
Sementara di tempat lain, kini Tari sedang gelisah tak bisa tidur ia menginginkan suaminya ada di sampingnya. Meskipun ada ibunya yang selalu menemaninya tapi yang ia butuhkan sekarang adalah suaminya, ia menolak tidur di temani ibu nya.
Sebelum berangkat Andra mengantarkan Tari ke rumah orang tuanya, ia menitipkan Tari pada mereka karena jika di rumah sendirian Andra khawatir takut terjadi apa-apa dengan istrinya yang sedang hamil besar.
"Dek, sabar ya! malam ini kita gak bis bobo di peluk ayah." ucap Tari sambil mengelus perutnya.
"Kamu pasti kangen kan sama ayah? seharian ini kita gak bareng ayah."
"Ayah lagi ngapain yah? kok gak inget sama kita yah? gak ada kabar dari tadi siang."
Tari mulai berkaca-kaca, semenjak ia hamil perasaan nya menjadi lebih sensitif, mudah sekali dia menangis.
Pada saat ia sedang memikirkan suaminya yang tak ada kabar tiba-tiba ponsel Tari berdering, di ambilnya ponsel di atas nakas dan melihat nama suaminya di layar ponsel itu lalu ia menggeser kan icon hijau.
Tari : "Assalamualaikum."
Andra : "Waalaikumsalam, kami belum tidur?"
Tari : "Kalau belum tidur mana bisa aku angkat telepon mas?"
Andra : "Oh iya mas lupa, kenapa belum tidur hm?"
Tari : "Gak tau mas, aku gak bisa tidur kalau gak ada kamu, anak kamu nih jedag jedug terus minta di elus sama bapaknya."
Andra : "Anak aku apa istri aku yang minta di elus hm?"
Tari : "Anak kamu lah, udah selesai mas?"
Andra : "Udah, tinggal nunggu pengumuman juara aja."
Tari : "Mas pasti nginep disana ya?"
Andra : "Kayaknya iya, kenapa?"
Tari : "Gak apa-apa mas, ya udah aku tutup ya mau tidur, assalamualaikum."
"Tut."
Belum sempat Andra bicara, Tari sudah memutuskan sambungan seluler nya.
"Ih ngeselin banget sih ayah kamu dek, gak peka."
"Kalau pertanyaan budak kayak gitu, harus nya ayah tuh sadar dek kalau kita pengen di temenin."
"Emang gak bisa gitu usahain pulang malam ini?"
Tari menggerutu sambil menangis, ia kesal dengan suaminya yang tidak peka. Sementara di sebrang sana Andra kebingungan.
"Kok di tutup sih? kenapa ya? apa aku salah ngomong?" gumam Andra.
Andra mencoba mengirim pesan pada Tari.
__ADS_1
"Kok di tutup? maafin mas ya kalau mas salah bicara." isi pesan Andra
Namun hanya ada garis centang dua berwarna biru saja, tandanya Tari hanya melihat isi pesan itu tanpa membalasnya.
"Kamu benar-benar marah?" Andra mengirim pesan lagi, namun tetap saja hasilnya seperti itu.
Andra mencoba menghubungi istrinya lewat telepon.
"Tut- tut-tut." suara dering telepon, kemudian si pemilik handphone mengangkatnya, terdengar Isak tangis di sebrang sana.
Andra : "Sayang kamu nangis?"
Tidak ada jawaban di sebrang sana, hanya ada suara isak tangis. Andra semakin panik, ia takut terjadi apa-apa dengan Tari.
Budi Asisten Manager yang sedari tadi memperhatikan Andra akhirnya angkat bicara.
"Kamu kenapa?" tanya Budi
"Tidak apa-apa pak." jawab Andra ragu.
"Kamu ada masalah sama istri kamu? saya denger tadi kamu telepon istri kamu, sepertinya ada masalah." tebak Budi.
"Tidak pak, sepertinya istri saya sedang membutuhkan saya, istri saya lagi hamil pak biasanya pada saat akan tidur saya selalu mengusap perutnya." jawab Andra.
"Memang seperti itu, istri saya juga dulu sama Dra, kalau tidur emang maunya seperti itu." ucap Budi.
"Iya pak, tapi malam ini saya gak bisa karena acara belum selesai dan mungkin saya akan menginap disini." ucap Andra.
"Pergilah, istri kamu membutuhkan mu sekarang." titah Budi.
"Kalian sudah selesai tampil, tinggal menunggu pengumuman saja, kalaupun menang kan ada rekan yang lainnya. Kamu pulang saja duluan!" titah Budi.
