Menikah Dengan Sahabat

Menikah Dengan Sahabat
BAB 33


__ADS_3

Di kediaman keluarga Aksajaya yang mewah bak istana, Syarip ayahnya Tari mengabdikan diri sejak dari ia masih muda sebelum menikah dengan ibunya Tari.


Syarip merasa sangat nyaman bekerja disini, ia di perlakukan oleh Aksajaya seperti keluarganya sendiri, Aksajaya memiliki tiga anak perempuan yaitu Risa Putri Aksajaya, Sinta Putri Aksajaya dan Marini Putri Aksajaya, ketiga kakak beradik ini sangat kompak dan saling menyayangi. Namun kekacauan datang di buat oleh Hartawan anak pertama Aksajaya pada saat Aksajaya meninggal menyusul istrinya yang sudah lebih dulu di panggil sang Maha Kuasa.


Rosa adalah orang yang paling serakah, ia ingin menguasai semua harta warisan orang tuanya tanpa di bagikan pada adik-adik nya. Ia menjadi tamak dan gelap mata ketika di suguhi harta kekayaan orang tuanya.


Karena ia merasa anak paling tua jadi ia ingin menguasai PT. AKSAJAYA perusahaan milik orang tua mereka.


Tiba-tiba pikiran Syarip berkelana pada kejadian 24 tahun yang lalu.


Flashback on


Sebelum Sinta tiba di kediaman orang tuanya , seorang pengacara mendatangi kediaman Aksajaya satu minggu sesudah Aksajaya meninggal, ia ingin memberitahukan surat wasiat Aksajaya untuk anak-anaknya.


Di dalam surat wasiat itu di berisi bahwa seluruh harta yang ia tinggalkan harus di bagi rata, serata mungkin. Dan untuk penerus perusahaan nya ia mengalihkan kekuasaannya keturunan laki-lakinya yaitu Devan cucu laki-laki satu-satunya, anak dari Sinta pada saat ia sudah kelak dewasa.


Namun kedua saudara Sinta menolaknya mereka merasa keberatan, terutama Rosa.


"Tidak bisa begitu dong pak, anak-anak kami juga sama keturunan Aksajaya mereka juga punya hak atas perusahaan itu." Rosa menentang wasiat itu.


"Tapi Nona Rosa, disini sudah dinyatakan bahwa Devan lah yang akan meneruskan perusahaan itu dan itu tidak bisa di rubah." ucap pengacara.


"Saya tidak terima pak, masa anak kami tidak kebagian jatah di perusahaan." ucap Marini.


"Bukan tidak kebagian Nona Marini, semua cucu pak Aksa memiliki saham di perusahaan itu, akan tetapi untuk menjadi pemimpin pak Aksa memilih Devan sebagai pemimpin perusahaan, karena Devan cucu laki-laki nya." ujar pengacara.


Rosa dan Marini terdiam tapi hatinya menolak, mereka saling menatap, entah apa yang mereka pikirkan.


"Ya sudah kalau memang harus nya seperti itu kami menerima nya pak." ucap Marini.


"Baik nona, kalau begitu saya undur diri, permisi." pamit pengacara itu lalu bergegas pergi.


Setelah pengacara pergi, Rosa angkat bicara.


"Gimana ini Rin? ini tidak bisa di biarkan, papah gak adil." tanya Rosa pada Marini.


"Iya mbak, aku juga gak terima, anak kita juga kan sama cucu nya papah." protes Marini.

__ADS_1


"Mbak sih mau nya perusahaan papah di lelang jadi hasilnya kita bagi Rata." usul Rosa.


"Gak bisa kak, sampai kapanpun perusahaan papah gak akan bisa di lelang, itu sudah wasiat papah lagian itu perusahaan sudah papah bangun sejak dulu sampai berkembang seperti ini." ucap Marini.


"Bisa saja Rin, asalkan penerus nya sudah tidak ada." ucap Rosa tersenyum sinis.


"Maksud mbak?" tanya Marini tak mengerti


Lalu Rosa membisikan sesuatu pada Marini, dan di setujui oleh Marini, ia mengangguk-angguk paham selama Rosa berbisik.


