
Tanpa Andra ketahui, diam-diam Tari mengajukan resign pada Rita si pemilik toko. Ia telah menyiapkan kan surat pengunduran diri sejak kemarin dan sekarang akan di serahkan pada Rita.
"Tok tok tok." Tari mengetuk pintu ruangan Rita yang berada di lantai paling atas.
"Masuk." ucap Rita tanpa tahu siapa yang mengetuk nya.
"Permisi mbak." ucap Tari sopan.
"Eh Tari ada apa?" tanya Rita.
"Mbak, sebelum nya aku minta maaf aku mau mengajukan pengunduran diri per hari ini." ucap Tari sambil menyodorkan surat pengunduran diri.
"Lho kenapa? kamu udah gak betah disini? apa gaji kamu kurang?" tanya Rita kecewa.
"Gak mbak bukan gitu, aku betah banget disini, gaji aku juga udah lebih dari cukup." ucap Tari
"Ya terus kenapa?" Tanya Rita kembali, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku di suruh istirahat sama suami, karena mulai sekarang aku gak banyak berkativitas dulu." jelas Tari.
"Kamu sakit? atau jangan-jangan." mata Rita melotot dan menutup mulutnya
"Kamu hamil Tar?" tanya Rita dengan wajah yang berbinar.
Tari mengangguk "Iya mbak." ucap Tari tersenyum.
"Waaahhh selamat yah Tari, aku ikut bahagia." ucap Rita hendak memeluk Tari.
"Makasih mbak." ucap Tari.
"Semoga kamu dan calon bayi kamu sehat." ucap Rita kembali sambil mengelus perut Tari yang masih rata dan di amini oleh Tari.
"Tari, apa gak sebaiknya nanti aja kamu resign pas mau lahiran aja. Aku bakalan batasi aktivitas kamu disini biar kamu gak terlalu cape." tawar Rita.
"Gak mbak makasih tawaran nya, aku gak mau kerja gak profesional mbak, lebih baik aku resign aja." ucap Tari.
"Yah aku gak bisa ketemu kamu lagi deh." ucap Rita sedih.
"Mbak tenang aja, lain kali aku maen kesini, atau kalau mbak gak sibuk mbak maen ke rumah aku." ucap Tari menenangkan Rita.
"Iya deh, nanti aku bawa si kembar maen ke rumah kamu." ucap Rita tersenyum.
"Nah gitu dong mbak, lagian kan kita masih bisa bertukar kabar lewat chat, telepon atau video call." ucap Tari
"Iya Tari, kamu fokus aja sama kandungan kamu, jaga calon keponakan aku ya." ucap Rita mengklaim janin yang ada di perut Tari keponakannya.
__ADS_1
"Siap mbak laksanakan." ucap Tari
Hari ini Tari tidak bekerja karena mengajukan pengunduran diri per hari ini, ia menghabiskan waktu di ruangan Rita dengan mengobrol santai. Sampai siang hari tiba Tari pamit undur diri pada Rita dan semua karyawan yang ada di Twins Cake.
Mira yang mendengar kabar bahwa Tari mengundurkan diri karena hamil, ia bahagia sekaligus iri pasalnya tidak ada lagi saingan di Twins Cake, ia bisa dengan leluasanya mengembangkan resep resep baru ciptaanya tanpa di banding bandingan kan dengan hasil karya Tari. Namun ia tetap iri pada Tari karena hamil dan hidup bahagia dengan suaminya, padahal ia sudah mencoba menghancurkan harapannya, namun rencananya itu membawa hikmah untuk Tari.
Mira kesal, ia iri ingin memiliki suami seperti Tari.
"Sial, sepertinya mereka sudah saling menerima." batin Mira.
"Gue harus lakuin sesuatu buat dia, supaya lebih hancur, gue iri sama loe Tari kenapa loe bisa dapetin semuanya dengan mudah?" batin Mira kesal.
Dua jam sebelum Andra pulang, ia sudah berada di rumah. Dengan baju setelan rumahan dress kebangsaan emak-emak Tari duduk selonjoran di sofa sambil menonton tv, sungguh ia menikmati momen santai seperti ini.
