Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 17


__ADS_3

Tari bertanya dalam hati nya, kenapa bisa Gery mantan menikah dengan Mira teman dekatnya?


Apakah Gery selingkuh dengan Mira?


Tari mengepalkan tangannya ia menahan emosi, ia kecewa pada mereka telah mengkhianati nya.


"Hai Tari udah nerima undangan dari gue kan?" ucap Mira tiba-tiba muncul dari arah belakang Tari.


Tari yang tak bisa menahan emosi sejak tadi kini ia meluapkan nya kala melihat Mira, mata nya menatap tajam Mira.


"Jelaskan apa maksudnya ini Mira?" tanya Tari sambil menunjukan undangan pernikahan Mira dan Gery.


"Kenapa? loe gak terima?" tanya balik Mira dengan nada mengejek.


"Tega loe yah menikung gue, loe khianati persahabatan kita.


udah loe rebut calon suami gue, sekarang loe berusaha deketin suami gue.


Loe pikir gue gak tau apa hah?" sarkas Tari


"Stop Tari, gue gak pernah yah rebut calon suami loe.


Dan asal loe tau Gery mantan pacar loe itu calon tunangan gue dari dulu" ucap Mira


Tari terdiam heran " maksudnya?"


"gue sengaja, nyuruh Gery buat pura-pura jadi pacar loe sampai ia nikahin loe dan ninggalin loe pas acara akad akan berlangsung" jelas Mira, ia berpangku tangan matanya mendelik (persis pemeran antagonis di FTV Chanel ikan terbang 🤭)


Air mata Tari tumpah tak bisa di bendung lagi, ia kecewa pada Mira, ia tak menyangka Mira sekejam itu.


"Tapi salah gue apa Mir? kenapa loe Setega itu sama gue?" tanya Tari terisak.


"Karena gue IRI sama loe." jawab Mira menekankan kata iri sambil menunjuk telunjuknya ke dada Tari.


"Kenapa loe sama gue? gak ada yang bisa di banggain kok dalam diri gue." tanya Tari.


"Gue iri sama loe, sejak pertama loe masuk disini loe udah menunjukan banyak prestasi, loe nyiptain resep baru sampai tembus orderan banyak, bahkan dengan mudahnya loe bisa naik gaji dan terus dapet bonus.


sedangkan gue yang dari dulu kerja disini belum pernah mendapatkan apapun.


Gue benci sama loe Tari, gue mau loe hancur" sarkas Mira lalu ia pergi menabrak bahu Tari.


Tari yang kehilangan keseimbangannya ia hampir terjatuh, beruntung Rita cepat menangkapnya.


"Tari kamu gak apa-apa?" tanya Rita


"Gk apa-apa kok mbak" ucap Tari


"Kamu sama Mira kenapa?ada masalah yah? sepertinya kalian habis berdebat" selidik Rita

__ADS_1


"Gak apa-apa mbak, gak ada masalah kok" jawab Tari


"Tapi kok kamu kayak habis nangis? cerita Tari sama aku ada masalah apa? barang kali aku bisa bantu." tanya Rita.


"Gak apa-apa mbak, saya baik-baik saja kok" jawab Tari sambil menghapus air matanya


"Oh iya mbak mau ngapain ke ruang loker karyawan?" tanya Tari


"Aku kesini sengaja mau nyari kamu." jawab Rita tersenyum.


"Ada apa mbak cari saya?" tanya Tari heran


"Aku mau minta antar nengok ibu aku Tar" pinta Rita dengan raut wajah sedih.


"Boleh mbak" setuju Tari.


Rita tersenyum senang, ia sengaja mengajak Tari menemui ibu nya.


Ia ingin mengenalkan Tari sebagai teman sekaligus adiknya, ia menganggap Tari adiknya sendiri.


Mereka berangkat menggunakan mobil dan di kemudi oleh Rita.


Kini mereka sampai di sebuah rumah megah milik orang tuanya Rita.


Mereka di sambut mbok Inah ART di rumah ini, bi Inah sudah bekerja sejak Rita dan adik kembar nya belum lahir.


