Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 42


__ADS_3

Tari dan Andra memasuki pelataran toko, banyak karyawan yang mengagumi keserasian Tari dan Andra.


"Eh itu kan pak Andra ya? tumben bawa istrinya?" seru Nurul.


"Iya, cantik ya istrinya pak Andra?" jawab Sri


"Heem cantik banget, lagi hamil aja cantik." timpal Nurul.


"Anak nya pasti cantik atau ganteng." ucap Sri


"Pastinya, tuh orang tua nya aja bibit unggul." timpal Nurul.


"Serasi banget ya mereka." ucap Sri.


"Heh kalian ngeghibah aja, kerja kerja!" tegur Dena yang muncul yang melihat kedua temanya ngobrol.


"Tuh liat Na pak Andra sama pawangnya, jangan ganjen kamu sama pak Andra." ucap Sri.


"Apaan sih kamu? sembarangan aja kalau ngomong." ketus Dena.


"Iya aku lihat-lihat kamu mepet terus sama pak Andra, jangan gitu lah Na. Kasian istrinya." ucap Sri.


"Sri udah." tegur Nurul.


"Diam Rul, kamu jangan membela yang salah. Aku tuh suka gemes aja sama cewek perebut laki orang. Aku pernah ngerasain gimana rasanya pacar aku di ambil orang lain. Apalagi ini istrinya pak Andra, mereka udah nikah loh bentar lagi juga mau punya anak." ucap Sri emosi.


"Jaga mulut kamu ya Sri!" ucap Dena mulai emosi.


"Udah-udah ah kalian jangan berantem disini, malu sama konsumen. Kalian mau kena sp?" Nurul melerai kedua temannya.


"Dia tuh yang mulai." ucap Dena.


"Udah Na, udah. Mending kamu balik aja ke counter kamu sana." titah Nurul.


Dengan hati kesal Dena meninggalkan mereka ke counternya. Dena melewati Sri sambil menabrak bahu Sri.


"Dasar pelakor." umpat Sri.


"Udah Sri udah." cegah Nurul.


"Aku sebel sama dia Rul." keluh Sri.


"Sri kamu gak tau ya? sekarang Dena udah punya calon suami, kayak nya gak mungkin deh kalo Dena.


Di counter perlengkapan bayi dan anak Tari dan Andra sedang sibuk memilih baju untuk calon anak mereka. Tak lupa ia juga membeli kebutuhan untuk dirinya sendiri, seperti korset, bra untuk menyusui dan lainnya.


"Mas baju nya jangan baju semua dong, campur warna lain kek." protes Tari karena baju yang Andra pilih warna biru semua.

__ADS_1


"Gak apa-apa dong, anak kita kan cowok." ucap Andra santai.


"Iya tapi jangan biru semua, bosen liat nya. Warna yang netral aja mas." ucap Tari.


"Iya deh terserah kamu aja sayang." ucap Andra sambil mengusap pucuk rambut Tari.


Selesai memilih-milih baju, kini Tari dan Andra memilih sepatu beserta kaos kaki.


"Sayang emang si dedek mau langsung di pakein sepatu ya?" tanya Andra heran karena istrinya memasukan beberapa sepatu ke dalam kantong belanjanya.


"Enggak juga sih, paling kalo udah beberapa bulan mas." jawab Tari.


"Kenapa beli nya sekarang?" tanya Andra.


"Mas, nanti abis lahiran aku gak akan ada waktu buat hunting baju si baby. Jadi sekalian aja sekarang." jawab Tari.


"Oh iya ya." ucap Andra garuk-garuk kepala tak gatal.


"Mas sekalian beli skin care nya aja yah." ucap Tari.


"Disini gak ada sayang harus beli ke toko lain, besok aja ya nanti kamu cape." ucap Andra.


"Sekarang aja mas, sekalian cuma beli skin care aja kok gak akan cape." ucap Tari.


"Ya udah, di supermarket sebelah aja ya biar deket." ucap Andra.


"Sayang, kamu tunggu disini dulu ya. Mas mau nyimpen ini dulu di mobil." ucap Andra.


"Iya." jawab Tari singkat.