"Saya gak enak sama teman-teman yang lain pak." ucap Andra.
"Gak apa-apa, biar nanti saya bicara sama mereka, cepat Dra sebaiknya kamu segera pulang sebelum negara api menyerang. Percayalah ibu hamil lebih berbahaya." jelas Budi berusaha menyelamatkan Andra.
"Baik pak, terima kasih, saya duluan pak assalamualaikum." pamit Andra.
"Waalaikumsalam." jawab Budi.
Di sebrang sana Tari sedang menangis di pelukan ibu nya, ka meluapkan apa yang di rasakannya saat ini.
"Sudahlah nak, jangan nangis terus! suami kamu itu sedang kerja nanti juga pulang." ucap Sumi mencoba menenangkan anaknya.
"Tapi Bu, mas Andra itu gak peka, aku maunya dia pulang gak usah nginap." ucap Tari.
"Jangan gitu dong Tari, kasian suami kamu jauh loh dari kota C kesini itu. ini sudah hampir larut malam, kalau suami kamu nekad pulang gimana? bahaya banyak orang jahat di luar sana." ucap Sumi.
"Iya kalaupun dia gak bis pulang setidaknya ada permintaan maaf atau apa gitu, dari siang baru ngabarin tadi." ucap Tari cemberut.
"Mungkin dia sedang sibuk Tari, sudah kamu tidur saja ini sudah hampir larut malam, kasian cucu ibu di ajak begadang." ucap Sumi sambil mengelus perut Tari yang sudah membuncit.
__ADS_1
Lalu Tari masuk dalam kamarnya, ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan mencoba untuk memejamkan matanya. Dua jam sudah ia berusaha untuk terpejam namun tetap saja ia tak bisa.
"Ceklek." tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Assalamualaikum anak istriku sayang." ucap Andra yang muncul dari balik pintu dengan setelan kerjanya dan menenteng koper kecil.
"Waalaikumsalam." Tari berbinar melihat Andra.
Andra langsung menghampiri Tari dan memeluknya, lalu turun ke perutnya dan mengecup perut buncit itu, di rasakannya tendangan-tendangan maut si jabang bayi. Mungkin dia senang ayahnya pulang.
"Seneng banget kayak kamu dek, ayah pulang, sampe jingkrak-jingkrak di perut bunda." ucap Andra terkekeh.
"Iya mas, dari tadi pagi dia murung terus gak mau gerak." ucap Tari.
"Kok bisa?" tanya Andra.
"Gak tau, mungkin jauh dari ayahnya kali." ucap Tari.
"Hahahah ada-ada aja." tawa Andra sambil mengacak Rambut Tari.
"Iihh mulai deh, sana bersih-bersih dulu mas." protes Tari karena Andra mengacak rambutnya.
"Iya sayang." Andra beranjak dari duduknya dan mengecup kening Tari.
Hati Tari menghangat dengan perlakuan Andra yang semakin hari semakin manis, ia sudah benar-benar jatuh hati pada suaminya. Namun tiba-tiba ia terpikir dengan kewajibannya sebagai seorang istri, ia tak pernah memberikan hak Andra sejak saat itu mereka tak pernah lagi melakukannya.
"Mungkin kalau kayak gini terus akan berdosa, apa aku harus memberikan hak nya? Tapi masa sih aku harus menawarkan diri?" batin nya.
"Ceklek." pintu kamar terbuka, Andra sudah bersih dengan baju gantinya setelan rumahan.
"Mas mau udah makan?" tanya Tari.
"Udah tadi di sana, yuk bobo udah malam." ajak Andra.
"Iya mas." jawab Tari
Mereka merebahkan diri di tempat tidur, sudah tidak ada lagi guling yang menghalangi mereka, karena sejak Tari hamil setiap malam Tari meminta Andra memeluknya.
Sebelum tidur Andra mengajak anaknya berbicara dan melantunkan shalawat.
"Anak ayah, bobo yuk sayang, besok ayah libur kerja kita jalan-jalan ya." ajak Andra sambil mengelus perut Tari.
"Bunda gak di ajak nih?" canda Tari.
"Di ajak lah, kan adek masih di perut bunda, aneh ya bunda ini." jawab Andra terkekeh.
"Ayah tuh yang aneh dek, ngajaknya sama kamu aja." Tari mulai lagi merajuk.
"Mulai lagi deh, yaudah yaudah maafin ayah ya Bun." Andra mengalah.
"Tau ah."
__ADS_1
"Bobo yuk, udah malam." ajak Andra
Lalu Tari tidur dalam pelukan Andra.