Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 12


__ADS_3

Tak terasa usia pernikahan mereka kini menginjak tiga bulan. Kini kedua orang tua Tari mengharapkan kabar baik dari anak dan menantu nya itu.


Mereka mendambakan seorang cucu,mereka harap ada kabar baik di bulan ini.


"Pak udah tiga bulan loh anak kita menikah, tapi sepertinya belum ada kabar baik ya pak?" ucap Bu Sumi gelisah


"Sabar lah Bu, mungkin Alloh belum mempercayai mereka." pak Syarip menenangkan sang istri.


"Gak bisa di biarkan ini pak, kita harus bertindak" tekad Bu Sumi.


"Lah ibu mau ngapain memang nya?" tanya pak Syarip.


"Ibu mau ke tempat si ayu jamu dulu pak, mau beli jamu subur makmur hahahaha" gelak Bu Sumi.


Bu Sumi berniat mengunjungi rumah anak menantunya untuk memberikan jamu penyubur kandungan, berhubung siang hari mereka tidak ada di rumah karena sama-sama sibuk kerja, Bu Sumi mengurungkan niatnya.


Ia berencana mengunjungi rumah mereka selepas isya saja.


Di kediaman Andra selepas sholat isya Tari duduk santai di depan tv, sambil menyantap Snack yang ia beli beberapa hari yang lalu.


Tok tok tok, terdengar ada yang mengetuk pintu di luar sana.


"Assalamualaikum nak?" panggil Bu Sumi.


"Waalaikumsalam." Tari melenggang pergi membuka pintu.


Ketika pintu terbuka Tari langsung menyalami ibu dan bapaknya itu, ia menghambur ke pelukan ibu nya. Tari merindukan bermanja-manja dengan ibunya.


"Ibu Tari kangen." ucap Tari


"Sama nak ibu juga kangen, makanya ibu sama bapak datang kesini." Bu Sumi membalas pelukan anaknya dan mengusap rambut Tari.


"Sama bapak gak kangen?" ucap pak Syarip berpura-pura cemburu.


"Kangen dong pak hehehe." Tari menghambur ke pelukan bapaknya.


"Suami mu mana nak?" tanya Bu Sumi


"Lagi ke mesjid Bu, paling juga dia ngerumpi dulu sama bapak-bapak ghibah Bu" ucap Tari seenak nya.


Tiga bulan Tari tinggal disini, Ia sudah paham dengan kebiasaan bapak-bapak disini yang suka mengghibah mengalahkan ibu-ibu.


Para ibu-ibu disini kebanyakan diam di rumah, jarang ada yang berkumpul untuk ghibah bahkan ketika berkumpul membeli sayur juga mereka hanya saling menyapa tidak banyak bicara, fokus dengan belanjaannya masing-masing.


"Aneh kamu nak,masa bapak-bapak ngerumpi? dimana-mana ibu-ibu yang senang ngerumpi" protes pak Syarip.


"Tapi disini beda pak, malah kebalik hahaha." jelas Tari sambil tertawa

__ADS_1


"Assalamualaikum, bapak ibu kapan datang?" Andra pulang dari mesjid lalu menyalami kedua mertuanya.


"Barusan nak." ucap pak Syarip tersenyum


"Ya sudah masuk pak, Bu." ajak Andra.


Mereka masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi ruang tamu sekaligus ruang tv.


"Bentar pak bu Tari ambilkan minum dulu." ucap Tari berniat bangun dari duduknya, namun tangan nya di tahan oleh ibunya.


"Tunggu dulu ibu mau bicara sama kalian." cegah Bu Sumi.


"Bicara apa Bu?" tanya Tari heran.


"Tari, Andra kalian menikah sudah menginjak tiga bulan.


Tapi ibu belum mendengar kabar baik,apa kalian menundanya?" pertanyaan Bu Sumi.


"Enggak kok bu, mungkin Alloh belum ngasih aja " jawab Tari seenaknya.


Bagaimana Alloh tidak memberi kalau tidak ada usahanya?🤭.


