
"Pak Syarip bengong aja, kenapa pak? aku membunyikan klakson lho dari tadi" tanya Rita yang membuyarkan lamunan Syarip, ia meminta Syarip membukakan gerbang.
Rita dan suaminya serta anak kembarnya sengaja berkunjung ke rumah peninggalan kakek dan neneknya yang sekarang tidak di huni oleh siapapun, rumah ini hanya di pakai untuk berkumpul anak dan cucu Aksajaya. Dan sekarang akan ada pertemuan keluarga besar Aksajaya, anak, menantu, cucu dan cicit Aksajaya akan berkumpul di rumah mewah ini.
"Eh non Rita, apa kabar non?" tanya Syarip.
"Allhamdulilah baik pak, bapak sendiri gimana?" tanya balik Rita.
"Allhamdulilah saya juga baik non, oh iya sebentar saya buka dulu gerbangnya." ucap Syarip.
Syarip membuka gerbang lalu Suami Rita melajukan mobilnya ke dalam halaman rumah mewah itu. Setelah mobil terparkir lalu Rita bersama suami serta anak-anaknya keluar dan berjalan menuju rumah mewah itu.
"Assalamualaikum." ucap Rita dan suaminya.
"Waalaikumsalam." jawab semua orang yang ada disana.
Rita dan suaminya menyalami Rosa dan Marini serta suami mereka, dan menyapa para sepupu juga keponakannya.
"Mamah sama papah kamu gak ikut?" tanya Rosa.
"Mamah masih belum stabil tante, jadi belum bisa bepergian jauh. Dan papah beliau sedang ke luar kota untuk mengurusi proyek yang ada disana." ucap Rita.
"Hebat ya papah kamu perusahaannya sekarang semakin berkembang, tapi sayang tidak akan ada penerusnya seperti perusahaan kakek." ucap Rosa
"Tapi kan sekarang perusahaan kakek di kelola om Roni dan om Giri?" tanya Rita.
"Iya tapi kan mereka hanya mengelola saja." jawab Rosa.
"Ya sama aja kan Tante, yang penting perusahaan kakek masih terus berjalan dan kita menikmati hasilnya." ucap Rita.
"Ya gak bisa gitu Ta, tetap aja kan tanpa kekuasaan mereka tidak bisa menjalankan nya dengan maksimal, semenjak kakek kalian meninggal perusahaan kakek tidak pernah berkembang lagi hanya jalan di tempat dengan pemasukan segitu-gitu saja, sedangkan pengeluaran kita setiap tahun nya meningkat." jelas Rosa.
"Iya lho Ta, ada kemungkinan perusahaan kita akan mengalami kemunduran." ucap Marini.
"Terus kita mesti gimana Tan?" tanya Rita.
__ADS_1
"Entahlah, tante juga bingung. Tapi maunya Tante sih dari dulu perusahaan kakek kita lelang kita bagi rata, toh hasilnya bisa kita nikmati dan jadikan modal usaha kita masing-masing kan?" ucap Marini.
"Iya Ta, Lagian kita punya usaha sendiri dan punya kesibukan masing-masing, jadi repot juga kan harus mengurus perusahaan kakek juga. Papah kamu juga angkat tangan kan? dia gak mau ikut campur masalah ini." ucap Rosa.
"Iya tante, karena papah tidak bisa meninggalkan pekerjaannya." ucap Rita.
"Om Giri sama om Roni juga sama Ta, mereka punya kesibukannya sendiri tapi mereka memaksakan untuk mengelola perusahaan itu." ucap Rosa tak mau kalah.
"Kesibukan apaan? orang mereka pengangguran." batin Rita.
Roni suami Rosa dulu sempat membuka usaha kecil-kecilan semacam distributor makanan, namun ia mengalami kerugian besar karena tertipu oleh kliennya. Sejak saat itu ia tidak ingin bangkit membangun usahanya karena pada dasarnya ia orang yang malas, ia hanya mengandalkan pemberian mertuanya.
Sedangkan Giri suami Marini, dari semenjak mereka menikah ia tidak pernah bekerja karena tujuan ia menikahi Marini hanya ingin menikmati harta kekayaan orang tuanya saja, karena Marini terlalu mencintainya Marini tetap bertahan walau ia tau kenyataannya dan selalu menutup nutupi nya dari orang tuanya.
"Jadi gimana Rita?" tanya Rosa.
"Gimana apanya tante?" Rita menanya balik.
"Apa kamu setuju perusahaan kita lelang?" tanya Rosa lagi.
"Iya benar Ta, hmm coba saja kalau Devan masih ada." ucap Rosa berpura-pura.
