Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 34


__ADS_3

Setelah kepergian Sinta dan Aryo, kini Rosa dan Marini berencana menjalankan aksi jahatnya itu. Mereka saling menatap dan tersenyum sinis.


Setelah acara barbeque selesai, kini anak-anak mereka asik bermain di dalam rumah. Karena semua saudaranya perempuan Devan memisahkan diri dari mereka yang sedang asik bermain boneka.


Devan main sendiri di halaman rumah, ia asik bermain bola sendirian. Disinilah Rosa dan Marini mulai beraksi, Rosa menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Braakk." suara tabrakan mengenai tubuh Devan hingga terpental beberapa meter.


"Astagfirullah, den Devaaaann." teriak Syarip yang melihat Devan terpental jauh.


Syarip berlari menuju tempat dimana Devan terkapar namun di cegah oleh Marini.


"Diam kamu, jangan sampai kejadian ini ada yang tau, kalau sampai orang lain mengetahuinya saya tidak akan segan-segan menghancurkan keluarga kamu." Ancam Marini.


Syarip mengangguk, butuh nya gemetar melihat Devan anak kecil yang tak berdosa menjadi korban keserakahan tante-tante nya.


"Sekarang ikuti perintah saya, bawa Devan ke dalam mobil" perintah Marini memerintahkan Syarip untuk membawa Devan yang ia kira sudah tak bernyawa.


Syarip melakukanya, setelah ia memasukan Devan ke dalam mobil.


"Astagfirullah ya Alloh maafkan hamba." dalam hati Syarip memohon ampun pada sang Maha kuasa, ia merasa berdosa telah membantu perbuatan jahat Rosa dan Marini.


"Bagus mbak, rencana kita berhasil telah menyingkirkan anak sialan ini." ucap Marini.


"Sekarang kita buang dia, jangan sampai ada yang tau." ucap Rosa


"Beruntung anak ini langsung mati, kalau tidak aku akan melakukan apapun untuk menghilangkan nyawanya, bahkan hal yang lebih keji dari ini." ucap Rosa yang di dengar Syarip.


Setelah beres semua, kini Rosa dan Marini pergi meninggalkan pelataran rumah mewah itu, mereka menuju ke suatu tempat untuk membuang mayat Devan.


Tanpa mereka sadari, Syarip membuntuti mereka dari belakang. Mereka menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi karena disini jalan menuju ke arah pedesaan, jadi jarang ada kendaraan lewat. Rosa membuka bagasi mobilnya lalu Marini membawa Devan yang sudah tak bernyawa dan ia melemparnya ke bawah jurang.


Setelah itu mereka buru-buru masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi karena tidak ingin ada yang mengetahui aksi mereka.


Syarip yang menyaksikan aksi mereka segera turun dari motornya, ia mencari jalan agar bisa menuruni jurang itu. Beruntung jurang itu tidak terlalu dalam, ia mencari tanaman yang bisa di jadikan tali untuk menuruni tebing. Entah kebetulan atau sebuah pertolongan dari dari sang Penguasa Alam, ia menemukan sebuah tali tambang. Segara ia membawanya lalu mengikat tali itu pada pohon besar yang berada di samping jurang, dengan susah payah ia menuruni tebing itu dan akhirnya berhasil. Setelah tiba di dasar jurang, buru-buru Syarip menghampiri Anak kecil yang tak berdosa itu, Syarip menangis sejadi-jadinya ia merasa sangat berdosa. Syarip berencana akan menyerahkan diri pada polisi dan melaporkan semua kejahatan Rosa dan Marini dengan membawa bukti mayat Devan. Namun siapa sangka Devan bergerak, Devan tersadar dan ternyata ia belum meninggal.


"Allhamdulilah ternyata kamu masih hidup nak, tahan sebentar yah nak! kita akan mencari klinik terdekat." ucap Syarip.

__ADS_1


Syarip menggendong Devan, dan membawanya menaiki tebing. Setelah sampai di atas ia mengambil kain sarungnya yang berada di bagasi motornya, dan menggendong Devan dengan kain sarung itu seperti bayi lalu ia melajukan motornya dan mencari klinik. Tidak berselang lama ia menemukan klinik.


"Bu tolong segera tangani anak ini." pinta Syarip pada salah satu tenaga medis yang da di klinik.


Syarip mengendong Devan yang berlumuran darah, sehingga baju Syarif penuh dengan darah.


"Ayo pak silahkan, baringkan anaknya disini." ucap tenaga medis.