"Non Rita apa kabar? sudah lama non gak kesini bibi kangen sama non." sapa bi nah


Oh iya ini teman Rita bi namanya Tari." ucap Rita memperkenalkan Tari.


Tari tersenyum dan mengangguk sopan pada bi Inah dan di balas senyum oleh Bi inah.


"Hehehe bibi lupa, maklum bibi udah mulai tua non,namanya sama yah non Rita sama non Tari tinggal di balik aja." jawab bi Inah cengengesan


"Bibi bisa aja, oh iya lagi ngapain bi?" tanya Rita.


" Ada non di kamar, mari bibi antar" ajak bi Inah


Mereka pergi ke kamar Sinta ibu nya Rita, Tari yang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah ini merasa takjub dengan kemewahan yang ada di rumah ini di isi dengan barang-barang mewah dan mungkin harganya fantastis.


Tari dan Rita memasuki kamar Bu Sinta,dan BI Inah pamit keluar.


"Non permisi bibi mau keluar dapur dulu yah,non Rita sama non Tari mau minum apa? biar bibi buatkan." tawar bi Inah


"Gak usah bi." tolak Tari.


"Iya Bi nanti kita ke bawah sambil ngopi santai" jawab Rita.


"Oh iya kalo begitu bibi permisi non " pamit bi Inah

__ADS_1


di balas anggukan oleh Tari dan Rita.


"Ma kenalin ini Tari teman Rita" Rita memperkenalkan Tari sebagai temannya bukan karyawannya.


Tari mengangguk sopan lalu menyalami tangan Sinta "Delamat pagi nyonya, saya Tari " ucap Tari memperkenalkan diri


"Tari jangan panggil nyonya,panggil mama saja" tegur Rita


Sinta mengangguk setuju,


"Tapi mbak." ucap Tari tapi terpotong oleh Rita


"Tidak ada tapi-tapian gak usah formal gitu ah, anggap aja mama aku mama kamu sendiri yah, aku udah menganggap kamu adik aku sendiri kok" pinta Rita


"iya mbak aku minta maaf." ucap Tari


Sinta yang tak bisa bicara karena sakit keras, hanya bisa menangis, ada yang ingin dia bicarakan namun tak bisa.


Sejak kehilangan satu anak kembarnya Sinta sering sakit-sakitan karena memikirkan anaknya itu, sampai ia terserang stroke sekujur tubuhnya tidak bisa di gerakan.


Sinta sudah di bawa berobat kemana-mana sampai ke luar negeri, seiring berjalannya waktu akhirnya bisa menggerakkan tubuhnya sampai ia bisa berjalan kembali, namun Sinta belum sembuh total ia belum bisa berbicara mulutnya masih kaku.


Tangan Tari masih berada dalam genggaman Sinta, ia duduk di kursi sebelah tempat tidur Sinta.


Sinta mengusap wajah Tari lalu menitihkan air mata lagi.


Ia meraih bahu Tari tanda ia ingin memeluknya, Tari mendekat tubuhnya pada Sinta lalu Sinta memeluknya, Sinta terisak menangis.


Tari membalas pelukan Sinta menepuk-nepuk punggungnya mencoba menenangkannya.


cukup lama posisi mereka seperti itu sampai akhirnya Sinta tertidur.


Rita membantu Tari membaringkan ibunya dan memakaikan ibunya selimut, lalu mengajak Tari ke gazebo yang ada di halaman belakang rumah.


"Mbak nyonya eh maksud aku mama sakit?" Tari bertanya pada Rita.


Sejak tadi ia bingung dan bertanya-tanya dalam hati.


"Iya Tari, sudah lama mama sakit." jawab Rita dan panjang lebar Rita menceritakan riwayat penyakit mama nya itu.


"Kasian sekali mama ya mbak, seandainya saudara kembar mbak di temukan mungkin mama bisa sembuh." harap Tari.


"Entahlah Tari, sampai sekarang kami belum menemukan nya aku kami juga gak tau dia masih hidup atau tidak." tutur Rita tertunduk lemas.


Rita hanya bisa berharap saudara kembarnya itu kembali dalam keadaan hidup, ia ingin ibunya kembali hidup normal seperti sedia kala.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2