"Iya tan, Rita juga berharap seperti itu, Rita berharap Devan kembali." ucap Rita melemah.
"Oh iya gimana keadaan mamah kamu?apa ada perkembangan?" tanya Rosa.
"Allhamdulilah mamah sudah bisa berjalan sedikit-sedikit, tapi masih belum bisa bicara." ucap Rita.
"Hmm sepertinya obat yang aku kasih sudah mulai berkurang khasiatnya, gawat kalau Sinta sampai bisa berbicara ia akan mengungkap semuanya." batin Rosa.
Flashback on
Sebelum jatuh sakit, Sinta pergi menemui Marini untuk meminta bantuan mencari jejak kehilangan Devan, barang kali ada petunjuk karena Devan hilang pada saat ia sedang di rumah ini.
"Assa-." Sinta hendak mengucapkan salam namun ia urungkan kembali kala mendengar percakapan kakak dan adiknya yang mengumpat dan menyebut-nyebut nama Devan.
__ADS_1
"Sekarang sudah tidak adalah lagi yang akan meneruskan perusahaan papah kak karena si Devan anak sialan itu sudah kita lenyapkan." ucap Marini.
"Iya benar Rin, hahahaha." Tawa Rosa menggelegar mengisi seluruh ruangan.
"Kita bisa lelang perusahaan papah, dan kita nikmati hasilnya." tawa Marini.
"Iya betul Rin, enak saja si anak sialan itu menjadi penerus perusahaan. Anak kita juga kan sama cucu nya papah, papah emang pilih kasih Rin. Dia cuma sayang sama Devan, mentang-mentang cucu laki-laki satu-satunya." protes Rosa.
"Iya kak, tapi tenang aja sekarang sudah tidak ada lagi pengganggu."ucap Marini.
"Tapi Rin kamu yakin Devan sudah benar-benar mati?" tanya Rosa mulai ragu.
"Kakak tenang aja, kalaupun dia masih hidup pasti dia akan mati kelaparan atau di makan binatang buas karena disana tempat yang tidak di jamah manusia." ucap Marini.
Sinta menutup mulutnya menahan tangis, ia terkejut mendengar percakapan saudaranya. Ia tidak menyangka mereka setega itu pada ponakannya sendiri, Mengorbankan anak yang tak berdosa demi harta. Ia menguatkan diri untuk membuka suara.
"Kalian kemanakan anak ku hah?" tanya Sinta menatap nyalang pada Du saudaranya.
"Si-sinta? bertanya seperti itu? tanya Rosa yang merasa kaget karena Sinta datang tiba-tiba dan marah.
"Kalian tidak bisa mengelak, aku sudah mendengar percakapan kalian sejak tadi. Tega ya kalian membunuh anak tak terdosa demi harta." hardik Sinta.
"Kamu yang tega Sinta, kamu sudah memiliki segalanya, suami kamu sudah punya perusahaan yang sudah mulai berkembang dan sekarang kamu mau anak kamu menjadi penerus perusahaan papah? kamu serahkan Sinta!" Rosa tak ingin kalah.
"Aku tidak pernah memintanya, jika kalian mau silahkan ambil. Aku tidak mendapat bagian pun tidak masalah karena pemberian dari suami aku saja sudah lebih dari cukup, kalau kalian menginginkan itu kenapa tidak di bicarakan baik-baik hah?" hardik Sinta lagi, ia sudah tidak tahan ingin meluapkan emosinya.
"Halah jangan munafik kamu, kalau ku tidak membutuhkannya kenapa kamu tidak menolaknya saja?" ucap Marini.
"Kamu tau sendiri kan Rin, bagaimana kerasnya papah mana mungkin bisa di bantah. Jika kalian menginginkan nya silahkan tapi kembalikan anakku , ku mohon." pinta Sinta ia menangis menyayat hati.
"Anak kamu sudah mati Sinta, silahkan saja kamu cari di jurang daerah xxx." ucap Rosa dengan enteng.
"Dasar kalian manusia serakah, terbuat dari apa hati kalian sehingga tega menyakiti anak tak berdosa demi sebuah harta?" hardik Sinta.
Sinta yang tak pernah semarah itu, ia meluapkan emosinya dengan menghardik. Tiba-tiba jantung nya terasa sesak, seluruh tubuhnya terasa kaku. Lalu ia tidak sadarkan diri. Sejak saat itu tubuh Sinta terkulai lemas dan tidak bisa berbicara, ia mengalami shock berat. Bertahun-tahun Sinta tak kunjung sembuh karena Rosa menggantikan obat Sinta dengan obat lain sehingga sedikit demi sedikit bisa merusak sarap Sinta.
__ADS_1
flashback off