Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 41


__ADS_3

"Dena kan sudah aku bilang, kamu dekati Andra baru setelah itu kamu bebas tidak perlu lagi melayani pelanggan." ucap Mira.


"Tapi kak aku gak bisa, pak Andra sudah punya istri apalagi sekarang istrinya lagi hamil, aku gak tega." ucap Dena.


"Justru itu Dena, aku mau liat istri si Andra itu menderita." ucap Mira tersenyum sinis.


"Salah apa sih istrinya pak Andra sampe kakak setega ini?" tanya Dena.


"Kamu gak usah tau, yang penting kamu jalankan saja tugas dari aku." ucap Mira.


"Tapi kak." ucap Dena menunduk.


"Kamu pilih aja, hidup kamu mau selamanya melayani para lelaki hidung belang atau menghancurkan rumah tangga Andra?" Mira memberikan pilihan pada Dena.


"Aku gak mau dua-duanya kak, aku mau bebas." ucap Dena berkaca-kaca.


"Gak bisa Dena, kamu sudah terikat kontrak sama mami Nensi." ucap Mira.


"Terus kalau aku berhasil menghancurkan rumah tangga pak Andra, aku akan menyelesaikan kontrak dengan mami Nensi? gak kan?" tanya Dena.


"Kamu tenang aja Dena, aku akan bantu kamu. Percayalah aku kan tangan kanannya mami, jadi aku bisa menyelesaikan semuanya." ucap Mira.


"Akan aku pikirkan lagi kak." ucap Dena lalu pergi meninggalkan kakaknya.


Mira tak pernah puas dengan apa yang ia lakukan pada Tari, ia ingin melihat Tari benar-benar hancur bagaimana pun caranya ia akan lakukan. Setelah menemui Dena di cafe dekat tempat Dena bekerja, lalu ia pergi di hotel XXX akan bertemu seseorang disana.


Sesampai di sebuah hotel Mira menemui resepsionis lalu menunjukan bukti reservasi nya dan resepsionis memprosesnya. Selesai di proses ia menuju kamar yang sudah ia pesan tadi.


"Huft, panas banget hari ini." keluh Mira.


Lalu ia menuju kamar mandi, ia membersihkan dirinya terlebih dahulu. Di rasa sudah bersih dan segar ia keluar dengan menggunakan bathrobe dan handuk yang dililitkan di kepalanya.


"Ceklek." pintu kamar mandi terbuka.


"Om? udah lama? maaf yah aku mandi dulu, gak tahan gerah banget." ucap Mira dengan nada manja.


"Gak apa-apa sayang, jangan manggil om terus dong, saya jadi berasa tua." ucap Satrio terkekeh.


Seseorang yang akan bertemu Mira ialah Satrio ayahnya Gery, baru-baru ini Mira terikat kontrak dengan Satrio sebagai wanita simpanannya.


Mira yang awalnya tidak tau bahwa Satrio itu adalah ayahnya Gery, ia mengambil tawaran Satrio untuk menjadi simpanannya. Namun alangkah kagetnya mereka ketika bertemu pada saat Satrio datang ke rumah Mira untuk melamar dia menjadi menantunya. Dari sana Mira mulai menjaga jarak dari Gery, memang awalnya Mira menginginkan Gery karena orang tuanya orang berada kini sekarang Mira memiliki sumbernya langsung bukan lagi penampung nya. Mira berniat akan menaklukan Satrio agar ia mau menikahinya dan Mira menjadi Nyonya Satrio si pengusaha batubara itu.


"Pala loe berasa tua, udah bangkotan juga." batin Mira.


"Maunya di panggil apa?" tanya Mira ia menghampiri Satrio dan duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Panggil mas aja yah sayang." ucap Satrio mengecup bibir Mira.


"Iya mas." jawab Mira.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Gery?" tanya Satrio.


"Entahlah mas, sepertinya saya akan memutuskan pertunangan ini." ucap Mira.


"Kenapa? apa Gery menyakitimu?" tanya Satrio dengan nada tinggi.


"Enggak mas bukan gitu, setelah aku bertemu dengan mas aku merasa lebih nyaman dengan mas di banding Gery." ucap Mira.


"Terus kamu maunya gimana sayang?" tanya Satrio lembut.


"Aku mau mengakhiri kontrak ini mas." ucap Mira.


"Loh gak bisa gitu dong, kan kontrak kita belum selesai. Aku masih mau kamu sayang." ucap Satrio lembut dan tangannya mulai berjelajah kemana-mana.


