
Andra mengantarkan istrinya bekerja dengan menggunakan motor kesayangan istrinya itu, hari ini jadwal Andra libur.
"Tar hari ini aku mau bengkel mau cek laporan keuangan sama stok opname perlengkapan bengkel" ijin Andra
"Kirain bengkel kamu udah gulung tikar." ucap Tari enteng.
"Sembarangan aja kalo ngomong." protes Andra.
"Hahaha ya maaf soalnya aku gak pernah denger lagi kabar tentang bengkel kamu itu." tawa Tari.
"Ia soalnya aku jarang kontrol bengkel, kamu tau sendiri kan aku sibuk di tempat kerja. Aku percayakan semuanya sama Rian." jelas Andra.
"Oh gitu." ucap Tari singkat.
Flashback on
Beberapa bulan sebelum Andra menikahi Tari, di perjalanan menuju pulang ia melihat Irfan sedang di pukuli seorang laki-laki bertubuh tinggi dan besar di pinggir jalan yang sepi, tidak ada orang sama sekali. Andra menghentikan mobilnya di pinggir jalan berniat mengentikan serangan laki-laki itu.
"Pak tolong hentikan, ada apa ini?" tanya Andra.
"Siapa kamu? jangan ikut campur urusan kami." tanya balik laki-laki itu, ia menghentikan pukulannya dan tetap mencengkram baju Rian.
"Saya teman Irfan, kalau boleh saya tau ada masalah apa sampai bapak memukuli Irfan?" ucap Andra menanyakan permasalahan mereka.
"Teman kamu punya hutang sama bos saya, dia tidak berniat membayarnya dia malah kabur.
Untung saya menemukan nya?" jelas laki-laki itu
"Bener itu Irfan?" tanya Andra mengalihkan pandangan ke temanya itu.
"Gue gak bermaksud kabur dra, gue minta waktu aja buat nyari duit buat lunasi hutang gue sama bos nya dia." jelas Irfan
"Halah banyak alasan, ini sudah lewat tempo mau minta waktu sampai kapan lagi hah? sarkas laki-laki bertubuh tinggi besar itu.
"Tenang pak tenang, kita bicarakan baik-baik.
kalau boleh saya tau hutang teman saya berapa?" tanya Andra
"Lima ratus ribu di tambah bunganya satu juta, jadi total semuanya satu juta lima ratus" jelas laki-laki seram itu sambil mengeluarkan kalkulator dan menghitungnya
"Eh buset ngitung gitu aja mesti pake kalkulator" batin Andra
"Apa gak kebesaran pak bunganya? kok melebihi pokok hutangnya?" tanya Andra.
__ADS_1
"Itu karena teman kamu sudah menunggak terlalu lama jadi hutang nya berbunga-bunga." sarkas laki-laki.
"Ya elah pak hutang aja berbunga-bunga kayak orang jatuh cinta aja, kalo gini caranya bisa-bisa teman saya jatuh miskin" celetuk Andra.
"Jangan banyak omong kamu, kalau gak bisa bayar hutang temen kamu lebih baik kamu pergi sana saya mau melanjutkan tugas saya." sarkas laki-laki itu ia akan melayangkan pukulan lagi pada Rian namun Andra berhasil menahannya.
"Tunggu dulu pak, kan saya bilang selesaikan dengan cara baik-baik." tutur Andra, ia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang sebesar satu juta lima ratus pada laki-laki itu
"Ini saya lunasi hutang teman saya,dan saya minta bapak jangan ganggu teman saya" ucap Andra
Laki-laki bertubuh tinggi besar itu tersenyum senang "Nah gitu dong, dari tadi kek jadi saya gak perlu repot-repot mukulin teman kamu." ucap nya sambil melenggang pergi.
"Dra makasih udah tolongin gue, gue janji gue akan bayar uang itu tapi gue minta waktu." ucap Irfan.
"Udahlah kayak sama siapa aja fan, tenang aja kali. Kalo gue boleh tau kenapa loe sampe pinjem duit ke rentenir sih?" tanya Andra.