Ketika sedang menunggu Andra di pintu utama tak sengaja Tari melihat Mira sedang berbicara dengan salah satu karyawan di toko ini. Karena jarak mereka dan Tari tidak terlalu jauh, tak sengaja Tari mendengar percakapan mereka.


"Dena kamu sudah melakukan apa yang aku perintahkan?" tanya Mira.


"Belum kak, aku gak bisa." ucap Dena.


"Kenapa? tinggal lakuin aja apa susah nya sih ngerebut laki orang?" ucap Mira.


"Aku gak mau jadi perebut suami orang kak." ucap Dena.


"Jangan munafik kamu, kerjaan kamu aja ngelayanin suami orang. Apa beda nya sama pelakor hah?" ucap Mira dengan nada yang sedikit tinggi.


"Kak aku mohon, jangan paksa aku buat ngelakuin ini. Aku gak bisa, aku gak tega sama istrinya pak Andra apalagi dia lagi hamil. Mereka orang baik, aku gak mau menghancurkan mereka." ucap Dena.


Tari yang mendengarkan percakapan mereka sontak kaget mendengar nama suaminya di sebut, ia lebih menajamkan pendengarannya ingin mengetahui apa yang mereka rencanakan.


"Oke kalau kamu gak mau, aku gak bakalan bantu kamu buat bebas dari kontrak mami Nensi dan ingat meskipun kamu gak melakukan apa yang aku perintahkan, aku akan tetap berusaha buat menghancurkan rumah tangga mereka bagaimanapun caranya." ucap Mira lalu ia pergi meninggalkan Dena.

__ADS_1


"Benar-benar wanita ular, gak ada abis-abisnya dia nyakitin aku." batin Tari, lalu ia berniat akan menghampiri Dena untuk mengintrogasi nya namun suara panggilan Andra menghentikan langkahnya.


"Sayang mau kemana? ayo aku udah selesai." ucap Andra.


"Iya mas." ucap Tari lalu ia menghampiri Andra.


Mereka berjalan bersama menuju supermarket, sesampai disana Andra membawa troli.


"Mas ngapain bawa troli?" tanya Tari.


"Mau belanja kan?" tanya balik Andra.


"Iya tapi kan gak sebanyak itu, lagian kan kita cuma beli skin care si dedek aja yang kebanyakannya cuma pakai nota." ucap Tari.


"Gak apa-apa, kali aja kamu mau sekalian beli alat-alat mandinya." ucap Andra.


"Gak usah, aku udah pesan online kok." ucap Tari.


"Oh ya udah mas ambil keranjang aja." ucap Andra, ia menyimpan trolinya kembali lalu membawa keranjang merah.


Tari memilih perawat badan dan rambut untuk calon anaknya di buntuti oleh Andra dari belakang sambil membawa keranjang belanja. Selain perlengkapan untuk calon anaknya, ia juga membeli kebutuhan pasca lahiran untuk dirinya sendiri, Tari membeli beberapa pembalut untuk nifas, perlak sekali pakai untuk lahiran lalu cream anti Stretch Mark.


"Udah ini aja?" tanya Andra memastikan Tari karena dalam keranjang belanjanya hanya berisikan nota saja.


"Iya mas." ucap Tari.


"Nota doang?" tanya Andra heran.


"Iya, kan udah aku bilang pasti bakal banyak nota." ucap Tari.


"Oh ya udah mas bayar dulu, kamu tunggu aja disana jangan ikut ngantri di kassa." ucap Andra sambil menunjukan kursi tunggu dekat kasaa.


"Iya mas aku kesana dulu, sini keranjangnya sekalian aku simpen. Cuma nota doang masa di keranjangin." ucap Tari terkekeh.


Selesai transaksi, Andra menghampiri Tari yang duduk di kursi tunggu.


"Mas udah Maghrib." ucap Tari.


"Iya, mau langsung pulang apa sholat disini dulu?" tanya Andra.


"Sholat disini aja, soalnya abis ini aku pengen hunting jajanan." ucap Tari terkekeh.


"Oke, yuk ke mushola dulu." ajak Andra dan di jawab dengan anggukan Tari.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2