"Oh ya hampir lupa belum ngasih tau Andra." gumamnya.
Tari mengambil handphone nya di meja dan membuka aplikasi hijau lalu menelepon suaminya.
"Tuuutt tuuutt." panggilan masih berdering, tidak lama kemudian terdengar jawaban dari sebrang sana.
Andra : "Assalamualaikum, ada apa Bun?"
Tari : "Bun? ini Tari mas bukan Bubun."
Andra : "Bun itu bunda maksudnya bukan Bubun, gak peka amat sih."
Andra : "Ya bukan, kamu kan bunda nya anak mas hehehe."
Tari : "Terserah lah, oh iya mas hari ini aku pulang telat kayaknya abis magrib deh. Mas pulang duluan aja, nanti aku kabarin kalau udah beres."
Andra : "Lembur lagi yah?"
Tari : "Iya mas, banyak orderan."
Andra : "Tuh kan mas bilang apa, sebaiknya kamu resign aja, inget kata dokter jangan terlalu banyak aktivitas."
Tari : "Iya iya nanti aku pikirkan lagi mas, udah yah aku tutup dulu. Assalamualaikum."
Andra : "Waalaikumsalam."
Tari berbohong pada Andra Karena ia ingin memberi kejutan untuk suaminya. Padahal dari tadi Tari di rumah, melakukan aktivitas nya di dapur untuk menyiapkan makan malam.
Beberapa jam kemudian Andra tiba di rumah nya, ia membuka pintu gerbang sendiri dan memarkirkan mobilnya lalu menutup gerbang nya lagi. Dengan langkah gontai ia memasuki rumah, ia tak bersemangat karena tidak bisa langsung melepas kerinduannya pada mahluk kecil yang ada di perut istrinya itu.
"Assalamualaikum." ucap Andra ketika masuk rumah, sudah menjadi kebiasaan Andra sejak kecil ketika memasuki rumah selalu mengucapkan salam walaupun di rumah tidak ada orang.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
"Deg." jantung Andra berdegup kencang ia heran siapa yang menjawab salamnya, padahal di rumahnya tidak ada orang, lalu ia mencoba mengucapkan salam kembali.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Setaaaaannnnn." teriak Andra hendak berlari dan membuka pintu namun baru saja ia memegang handle pintu terdengar teriakan dari arah kamar.
"Setaaaaann mana setan mana?" tidak sadar Tari berlari menghampiri Andra.
Andra heran melihat istrinya ada di depan matanya, apakah benar dia Tari? bukan nya Tari sedang lembur?
"Kamu setan kan?" tunjuk Andra ketakutan melihat Tari.
Tari menepis telunjuk Andra, melotot dan melipat bibirnya.
"Sembarangan kamu bilang aku setan mas." ucap nya kesal.
"Terus kamu siapa kalau bukan setan?" tanya Andra masih ketakutan.
"Aku Tari mas." jawab Tari
"Gak kamu bukan Tari, Tari lagi di tempat kerja nya, kamu pasti nyamar kan jadi istri saya hah?" bentak Andra.
"Tega kamu mas ngatain aku setan." ucap Tari mulai berkaca-kaca, semenjak ia hamil hatinya jadi sensitif.
"Ka-kamu Tari, beneran Tari?" tanya Andra terbata
"Iya, aku Tari mas tega ngatain aku setan terus. Emang aku menyeramkan ya?" tanya Tari terisak.
"Astagfirullah, mas minta maaf mas gak tau kamu ada di rumah soalnya tadi kamu bilang kan lagi lembur." ucap Andra ia membawa Tari ke pelukannya dan mengusap rambut Tari.
"Tau ah, aku bete sama mas." ucap Tari merajuk melepas pelukan Andra.
"Jangan gitu dong Bun, mas kan udah minta maaf." ucap Andra memohon.
"Pokonya aku marah sama mas titik." ucap Tari marah.
Niatnya ingin memberi kejutan malah berakhir dengan kejadian tak mengenakkan.
.
.
__ADS_1
.