"Terpaksa gue dra, gue butuh duit buat kebutuhan rumah tangga apalagi anak gue sekarang udah mulai masuk sekolah dan istri gue baru lahiran banyak kebutuhan dan biaya.
Sedangkan sekarang gue nganggur dra, kontrak kerja gue habis." ucap Irfan.
"Kebetulan fan, gue pengen buka usaha tapi gue bingung mau usaha apa? gimana kalo kita join?" tawar Andra.
"Boleh dra, gue lagi butuh banget pekerjaan" setuju Irfan antusias.
"Gimana kalo kita buka bengkel aja dra? setidaknya kita punya dasar skill otomotif, lagian gue sama loe kan hobi banget tuh sama bongkar pasang motor." ide Irfan
"Iya ya bener juga dulu kita hobi banget modif-modif motor tapi sayang sekarang gue gak punya motor, hahaha." ucap Andra.
"Gak punya motor juga loe mah punya mobil dra, lah gue? motor gak punya mobil apalagi." seloroh Irfan
"Si jagur kemana emang?" tanya Andra menanyakan motor bebek tua milik Irfan yang selalu setia menemani Irfan saat pulang dan pergi sekolah.
"Udah jual dra, buat biaya tambahan lahiran istri gue." jawab Irfan tertunduk sedih.
Andra merangkul bahu Irfan menenangkan temannya itu
"Sabar fan, si Mimi juga sama udah gue jual kok fan hahaha" tawa Andra
memberitahu Irfan bahwa motor matic kesayangannya itu yang ia beli bekas dulu, susah payah Andra mengumpulkan uang bahkan Andra rela bekerja paruh waktu sebagai penjaga kios baju sepulang sekolah sampai malam.
"Oh yah? kenapa si Mimi loe jual Dra?" tanya Irfan.
"Buat tambahan DP mobil fan, si Mimi sengaja gue jual demi mobil ini. Biar gue bisa bawa Tari sama orang tuanya jalan-jalan, bisa nganter mereka pulang kampung.
__ADS_1
Loe tau sendiri kan,gue gak punya keluarga jadi keluarga Tari lah pengganti keluarga gue" jelas Andra
"Oh iya apa kabar Tari dra? udah lama gue gak ketemu dia." Irfan yang satu sekolah dengan Tari mengetahui Andra dan Tari layak nya adik kakak
"Allhamdulilah baik fan, bentar lagi udah mau nikah dia." jawab Andra
"Oh yah? kenapa Tari gak nikah sama loe aja dra? loe sama Tari kan udah lama bersama." usul Irfan
"Gila loe, Tari udah gue anggap kayak adik sendiri masa ia gue nikahin hahaha" tawa Andra
"Ya udah kita lanjut rencana kita, masuk mobil gue yuk panas gak enak ngomong disini.
sambil kita cari warkop kita ngopi-ngopi dulu." ajak Andra.
Sejak saat itu mereka merintis usaha bengkel motor kecil-kecilan dan berjalan sampai saat ini.
flashback off
sampai di depan toko kue tempat Tari bekerja, Andra menghentikan sepeda motornya.
Tari turun dan membuka helm yang ia gunakan lalu menyerahkannya pada Andra.
Andra menyodorkan tangannya dan Tari menyambutnya lalu menyalaminya.
"Aku masuk dulu yah, assalamualaikum." pamit Tari.
"Waalaikumsalam, semangat." Andra tersenyum sambil mengacungkan kepalan tangannya ke atas
"Hehehe iya makasih" jawab Tari
Setelah punggung suaminya tak terlihat lagi ia melenggang pergi ke dalam toko menuju ruang loker.
Saat ia akan menyimpan jaket dan tas nya di loker, ia melihat sebuah undangan yang terselip di sela-sela pintu lokernya.
Tari membuka undangan itu, alangkah terkejutnya Tari melihat foto mantan kekasih nya dan teman dekat nya sendiri terpampang di undangan itu.
"Mira sama Gery? kok bisa?"
.
.
.
__ADS_1