
Setelah sholat magrib Andra dan Tari menuju food court yang berada di lantai tiga gedung supermarket. Mereka memesan beberapa makanan untuk makan malam.
"Mas minumnya mau apa?" tanya Tari yang sedang berada di salah satu kedai yang menyediakan makanan dan minuman.
"Apa aja terserah kamu, samain." ucap Andra.
"Oke, mbak es jeruknya dua yah, sama air mineral nya satu." pesan Tari pada pelayanan kedai.
"Iya kak, jadi paket nasi ayam geprek nya satu, paket nasi ayam bakar satu, banana split nya satu, kentang goreng satu, es jeruk dua sama air mineral satu. Ada tambahan lagi kak?" tanya kasir.
"Gak ada mbak, udah cukup." ucap Tari ramah.
"Total semuanya seratus lima belas ribu rupiah kak." ucap kasir kedai itu.
Tari menyarankan uang lembar berwarna merah dan berwarna biru. Lalu kasir itu menyerahkan uang kembaliannya.
"Terima kasih kak, di tunggu pesanannya kamu akan segera mengantarnya." ucap Kasir.
"Sama-sama mbak." ucap Tari.
Tari dan Andra mencari tempat duduk yang nyaman menurut mereka.
"Mas di sana yuk." ajak Tari menunjukan tempat duduk berupa sofa dengan satu meja.
"Iya sayang ayo." ucap Andra dan menuju di tempat duduk yang Tari tunjukan.
Mereka duduk di tempat itu sambil menunggu pesanannya datang.
"Mas tadi di pintu utama toko bulan aku melihat Mira sedang ngobrol sama karyawan disana." ucap Tari.
"Ya terus kenapa?" tanya Andra santai.
"Aku gak sengaja denger percakapan mereka, Mira kayak ngancam-ngancam karyawan itu. Mira nyuruh dia deketin kamu, dia mau rumah tangga kita hancur mas." ucap Tari.
"Gak ada habisnya ya bikin kamu hancur, dasar ular." umpat Andra.
"Kalau gak salah nama karyawan itu Dena mas, aku denger samar-samar soalnya." ucap Tari.
"Dena? ada hubungan apa dia sama Mira?" gumam Andra.
"Mas kenal dekat sama Dena?" tanya Tari.
"Iya sayang, dia salah satu karyawan divisi youth girl yang berada di bawah pimpinan mas." ucap Andra.
"Pantes aja dia pernah mepet-mepet sama mas, rupanya ada dalang di balik semua ini." ucap Andra.
"Mas pernah di godain Dena?" tanya Tari.
__ADS_1
"Iya, tapi mas gak pernah ladenin dia." ucap Andra.
"Kenapa mas gak tergoda sama dia? dia cantik loh." ucap Tari.
"Kok gitu sih nanya nya?" ucap Andra tak terima.
"Ya kali aja mas tergoda, dia cantik apalagi masih perawan ting-ting." ucap Tari memancing.
"Mau dia perawan ting-ting juga mas gak peduli, mas kan udah punya bidadari cantik yang setia nunggu mas di rumah, dia lebih dari segalanya." goda Andra.
"Bisa aja kamu mas." ucap Tari tersipu malu.
"Di mata mas cuma kamu yang paling cantik, mau di tawarin perawan ting-ting cantik juga mas gak mau, lagian belum tentu dia masih perawan." ucap Andra.
"Hus jangan sembarang mas kalau ngomong, bisa jadi fitnah loh itu." tegus Tari.
"Mas gak akan sembarangan bicara kalau tidak ada bukti." ucap Andra.
"Mas kok tau di bukan perawan? apa jangan-jangan mas...?" Tari menggantung pertanyaannya.
"Bukan gitu, mas pernah mergokin dia jalan sama om-om masuk ke salah satu hotel. Mau ngapain lagi coba ke hotel sama om-om?" ucap Andra Curiga.
"Jangan suudzon mas, siapa tau itu bapaknya." ucap Tari.
"Masa sama bapak sendiri mesra-mesraan? lagian bapaknya Dena udah meninggal." ucap Andra.
"Kasian kenapa?" tanya Andra heran kenapa istrinya iba pada wanita yang menggoda suaminya.
"Sepertinya dia terpaksa melakukan pekerjaan itu, dia sudah terikat kontrak sama orang yang suka menjualnya." ucap Tari.
