Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 44


__ADS_3

"Mbak kami duluan ya." pamit Tari pada Rita.


"Oh iya Tari silahkan." ucap Rita.


Tari dan Andra menyalami kedua orang tua Rita namun Sinta menahan Andra untuk tidak pergi.


"Jangan pergi Devan, jangan tinggalkan mama lagi. Mama mohon nak." Sinta menitihkan air matanya kembali.


"Ma, dia Andra bukan Devan." ucap Rita.


"Tidak Rita, dia itu Devan saudara kembar kamu yang telah lama hilang." ucap Sinta.


Andra merasa iba melihat Sinta, hatinya mencelos melihat perlakuan Sinta yang menganggap dia sebagai anaknya yang telah lama hilang. Andra yang sejak kecil tidak tau orang tuanya, ia juga merindukan orang tuanya. Entah kenapa pada saat bertemu keluarga Rita ia merasa sudah lama dekat dengan keluarga Rita, merasa bahwa keluarga Rita adalah keluarganya sendiri.


"Devan mama mohon jangan tinggalkan mama lagi nak." Sinta terisak di pelukan Andra, pada saat Andra akan mencium tangan Sinta, Sinta langsung memeluk Andra.


Andra membalas pelukan Sinta, pelukan seorang ibu yang telah lama ia rindukan. Tanpa terasa ia meneteskan air matanya.


"Tante Andra pulang dulu, besok Andra ke rumah Tante. Andra janji." Andra mengusap punggung Sinta tanpa melepas pelukannya.


"Devan janji?" ucap Sinta melepaskan pelukannya lalu ia memegang kedua pipi Andra.


"Iya tante janji, kasian istri Andra dia sedang hamil besar, dia butuh istirahat." ucap Andra.


"Tari sini nak." ucap Sinta kini tatapannya beralih pada Tari lalu Tari menghampiri Sinta.


Di usapnya perut besar Tari, ternyata mendapat respon dari si jabang bayi. Sepertinya ia tau yang mengusap perut ibunya itu adalah neneknya.


"Lihatlah dia bergerak." ucap Rita terkejut senang melihat pergerakan di perut Tari.


"Sayang ini nenek." ucap Sinta kembali menitihkan air matanya.


"Ma udah jangan nangis lagi." Tari mengelus punggung Sinta.


"Titip cucu mama ya nak." ucap Rita dan di balas dengan anggukan Tari.


Lalu Tari dan Andra berpamitan pada mereka untuk segera pulang.

__ADS_1


"Mas kok aneh ya, mama nya mbak Rita menganggap kamu Devan? apa kamu mirip sama Devan saudara kembar nya mbak Rita?" tanya Tari sambil memakai seatbelt nya.


"Mas juga gak tau sayang, tapi yang mas lebih aneh lagi sama perasaan mas." ucap Andra.


"Kenapa memangnya?"


"Entahlah, pas ketemu sama mbak Tari dan keluarganya gak tau kenapa hati mas tuh merasa dekat sekali dengan mereka." Andra menceritakan perasaannya sambil melajukan mobilnya.


"Kok bisa? apa jangan-jangan mas tuh sebenernya adalah Devan?" canda Tari.


"Mana mungkin? hahaha." tawa Andra.


"Bisa aja mas, sejak kecil kan mas tinggal di panti dan mas gak pernah tau siapa orang tua mas. Bagaimana kabar mereka? apakah masih ada atau tidak?" ucap Tari.


Andra tidak pernah menanyakan tentang orang tuanya pada pihak panti, Andra tidak siap menerima kenyataan. Karena menurut Andra anak yang di asuh di panti asuhan itu adalah anak yang di buang oleh orang tuanya atau orang tuanya sudah meninggal.


"Mereka orang kaya, sedangkan mas gak ada tampang orang kaya sama sekali jadi mana mungkin mas keluarga mereka? hahaha." Andra menganggap ucapan Tari itu adalah lelucon.


"Tapi mas, aku juga heran sama mama nya mbak Rita. Sejak pertama ketemu, beliau langsung peluk aku terus dia nangis ya seperti apa yang tadi beliau lakukan sama mas. Padahal kata mbak Rita beliau tidak pernah seperti ini sebelumnya jika bertemu orang asing." ucap Tari heran.


Pandangan Andra beralih pada Tari dengan tatapan serius.


"Iya mas, aku kan pernah cerita sama mas waktu itu." ucap Tari.