"Kalau mas masih mau aku, mas bisa kan nikahin aku?" tanya Mira meyakinkan Satrio.


"Mau nya sih begitu sayang, tapi istri mas bagaimana?" tanya Satrio.


"Aku rela jadi madu nya istri mas." ucap Mira sambil menggoda Satrio.


"Baiklah mas akan pikirkan, tapi puasin dulu mas sayangku." ucap Satrio yang langsung menerkam Mira.


Di depan cermin Tari melihat sedang bingung mencocokan pakaian yang akan ia pakai untuk pergi ke tempat Andra bekerja. Sore ini Tari dan Andra akan membeli perlengkapan untuk calon anak mereka, seperti yang sudah mereka janjikan kemarin.


"Duh pake baju apa ya? udah pada gak muat nih." keluh Tari.


Setelah membongkar isi lemarinya akhirnya ia menemukan dress dibawah lutut bercorak bunga kecil, warna pink kesukaannya, dress ini lumayan agak besar dan masih muat di tubuhnya yang sudah berisi itu.


"Nah ini dia, untung belum sempat ku kasih baju ini ke Wulan." ucap Tari terkekeh.


Tadinya baju itu akan Tari berikan pada Wulan, karena bajunya agak terlalu besar di tubuhnya. Karena Tari sibuk dengan pekerjaannya apalagi sekarang ia sudah menjadi punya suami jadi ia belum sempat ke pulang kampung.


"Hmm cocok." ucap Tari memutarkan tubuhnya.


Lalu ia memoleskan sedikit bedak di wajah cantiknya dan memberi sedikit sentuhan mascara di bulu mata yang sudah lentik itu, tidak lupa lipstik berwarna peach ia aplikasikan pada bibir tipisnya itu.


Disisir nya rambut panjang sedikit bergelombang itu dan ia menyematkan jepit rambut di bagian pinggir nya. Lalu ia membawa tas kecil berwarna senada dengan baju nya, setelah itu ia berjalan menuju rak sepatu, karena sedang hamil Tari memilih menggunakan plat shoes agar nyaman dan tidak berbahaya.


Sebelum meninggalkan rumah Tari menyalakan lampu terlebih dahulu, karena kemungkinan mereka akan pulang malam. Setelah itu Tari mengunci pintu dan keluar karena taxi yang sudah ia pesan telah sampai.


"Atas nama Tari?" tanya diver taxi.

__ADS_1


"Iya pak betul." jawab Tari tersenyum ramah.


"Silahkan neng." ucap driver taxi dan di jawab dengan anggukan Tari.


Tari membuka pintu mobil dan mendaratkan bokongnya di jok belakang. Lalu driver taxi melajukan mobilnya ke tempat yang di tuju Tari.


Tidak memakan waktu lama, kini taxi yang di tumpangi Tari sudah tiba di depan toko bulan depstore tempat suaminya bekerja.


"Jadi berapa pak?" tanya Tari.


"Dua puluh lima ribu neng." jawab dirver taxi lalu Tari menyerahkan uang lembar berwarna ungu tiga lembar.


"Sebentar neng, kembaliannya." ucap driver taxi.


"Gak usah pak, kembaliannya ambil aja." ucap Tari.


"Terima kasih neng." ucap driver taxi.


"Sama-sama pak." jawab Tari.


Tari keluar dari taxi dan ternyata sudah ada Andra menunggunya di depan toko, dengan masih memakai seragamnya dan di tutupi Hoodie karena ia sudah selesai bekerja.


Andra hampir tidak berkedip melihat istrinya, aura kecantikannya semakin terpancar.


"Mas, gitu amat liat aku nya?" tanya Tari sambil menyalami Andra.


Andra masih menatap Tari tanpa menjawab.


"Mas? kenapa sih? aku aneh ya?" tanya Tari mulai tidak percaya diri.


"Kamu cantik." ucap Andra tersenyum, ia mengagumi kecantikan istrinya.


"Ah kamu mas bisa aja." ucap Tari malu.


"Beneran sayang, kenapa sih kamu dandan secantik ini? nanti kalau laki-laki lain liat gimana? mas gak rela." protes Andra.


"Lebay kamu mas." ucap Tari terkekeh.


"Kamu mah di bilangin suka gitu, ya udah ayo masuk." ucap Andra.


Andra memegang tangan Tari, seakan ingin menunjukkan pada orang lain bahwa Tari adalah miliknya.


.


.

__ADS_1


.


Mas Andra mulai bucin nih 🤭


__ADS_2