Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 45


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Sinta kemarin, Andra dan Tari menepati janji mereka untuk menemui Sinta di kediamannya, kebetulan hari ini jadwal Andra libur. Disana sudah di sambut oleh Rita dan ayahnya beserta anak kembarnya.


"Assalamualaikum om, mbak." Andra menyapa mereka di ikuti Tari.


"Waalaikumsalam, ayo masuk mama udah nunggu kalian." ajak Rita.


"Iya mbak." ucap Tari.


Mereka melangkahkan kakinya menuju ruang tv menghampiri Sinta yang sudah menunggu mereka.


"Assalamualaikum Tante, kami datang." sapa Andra pada Sinta.


"Waalaikumsalam, sini nak!" ucap Sinta, Andra menghampiri Sinta lalu Sinta memeluknya.


"Kalian sudah makan? kita makan siang bersama." ajak Aryo.


"Sudah om, tadi sebelum kami kesini kami makan siang dulu." ucap Andra.


"Panggil papa saja Andra, Tari aja manggil saya papa dan memanggil istri saya mama. Kalian sudah saya anggap seperti anak kami sendiri." ucap Aryo.


"Iya om eh papa." ucap Andra terkekeh.


"Ya sudah kita makan siang dulu." ajak Aryo.


"Nak bantu mama, mama ingin berdiri." ucap Sinta.


Andra memegang tangan Sinta, lalu Sinta perlahan berdiri. Alangkah terkejutnya Rita dan Aryo melihat Sinta yang tiba-tiba bisa berdiri karena sudah lama dia hanya duduk di kursi roda. Pertemuan Andra dan Sinta benar-benar membuat Sinta pulih kembali, apa memang obatnya sudah di temukan.


"Allhamdulilah mah, akhirnya mama bisa berdiri." ucap Rita penuh haru ia meneteskan air matanya lalu memeluk ibunya.


"Iya sayang, mama seperti mendapatkan kekuatan." ucap Sinta pada Rita.


Semua orang terharu melihat keadaan Sinta sehat kembali. Rita dan Aryo sangat bahagia.


Mereka menikmati makan siang bersama, setelah makan siang mereka menghabiskan waktu bersama di ruang tv. Tari, Rita dan Sinta mengobrol bersama membahas tentang resep resep kue, sedangkan Andra dan Aryo mengajak main kedua anak kembar Rita.


"Oh iya kapan ini perkiraan lahirnya cucu mama?" tanya Sinta.


"Menurut perkiraan dokter, hari lahir nya tanggal 12 September ma." ucap Tari sambil terus mengelus perutnya yang tidak diam sejak tadi.


"Sebentar lagi ya, semoga persalinannya lancar ya sayang." ucap Sinta.

__ADS_1


"Aamiin makasih ma." ucap Tari.


Setelah menghabiskan waktu bersama, Andra dan Tari berpamitan untuk pulang. Rita bersama kedua orang tuanya mengantar mereka sampai depan pintu, setelah Tari dan Andra pergi Sinta masuk ke dalam rumah bersama kedua cucu kembarnya, ia ingin mengajak main kedua cucunya.


Kini hanya tinggal Rita dan Aryo di teras rumah.


"Rita, apa kamu tau tentang keluarga Andra?" tanya Aryo.


"Setau Rita, Andra tidak punya keluarga pa. Dia di besarkan di panti asuhan tempat ibunya Tari bekerja dulu." ucap Rita.


"Oh begitu." ucap Aryo.


"Kenapa memangnya pa?" tanya Rita.


"Papa curiga sama Andra, apa jangan-jangan yang di katakan mama kamu itu benar bahwa Andra adalah Devan?" ucap Aryo.


"Kok papa bisa berpikir seperti itu?" tanya Rita.


"Pertama, pada saat Andra bertemu mama, banyak perubahan yang terjadi pada mama. Mama langsung sembuh dari sakitnya, seolah Andra adalah obat nya mama.


Kedua, tadi pada saat papa mengajak main si kembar sama Andra. Papa melihat ada tanda lahir di tekuk Andra sama persis seperti tanda lahir Devan." jelas Aryo.