"Kok kamu tau?" tanya Andra.
"Kan udah aku bilang, aku gak sengaja dengar percakapan mereka. Mira menawarkan akan membebaskan dia dengan kontrak kerjanya asalkan dia mau menghancurkan rumah tangga kita, Tapi Dena menolaknya, dia gak mau, di bahkan rela tetap menjalankan pekerjaan kotornya itu dari pada harus menghancurkan rumah tangga kita." jelas Tari.
"Dia masih kerja? padahal Denis udah siap-siap melamar dia loh, Denis berniat menikahi Dena." ucap Andra.
"Denis temen mas itu? apa Denis tau tentang Dena?" ucap Tari.
"Makanya mas penasaran, sebaiknya mas tanya dia pelan-pelan." ucap Andra berniat akan menyelok Denis.
Tidak lama kemudian pesanan mereka datang, mereka menghabiskan makanannya sampai tak tersisa, karena sudah kebiasaan mereka sedari kecil untuk tidak membuang makanan.
"Tari?" tanya seorang wanita yang baru menyadari keberadaan Tari di samping tempat duduk mereka.
"Mbak Rita? haaii apa kabar?" Tari memeluk Rita karena ia senang bisa bertemu dengan mantan majikannya.
"Allhamdulilah baik mbak, haaiii baby twins apa kabar?" Tari beralih menyapa kedua anak kembar Rita yang berada dalam asuhan baby sitter nya masing-masing.
__ADS_1
"Baik aunty." ucap Rita mewakili kedua anaknya.
Tidak berselang lama datanglah Sinta, ia duduk di kursi roda dan di dorong oleh suaminya Aryo.
"Hai sayang, maaf kami telat." ucap Aryo menyapa putrinya.
"Iya pah gak apa-apa, kebetulan ini ada Tari sama suaminya." ucap Rita.
"Apa kabar mah, pak?." sapa Tari pada kedua orang tua Rita lalu menyalami mereka dan di ikuti oleh Andra.
"Allhamdulilah baik Tari." ucap Aryo.
Namun pada saat Andra menyalami sinta, tiba-tiba Sinta memeluk Andra dan menangis.
Ia meraba wajah Andra, di cium nya kedua pipi Andra.
"De-devan." satu kata keluar dari mulut Sinta,
Semua orang menohok melihat Sinta mengeluarkan suara. Hampir dua puluh tahun ia tidak bisa berbicara karena ia mengalami stroke berat, dan ini pertama kalinya anak dan suaminya mendengar ia berbicara lagi.
"De-van Devan kamu Devan anak mamah." ucap Rita.
"Saya Andra Tante, suami Tari." ucap Andra kebingungan melihat tingkah ibunya Rita, pasalnya ini pertama kalinya ia bertemu dengan wanita setengah baya itu.
"Allhamdulilah mah, akhirnya mamah bisa bicara." ucap Rita bersyukur, ia tidak bisa menahan tangis harunya.
"Devan ini Devan anak mamah." Sinta terus menyebut nama Devan.
"Ini Andra mah bukan Devan." ucap Rita membenarkan.
"Ini Devan, kamu kemana aja nak? mamah kangen." tanya Sinta pada Andra, ia menitihkan air matanya kembali dan kini ia menggenggam terus tangan Andra.
"Tante, saya bukan Devan yang Tante maksud. Saya Andra suaminya Tari." ucap Andra yang terlihat masih bingung.
"Tidak, kamu Devan anak mamah. Jangan pergi lagi Devan mamah mohon, kembali lah." ucap Sinta.
"Andra maafkan istri saya sudah mengganggu kenyamanan kamu dan Tari. Kami sudah lama kehilangan anak laki-laki kami dan kalaupun masih ada sekarang dia pasti seumuran kamu, mungkin karena istri saya sangat merindukan anak kami jadi ia berprilaku seperti ini, seolah kamu anaknya. Tapi yang saya heran istri saya bisa langsung bicara ketika bertemu dengan kamu, Allhamdulilah ini suatu keajaiban." terang Aryo.
"Tidak apa-apa om, saya tidak keberatan." ucap Andra.
"Terima kasih nak Andra." ucap Aryo.
"Sama-sama om." ucap Andra.
.
.
__ADS_1
.