
"Ibu Mentari?" panggil assiten dokter obgyn di rumah SAYANG IBU rumah sakit ibu dan anak.
Tari dan Andra segera beranjak dari sofa yang berada di ruang tunggu.
"Silahkan masuk pak, bu." ucapnya ramah mempersilahkan Tari dan Andra masuk.
"Terima kasih sus." ucap Tari ramah dan di jawab dengan anggukan suster.
Andra dan Tari menghampiri dokter Heni, dokter spesialis obgyn.
Dokter Heni tersenyum ramah dan menyapa Andra dan Tari.
"Silahkan bu, pak ada yang bisa saya bantu?" ucapnya.
"Saya mau memeriksakan kandungan saya Dok, saya telah datang bulan dan tadi bagi saya tes hasilnya positif." jelas Tari.
"Oh begitu, mari bu silahkan." dokter Heni beranjak dari tempat duduknya dan mempersilahkan Tari ke tempat pemeriksaan.
Tari berbaring disana, kemudian seorang suster menyingkapkan baju Tari dan mengolesi perut Tari dengan gel khusus untuk USG lalu dokter Heni meletakan transduce dan menggerakkan alat itu di perut Tari.
Andra dan Tari melihat calon anak mereka yang baru sebesar biji kacang hijau di layar monitor.
Mereka terharu meneteskan air mata.
"Allhamdulilah calon anak bapak dan ibu sehat, perkiraan usia nya sekitar tiga minggu." ucap sang dokter.
Cukup lama dokter memeriksanya dan menjelaskan semua pada calon orang tua sang jabang bayi. Lalu dokter Heni mengelap gel yang ada di perut Tari dan mempersilahkan Tari dan Andra untuk duduk kembali.
"Karena usia kandungan ibu masih trimester pertama, masih rentan bu. Sebaiknya ibu tidak terlalu banyak aktivitas dulu, harus banyak istirahat ya bu." saran dokter Heni.
"Tapi Dok saya bekerja, jadi bagaimana?" tanya Tari.
"Tidak apa-apa bu, asal jangan terlalu berat saja, Nanti saya buatkan resep vitamin saya obat penguat kandungan bu." ucap dokter Heni.
"Iya Dok makasih, untuk makanan ada yang di yang di pantang tidak Dok?" tanya Tari lagi.
"Untuk makanan ibu bebas makan apa saja kecuali makanan laut yang banyak mengandung merkuri tinggi makanan yang mentah dan setengah matang. Seperti sate, steak jangan dulu ya bu, buah nanas yang berlebihan itu juga jangan.
Pokoknya yang ibu makanan harus yang masak dan higienis." jelas sang dokter.
"Oh iya iya dok." jawab Tari mengangguk paham.
"Dan satu lagi, bapak tolong jaga ibu jangan sampai ibu stres dan sedih. Karena itu resiko tertinggi mengalami keguguran." saran dokter Heni.
"Iya dok saya akan berusaha." ucap Andra.
"Harus ya pak, ada yang di tanyakan lagi?" tanya dokter Heni.
"Tidak ada dok." jawab Andra dan Tari kompak.
"Ya sudah saya buatkan dulu resep nya, di tunggu ya pak bu." ucap nya lagi
__ADS_1
Dokter Heni menuliskan resep obat dan vitamin untuk Tari selama satu bulan, lalu menyerahkannya pada Tari.
"Ibu ini resep obat dan vitamin selama satu bulan, dan ini buku untuk pemeriksaan selanjutnya. Jadwal pemeriksaan ibu bulan depan yah bu, tapi jika ada keluhan ibu bisa datang sebelum jadwal.
Terima kasih, semoga ibu dan janinnya sehat." jelas dokter Heni.
"Aamiin, makasih dok, mari Dok." pamit Tari ramah sambil mengangguk sopan dan di ikuti oleh Andra.
Andra dan Tari berjalan menuju apotek rumah sakit yang tak jauh dari ruangan dokter obgyn.
"Kamu tunggu disini aja ya, mas mau tebus obat dulu." titah Andra.
"Iya mas." ucap Tari.
Tari menunggu Andra di ruang tunggu dokter obgyn, ia duduk santai, namun tak sengaja mata Tari melihat Mira sedang duduk di ruangan yang sama dengan Tari.
Mira memakai masker dan kacamata karena takut ada yang mengenali, namun Tari tetap mengenalinya.
"Mira? itu kan Mira? gak salah lagi, itu Mira. Tapi ngapain dia disini?" batin Tari dengan banyak pertanyaan.
Tari berniat untuk menghampirinya tapi ia urungkan niatnya, karena tidak ingin berhubungan lagi dengan Mira.
"Ibu Mira?" panggil assiten dokter, lalu Mira masuk.