Tak lama kemudian Sinta bersama suami dan anak-anaknya datang, sudah menjadi rutinitas keluarga Aksajaya setiap akhir pekan berkumpul.


"Assalamualaikum." ucap Sinta.


"Waalaikumsalam." jawab semua orang yang ada di sana.


"Hai Rin, hai mbak." sapa Sinta pada adik dan kakaknya itu sambil memeluk mereka satu persatu.


"Lho si kembar mana? kok gak di ajak?" tanya Rosa yang tak melihat keponakan kembarnya itu, ia hanya melihat Sinta dan suaminya saja.


"Tuh di depan, lagi main sama Bela dan Seli." ucap Sinta.


"Oh iya nih aku udah siapin bahan buat barbeque, tinggal kita eksekusi." ucap Marini terkekeh.


Marini yang memang tinggal di rumah ini, sudah mempersiapkan segala nya dari pagi buta, mereka berencana pesta barbeque di halaman belakang.


"Ayo mbak bantu rin mbak bantu membawanya ke halaman belakang." ucap Sinta.


"Gak usah mbak, biar mbok Ratmi aja yang mengerjakan semuanya, kita tinggal masaknya aja." tolak Marini.


"Gak apa-apa Rin biar cepet." ucap Sinta sambil membawa nampan berisi daging ke belang rumah.


Setelah beres memindahkan semua bahan dan peralatan ke halaman belakang, mereka mulai mengeksekusi nya.


Sinta Bertugas membakar dagingnya, Dan Marini membantunya. Rosa bertugas membuat minuman segar.


Sementara para suami mereka bertugas mengasuh anak-anak mereka masing-masing. Namun tiba-tiba saja Darmawan menghampiri Sinta.

__ADS_1


"Mah, kita harus segera ke rumah sakit sekarang." ucap Aryo mengajak Sinta ke rumah adiknya.


"Ada apa memangnya pah? siapa yang sakit?" Sinta mengerutkan keningnya.


"Istri Angga jatuh dari tangga mah, dia mengalami pendarahan hebat, sepertinya dia akan melahirkan sekarang" ucap Aryo.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita kesana." ucap Sinta.


"Mbak, Rini maafin kami yah aku gak bisa nerusin acara kita, kami harus segera ke rumah sakit." ucap Sinta.


"Iya Sinta gak apa-apa kok, kasian adik ipar kamu gak ada yang nemenin disana." ucap Rosa.


"Si kembar disini aja mbak gak usah di bawa ke rumah sakit, kasian mereka gak baik anak kecil yang lagi sehat di bawa ke rumah sakit." usul Rini.


"Tapi kalian gak kerepotan?" tanya Sinta.


"Gak kok, disini kan banyak orang ada mbak, Rini, Roni dan mas Giri." ucap Rosa.


"Ya sudah kami titip si kembar yah sebentar mbak, nanti sore kami jemput." ucap Sinta.


"Ya Sinta kamu tenang aja." ucap Rosa.


Lalu Sinta dan Aryo pergi, sebelumnya mereka pamitan dulu pada kedua anaknya.


"Rita, Devan mamah sama papah pergi dulu sebentar yah, nanti sore mamah kalian jemput. Kalian jangan nakal yah jangan merepotkan tante-tante kalian." pesan Sinta.


Lalu ia memeluk kedua anaknya tapi entah kenapa ketika memeluk Devan perasaan nya menjadi tidak karuan, ia merasa akan terjadi hal yang buruk pada anak laki-laki nya itu tapi perasaan itu ia tepis.


"Mamah angan lama-lama ya, Evan Atut ga ketemu mama agi." ucap Devan yang masih belum jelas berbicaranya karena usianya baru menginjak 2 tahun.


Devan memeluk Sinta sangat erat, seolah-olah ini pertemuan terakhir mereka, lalu depan beralih memeluk Aryo, ia melakukan hal yang sama pada ayahnya.


"Evan tayang mamah papah tama mbak Ita, Evan gak mau jauh jauh dali kalian." ucap Devan yang melepas pelukannya lalu beralih memeluk kakaknya.


Sinta merasa ada yang aneh dengan Devan, tidak seperti biasanya anaknya seperti ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2