra dengan suara serak khas bangun tidur.


"Aku gak bisa tidur mas." keluh Tari.


"Kamu lapar hm?" tanya Andra kembali.


"Bukan mas, si baby minta di elus sama kamu." ucap Tari mengesampingkan rasa malu nya.


"Oh jadi anak ayah minta di kelonin nih?" tanya Andra tersenyum.


Tari mengangguk tersenyum senang, lalu Andra duduk di samping Tari dan membungkukkan setengah badannya, wajah nya menghadap perut Tari.


"Bobo ya sayang, kasian bunda harus istirahat." ucap Andra mengelus-elus perut Tari mengajak calon anaknya berbicara.

__ADS_1


Andra melantunkan sholawat dan mengelus perut istrinya, sesekali ia menciumnya. Entah calon anaknya atau istrinya yang minta di keloni kini Tari sudah terlelap setelah Andra mengelus perutnya.


Di tatap nya Tari yang terlelap dengan wajah yang damai, Andra merapihkan anak rambut Tari yang menghalangi wajahnya, ia tersenyum simpul sambil tangan nya mengusap lembut pipi Tari lalu ia mengecup kening Tari. Sekarang ia yakin bahwa hati nya sudah benar-benar penuh dengan rasa cinta pada istrinya.


Lalu tatapan nya beralih pada perut Tari, kini tangannya mengusap lembut calon anaknya yang berada dalam perut sang istri. Iya tidak menyangka kini di tubuh Tari ada sebagian dari dirinya, mengingat kisah nya dan Tari sudah seperti adik kakak, tidak pernah terbayangkan sebelumnya ia akan menjadi suami Tari. Tapi meskipun demikian Andra sangat bahagia bisa menikah dengan sahabatnya itu, karena ia bisa terus bersama dan bisa menjaga Tari sampai akhir hayatnya.


"Anak ayah pintar, selamat tidur nak." ucap Andra sambil mencium perut Tari lalu melanjutkn tidurnya kembali.


Pagi ini Tari tidak sibuk seperti biasanya, masih berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya dengan setelan tidur nya baju kebangsaan para emak yaitu daster 🤭.


Andra yang baru saja keluar kamar dengan seragam lengkap nya heran melihat istrinya yang masih santai, padahal tinggal setengah jam lagi mereka akan berangkat kerja.


"Bun kok belum siap-siap? udah siang loh ini." tanya Andra heran.


"Siap-siap apa? ini aku lagi nyiapin sarapan buat kamu mas." ucap Tari sambil menyiapkan kotak bekal buat Andra.


"Maksudnya siap-siap kerja, apa hari ini kamu libur?" tanya Andra.


"Oh iya aku sampe lupa, gara-gara kemaren aku di katain hantu jadi males mau ngasih tau mas." ucap Tari.


"Hahaha maaf ya, mau ngasih tau apa hm?" tanya Andra lembut.


"Kenapa kamu gak bilang sama mas?" tanya Andra.


"Sengaja mas, tadi nya aku mau ngasih surprise buat mas tapi gagal malah di kira aku hantu, kan bete jadi nya." ucap Tari mengerucutkan bibir nya.


"Maaf deh maaf, kan mas gak tau." ucap Andra terkekeh.


"Oh iya makasih yah Bun sudah mau menuruti keinginan mas." ucap Andra lembut.


"Iya mas, udah ah jangan manggil bun bun terus. Aku kan bukan bunda nya mas." protes Tari.


"Tapi kamu bunda nya anak mas, jadi mas harus manggil kamu bunda biar nanti anak kita mengikutinya." jelas Andra.


"Ya tapi kan gak harus sekarang, nanti aja kalo si baby udah lahir." ucap Tari.


"Justru harus dari sekarang biar jadi terbiasa." ucap Andra tak mau kalah.

__ADS_1


"Mas manggil aku bunda terus, kamu nya sendiri manggil diri kamu 'mas' jadi kesannya aku tuh kayak ibu kamu mas." protes Tari tak terima.


"Hehehe ya abis kamu nya gak pernah panggil aku ayah." ucap Andra terkekeh.


"Hahahaha geli ah, manggil ayah bunda anak nya aja belum ada." tawa Tari.


"Kamu itu yah, bawaannya geli mulu, nih kalau mau geli mah gini nih." ucap Andra bersiap akan menggelitik Tari.


"Jangan mulai mas, inget sekarang ada anak kamu nih." ucap Tari mode singa mulai menyala sambil menunjuk perutnya.


"Hehehe vis." Andra menunjukan deretan giginya.


"Ya sudah mas berangkat dulu ya, kamu hati-hati di rumah, jangan kecapean. Urusan pekerjaan rumah biar nanti mas saja yang kerjakan pulang kerja." pesan Andra.


"Gak apa-apa kok mas, cuma bersih-bersih doang kok gak berat ini. Lagian kan aku cuma hamil mas bukan sakit." ucap Tari terkekeh.


"Iya iya mas tau, pokoknya kamu jangan terlalu cape yah." ucap Andra di balas dengan anggukan Tari.


Andra di antarkan Tari sampai ke depan pintu, ia membukakan setengah tubuhnya, wajahnya menghadap perut Tati.


"Anak ayah, jangan nakal ya, jagain bunda. Tunggu ayah pulang oke." pesan Andra pada janinnya 🤭.


"Oke ayah." suara Tari menirukan anak kecil.


Andra tersenyum, kini tatapannya beralih ke wajah Tari, lalu ia menyodorkan tangannya dan di sambut oleh Tari.


"Mas berangkat dulu ya, jaga diri baik-baik. Nanti pulang mau di bawain apa?" ucap Andra.


"Gak tau mas belum kepikiran, nanti aja aku kabarin." ucap Tari.


"Ya sudah, mas berangkat dulu assalamualaikum." pamit Andra.


"Waalaikumsalam." jawab Tari.


Andra melajukan motornya, sekarang ia berangkat menggunakan motor agar cepat tidak terjebak macet.


Baru beberapa meter keluar dari rumah nya, ia sudah menginginkan pulang kembali, ia merindukan istri dan calon anaknya. Andra ingin menghabiskan waktu bersama mereka, namun apa daya waktu nya terikat oleh pekerjaan.

__ADS_1


"Hmm apa aku harus segera mengajukan resign saja kali ya?"


__ADS_2