"Tuh kan bener Mira, tapi mau ngapain dia ke dokter obgyn?" batin Tari, ia terus berbicara sendiri dalam hati.
"Udah yuk, kita pulang." ajak Andra.
"Astagfirullah, kaget aku mas." ucap Tari kesal.
"Perasaan mas gak ngagetin deh, kamu nya aja yang gak fokus. Bengong aja, kenapa sih?" ucap Andra
"Mas barusan aku liat Mira masuk ke ruangan dokter obgyn." ucap Tari sambil berjalan dengan Andra menuju parkiran rumah sakit.
"Ya terus kenapa?" tanya Andra enteng.
"Ya aku heran aja, ngapain coba Mira ke dokter obgyn? dia kan belum nikah." tanya Tari.
"Yang datang ke dokter obgyn itu tidak melulu wanita yang sudah menikah Tari istriku yang paling cantik." ucap Andra menggoda Tari.
"Ya iyalah istri mas kan cuma aku, jelas dong aku yang paling cantik." ucap Tari kesal.
"Cie yang udah ngaku jadi istri aku." ucap Andra terkekeh tetap menggoda Tari.
"Ya kali udah mau punya baby, masa bapaknya gak di akuin terus." ucap Tari terkekeh.
"Iya tuh kasian si baby, gak bapaknya gak di anggap." ucap Andra.
"Itu sih bapaknya yang kasian bukan baby nya hahaha." tawa Tari.
"Oh iya mas, balik lagi ke permasalahan Mira." ucap Tari
__ADS_1
"Udah lah ngapain sih ngurusin masalah Mira, mending urus masalah kita aja." protes Andra yang mulai kesal istrinya ngajak ghibah terus 😄
"Ih kamu mah gitu mas." ucap Tari sebal.
"Lagian kamu lagi hamil juga, kasian si baby di ajakin ghibah terus sama emaknya, gak baik tau.
Ngapain juga bahas masalah orang lain mending bahas masalah kita." ucap Andra.
"Iya deh maaf maaf, emang kita punya masalah apa mas?" ucap Tari nada nya sudah mulai turun.
"Masalah nya, kamu sekarang kan lagi hamil mas boleh gak minta sesuatu?" tanya Andra serius.
"Sesuatu? apa mungkin Andra mau meminta haknya?" batin Tari bertanya-tanya.
"Kenapa diem aja hm?" tanya Andra sambil pandangannya fokus ke depan untuk menyetir.
"Ah iya, mas mau minta apa?" tanya Tari melemah.
"Mas minta kamu berhenti bekerja, bisa gak?" pinta Andra.
"Tapi kenapa mas?" tanya Tari tak terima.
"Sekarang kan kamu lagi hamil, mas takut terjadi sesuatu sama kalian." ucap Andra sambil mengelus perut Tari.
"Aku bisa jaga dia dengan baik mas, tapi gak harus berhenti kerja juga kan." ucap Tari.
"Iya Tari mas tau, tapi ada baik nya kita mencegah sebelum terjadi. Kamu dengar kan apa kata dokter tadi? tidak boleh banyak aktivitas, apalagi aktivitas berat. Kalau kamu bekerja tidak menjamin kamu tidak banyak aktivitas, apalagi kata kamu toko sedang rame-rame nya dengan orderan cake buatan kamu kan?" jelas Andra panjang lebar.
"Iya mas aku tau, tapiiii." ucap Tari dan di potong oleh Andra.
"Mas masih mampu biayain kamu, mas mampu ngasih uang bulanan buat ibu dan bapak. Kamu tenang aja Tari kita tidak akan kesulitan ekonomi hanya karena kamu tidak bekerja. Toh selama ini uang gaji kamu tetap utuh kan? tidak ada pengeluaran rumah tangga dengan memakai uang kamu.
Kamu cukup diam saja di rumah, doa kan mas supaya rezeki mas lancar." ucap Andra sambil mengelus kepala Tari yang seakan mengerti apa yang Tari pikirkan.
Tari berpikir jika ia tidak bekerja, ia tidak bisa membantu ayah dan ibu nya.
Padahal ibu dan ayahnya sendiri tidak pernah meminta bantuan Tari, gaji ayahnya saja sudah cukup untuk hidup mereka berdua.
Uang yang selama ini Tari berikan untuk mereka, ibu nya tabungan di bank untuk simpanan jika ada sesuatu yang penting.
Dan selama Tari menikah dengan Andra, uang gaji Tari tetap utuh karena Andra melarang Tari untuk memberi jatah bulanan untuk orang tuanya dari gaji Tari.
Semua kebutuhan mereka Andra yang handle, termasuk uang bulanan untuk orang tua Tari.
"Iya mas, akan aku pertimbangkan."
.
.
.
__ADS_1