"Kalau memang kalian tidak menundanya, mungkin ada baiknya kalian berikhtiar supaya segera di karunia keturunan.


Ini ibu bawa jamu penyubur kandungan, coba kalian minum jamu ini, siapa tau setelah minum jamu ini kalian akan ada kabar baik buat ibu sama bapak." jelas Bu Sumi semangat.


"Tidak ada tapi tapian, kalian coba minum ini boat ibu buatkan buat kalian." belum sempat Tari melanjutkan pembicaraannya Bu Sumi langsung memotong nya.


Bu Sumi melenggang pergi ke dapur dan membuatkan dua gelas jamu untuk anak dan menantunya itu.


"Nih kalian minum." titah Bu Sumi menyodorkan kan gelas pada Tari dan Andra.


Tari dan Andra terdiam dan menerima gelas itu mereka saling menatap, seperti saling berbicara dari hati ke hati


"Gimana ini Dra?"


"Ya gak apa-apa lah minum aja, cuma jamu ini."


"Beneran nih gak apa-apa? kok piling aku gak enak ya."


"Percaya deh sama aku, cuma jamu gak bakalan kenapa-kenapa kok."


"Kenapa malah saling menatap gitu." Bu Sumi membuyarkan lamunan Andra dan Tari.


Andra nyengir kuda " hihihi gak apa-apa Bu, nih Andra minum." Andra meneguk jamu itu sampai habis di susul Tari mengikutinya.


"Nah gitu dong" seru Bu Sumi.

__ADS_1


"Bu udah malam pulang yuk, barang kali Andra sama Tari mau istirahat." ajak pak Syarip yang tau akan terjadi sesuatu setelah ini.


"Gak usah buru-buru pak santai aja, kami biasa tidur agak malam kok.


Kasian Tari masih kangen sama ibu dan bapak." ucap Andra.


Ia merasa kasian dengan istrinya itu, karena sudah membawa tinggal bersamanya dan jauh dari orang tuanya.


Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah kewajiban seorang istri mengikuti suaminya dimana pun ia tinggal.


"Nanti saja ibu dan bapak kesini lagi jika ada waktu luang, atau kalian kesana ke rumah kami.


Sekali kali nginep di sana." pinta pak Syarip.


"Ya udah kami pamit dulu yah Tari Andra." ucap Bu Sumi.


Tari dan Andra menyalami kedua orang tua mereka,dan mengantar mereka sampai depan pintu.


setelah motor mereka melaju pergi, Andra mengunci pagar dan pintu rumah nya.


Karena mereka tidak berencana untuk kemana mana.


Tiba-tiba Andra merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya.


"Kok jadi gerah gini ya? padahal tadi cuaca nya dingin deh." gumam Andra sambil mengibaskan tangannya.


Ia berjalan menuju kamar, berniat untuk mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek rumahan karena saat ini ia masih memakai baju Koko dan sarung.


Namun saat Andra masuk ke dalam kamar ia mendapati Tari yang sama-sama kepanasan sambil mengibaskan tangannya.


"Tar loe kenapa? gerah juga?" tanya Andra.


"Iya nih dra tiba-tiba gue jadi kepanasan gini gerah banget, padahal ini udara nya dingin deh abis ujan seharian." ucap Tari, tak hentinya ia mengibaskan tangan nya.


"Sama nih Tar gue juga, aneh yah? panas nya kebangetan." ucap Andra heran


"Apa mungkin pengaruh jamu itu kali yah? aarrghh ada apaan sih di dalam itu jamu jadi panas gini." ucap Tari frustasi.


"Gak tau, mungkin mengandung api hahaha." ucap Andra tertawa ia mencoba menetralkan gejolak yang ada di dalam dirinya dengan bercanda.


Lalu mereka terdiam dan saling menatap, Andra mengangguk kan kepalanya tanda ia meminta ijin untuk meminta haknya karena Tari juga sama tidak bisa menahannya, entah sadar atau tidak Tari pun mengangguk tanda ia setuju dan akhirnya terjadilah sesuatu di antara mereka.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2