Andra mengangguk mengiyakan.


"Mas?"


"Hmm?"


"Apa sebaiknya mas bertanya pada pihak panti?" usul Tari.


"Bertanya tentang apa?" tanya Andra.


"Tentang orang tua mas." ucap Tari ragu-ragu takut menyinggung Andra.


"Sudahlah jangan bahas itu, biarkan mas seperti ini tanpa tau siapa orang tua mas. Toh pada kenyataannya nanti pasti akan menyakitkan, jadi lebih baik mas tidak tau." ucap Andra.

__ADS_1


"Kalau pada kenyataannya orang tua mas sudah tidak ada, mas harus mengikhlaskannya dan kalau misalnya orang tua mas sengaja menitipkan mas di panti, mas juga harus memaafkannya. Mungkin ada alasan yang kuat sampai orang tua mas menitipkan mas di panti." jelas Tari.


"Siapa tau mas adalah korban penculikan yang di temukan ibu panti? mungkin orang tua mas masih mencari mas sampai sekarang, bagaimana nasib orang tua mas? apa mungkin seperti orang tua mbak Rita? kalau memang begitu kasian kan mas. Apa mas tega?" Tari terus nyerocos dan Andra hanya diam menyimaknya.


"Sebaiknya mas harus bertanya pada pihak panti, Mas bukan anak kecil lagi, mental mas pasti lebih kuat. Aku yakin." ucap Tari.


"Udah ngobrol nya? nih minum dulu." Andra menyodorkan sebotol air mineral.


"Cape juga ya, hehe." Tari menunjukan deretan gigi putihnya, lalu meminum air yang suaminya berikan.


"Ini mau langsung pulang aja apa mau lanjut kemana lagi?" Andra mengalihkan pembahasan tentang orang tuanya.


"Langsung pulang aja, kasian mas cape pulang kerja langsung di ajak hunting perlengkapan si baby." ucap Tari.


"Mas sih gak apa-apa, justru mas takut kamu nya yang cape." ucap Andra.


"Pulang aja mas, lagian udah gak ada yang harus di beli lagi. Paling tinggal yang lainnya nanti aku pesan online aja." ucap Tari.


"Iya sayang." ucap Andra lembut.


Kini mobil Andra sudah sampai di depan rumah mereka, Andra keluar dari mobil untuk membuka pintu gerbang rumahnya lalu ia kembali masuk ke dalam mobil dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah, stelah itu ia menutup kembali gerbangnya.


Mereka sama-sama masuk ke dalam rumah.


"Mas mau mandi sekarang? biar aku siapkan ai hangat." tawar Tari.


"Gak usah sayang, mas mandi pake air dingin aja biar seger." tolak Andra halus.


"Udah malem lho mas, nanti masuk angin lagi." ucap Tari.


"Gak apa-apa sayang, mas gak kuat gerah." Andra menyambar handuk yang ada di jemuran tempat handuk lalu masuk kamar mandi.


Sementara Tari membereskan barang belanjaan mereka tadi, ia memasukan semua baju-baju calon anaknya yang masih ada dalam kantong belanjaan ke dalam lemari karena nanti ketika sudah dekat hari lahirnya, Tari akan mencuci dahulu baju-baju itu. Lalu Tari menata skin care untuk calon baby nya ke dalam keranjang. Setelah selesai semuanya Tari mengganti pakaiannya dengan daster tanpa lengan sebatas lutut, menampakan perut buncitnya dan pusarnya yang sedikit menonjol karena bayi yang ada dalam kandungan Tari adalah laki-laki, biasanya ketika hamil besar pusat akan sedikit menonjol apabila bayi yang di kandungnya adalah bayi laki-laki. Entah mitos atau fakta karena pada kenyataannya kebanyakan yang mengandung bayi laki-laki pusarnya akan sedikit menonjol ketika hamil besar (termasuk author 🤭)


"Ceklek." pintu kamar terbuka, Andra baru saja selesai mandi. Ia masih menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya.


Semakin besar kandungan Tari, tubuh Tari terlihat semakin menggoda apalagi dengan balutan daster seperti itu membuat Andra tidak tahan ingin memakannya 😍

__ADS_1


Andra mendekati Tari, ia memeluk istri kesayangannya itu dari belakang. Di elus perut buncitnya perlahan, lalu ia membisikan sesuatu pada telinga Tari.


"Sayang, mas pengen."


__ADS_2