Syarip membaringkan Devan, lalu tenaga medis segera menangani Devan. Luka-luka Devan sudah berhasil di obati, beruntung tidak ada cedera dalam Devan sudah bisa di bawa pulang. Untuk pengobatan selanjutnya bisa di lakukan di rumah.


Syarip berpikir, kalau ia membawa Devan ke orang tuanya ia takut akan terjadi hal yang lebih buruk dari ini pada Devan, karena mereka akan terus mengincar nyawa depan, tak hanya Devan, bisa orang tua dan kakaknya juga bisa menjadi incaran mereka. Nyawa keluarga Sinta terancam karena keserakahan kakak dan adiknya.


"Lebih baik anak ini saya amankan saja." batin Syarip.


Karena besok jadwal ia libur, Syarip berencana pulang ke kampung halamannya. Untuk sementara waktu syarip mengajak Devan pulang ke rumahnya terlebih dahulu.


Sesampai di rumah ia menggantikan baju Devan dengan baju anak perempuannya Tari, di pakaiannya baju setelan kaos berwarna pink dan celana pendek.


"Allhamdulilah muat, walaupun agak kekecilan." ucap Syarip


"Pak, Evan gak mau ini buat pelempuan." tolak Devan.


"Devan pake ini aja dulu yah, nanti besok bapak belikan baju gambar spidermen kesukaan Devan." bujuk Syarip.


"Aciikk Evan mau pak." sorak Devan, ia bersorak seakan lupa dengan rasa sakitnya.


Syarip menyuapi Devan dengan makanan seadanya lalu ia mengajak Devan tidur, beruntung Devan adalah anak yang penurut jadi Syarip tidak repot mengurusi Devan.


Pagi hari Syarip pulang dari pasar, ia membeli beberapa setel baju ganti untuk Devan dan sarapan untuk mereka. Setelah itu ia mengajak Devan untuk pergi ke kampung halamannya, ia akan menyembunyikan Devan disana agar terbebas dari kejahatan tante-tante nya.


Ketika di bus Devan merasa heran, sejak kemarin ia tidak menemukan keluarganya.


"Pak, mamah cama papah mana? Evan kangen." tanya Devan.


"Mamah sama papah nanti jemput Devan, sekarang Devan ikut bapak dulu yah, nanti disana banyak teman-teman Devan, banyak mainan juga. Devan pasti akan betah disana." bujuk Syarip.


"Aciiikkk Evan mau." sorak Devan.

__ADS_1


"Devan suka lautan gak? yang banyak airnya? banyak ikan-ikan juga." tanya Syarip.


"Cuka, Evan cuka, Evan cuka laut, laut hebat banyak airnya." racau Devan yang pada dasarnya ia menyukai air.


"Nah ada yang lebih hebat lho dari laut, lebih banyak airnya." ucap Syarip


"Apa itu pak?" tanya Devan.


"Namanya samudera, samudera lebih besar dari pada lautan, hebat yah?" jawab Syarip.


"Wow hebat, Evan mau jadi Samudera." racau Devan.


"Boleh dong, biar kamu hebat seperti Samudera, mulai hari ini nama kamu jadi Samudera yah." ucap pak Syarip


"Oke bapak." setuju Devan.


Dan mulai sejak itu nama Devan di rubah menjadi Samudera untuk menghilangkan jejak.


Sesampai di rumah Syarip yang berada di kampung halamannya, Syarip menceritakan semua kejadian yang menimpa Devan.


Syarip meminta istrinya untuk merawat Devan di panti asuhan, karena istri Syarip bekerja di panti asuhan mengasuh anak-anak panti.


Sementara kedua orang tua Devan susah payah mencari anaknya yang di nyatakan hilang oleh kedua tantenya. Tidak ada orang yang menyaksikan kejadian itu termasuk suami-suami mereka, di rekaman cctv juga tidak di temukan jejak Devan karena rekaman cctv pada saat kejadian itu telah di hapus oleh mereka.


Polisi pun tidak menemukan jejak depan yang menghilang itu, polisi tidak menemukan tanda-tanda penculikan terhadap Devan.


Sampai pada akhirnya kedua orang tua Devan menyerah dan ibu nya Devan sakit keras karena memikirkan anaknya yang hilang itu.


Namun meskipun Devan menghilang kedua tantenya Devan tetap tidak bisa melelang perusahan peninggalan orang tuanya karena Devan masih di nyatakan hilang bukan meninggal.


Flashback off


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2