"Sebaiknya kita harus bertanya pada Andra tentang orang tua dia, siapa tau memang benar Andra itu sodara kamu yang telah hilang sejak lama." ucap Aryo.


"Tapi pa, apa Andra tidak akan tersinggung kalau kita menanyakan asal usul nya?" tanya Rita.


"Sepertinya tidak, kita akan tanya dia baik-baik." ucap Aryo.


"Iya pa, nanti kita tanyakan." ucap Rita.


Sepulang dari kediaman orang tua Rita, Andra dan Tari memutuskan memeriksa kandungan. Mumpung Andra sedang libur jadi Tari memajukan jadwal periksanya yang tadi nya besok menjadi hari ini.


Tari dan Andra menunggu antrian di ruang tunggu, mereka duduk di sofa yang sudah di sediakan. Tidak lama kemudian nama Tari di panggil oleh assiten dokter.


"Ibu Tari?" panggil assiten dokter, lalu Tari dan Andra beranjak dari duduknya untuk memasuki ruangan dokter.


"Silahkan bu, pak." ucap assiten dokter dengan ramah dan di balasan dengan anggukan Tari dan Andra.


"Selamat sore ibu Tari, pak Andra." ucap dokter Heni.


"Selamat sore." jawab Andra dan Tari.

__ADS_1


"Ada keluhan Bu Tari?" tanya dokter Heni.


"Tidak ada Dok, hanya saja saya sering merasa sakit di bagian perut bawah. Sakitnya tuh kayak gimana yah nyeri gitu Dok." jelas Tari.


"Itu wajar Bu Tari, pada usia kandungan 38 Minggu karena bayi mencari jalan lahir." jelas dokter.


"Oh begitu ya Dok." ucap Tari dan di angguki dokter.


"Mari bu Tari, kita periksa dulu si Dedeknya." ajak dokter Heni supaya Tari berbaring di tempat pemeriksaan.


Tari membaringkan dirinya di tempat pemeriksaan, seperti biasa assiten dokter membuka baju bagian atas Tari dan memakaikan selimut pada bagian bawahnya, lalu ia mengoleskan gel untuk USG. Setelah itu dokter memeriksa perutnya.


"Bayi nya sehat Bu, jantungnya normal, ketubannya cukup, hmm lalu berat badannya 2900 gram." ucap dokter.


"Berat badannya normal dok? apa tidak terlalu kecil?" tanya Tari karena setau dia bayi normal lahir mempunyai berat badan sekitar tiga kilo lebih.


"Normal Bu, karena semakin bertambah nya usia berat badannya akan semakin naik apalagi ini sudah mendekati lahirnya. Saya sarankan ibu tidak makan es cream agar berat badan bayi tidak terlalu besar, nanti nya akan menyulitkan ibu untuk melahirkan nya." saran Dokter sembari mengelap bekas gel nya, lalu Tari turun dari tempat pemeriksaan dan duduk kembali.


"Selain es cream apa lagi dok?" tanya Tari.


"Segala macam es yang berasa manis, dan mie. Sebaiknya ibu banyak mengkonsumsi pisang, alpukat dan apel agar bisa membantu persalinan." ucap dokter.


"Iya dok." jawab Tari.


"Apa ibu Tari suka mengikuti kelas yoga kami?" tanya dokter.


"Pernah sekali dok, selebihnya saya melakukan yoga di rumah." ucap Tari


"Sering praktekan yoga saja di rumah ya Bu Tari, boleh jalan santai keliling komplek atau berenang juga boleh Bu." ucap Dokter.


"Oh iya dok, apa berhubungan bisa membantu persalinan?" tanya Andra dan di hadiah tatapan tajam oleh Tari.


"Sangat membantu pak Andra, kalau bisa harus melakukannya agak rutin ya agar bisa membantu bayi menemukan jalan lahir." jawab dokter terkekeh.


"Baik Dok." ucap Andra.


"Minggu depan, kita periksa lagi ya Bu siapa tau sudah ada pembukaan." ucap sang Dokter.


"Iya dok, baik." ucap Tari.


Lalu dokter Heni menyerahkan resep obat dan vitamin, setelah itu Andra dan Tari pamit undur diri.

__ADS_1


__ADS_2