
Setelah keluar dari kantor Noah, Yasmin tidak langsung kembali ke toko rotinya melainkan pergi berjalan-jalan di taman sekitar danau buatan di pinggiran kota. Ia masih tidak dapat melupakan apa yang telah Noah persiapkan untuk nya demi membalas semua perbuatan Sammy dan yang lainnya padanya. Semakin diingat, semakin ia merasa marah. Tidak hanya marah pada mereka, dia juga marah pada dirinya sendiri. Yasmin merasa selama ini dia sangat bodoh dan telah gagal sehingga semua hal buruk terjadi pada orang-orang yang disayanginya di depan matanya sendiri, namun ia sama sekali tidak menyadari pelaku yang membuat semuanya berantakan. Berkali-kali, Yasmin menghela napas panjang.
Setelah lelah berjalan, Yasmin berhenti di pinggir danau. Pandangannya menatap jauh ke depan. Namun bagaimana pun orang melihatnya, mereka akan tahu bahwa pandangan itu sebenarnya kosong. Raga Yasmin berada di sini, namun jiwanya melayang entah kemana. Yasmin seakan-akan terpisah dari dunia hingga ia tidak menyadari segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Termasuk jika dia secara tidak terduga menjadi sasaran kejahatan.
Penampilan Yasmin yang mencolok di pinggir danau itu begitu kontras dengan sekeliling. Apalagi meskipun pakaian yang dikenakan Yasmin terlihat sederhana, namun juga terlihat nyaman dan elegan. Serta mewah dalam waktu yang bersamaan. Belum lagi tas jinjing yang dipakainya juga adalah tas limited edition dari sebuah merk tas terkenal. Pre lovednya sajaasih dihargai beberapa juta. Lupakan isinya, dengan hanya menjual tas tersebut seseorang pasti sudah mendapatkan uang yang cukup banyak. Apa lagi dengan isinya. Sungguh sasaran yang empuk dan menjanjikan bagi pelaku tindak kejahatan.
Seorang pria yang sejak awal telah memperhatikan Yasmin sejak wanita itu turun dari mobilnya hingga berjalan-jalan di sekitar danau dan sampai saat ini telah menunggu saat yang tepat untuk melancarkan aksinya. Pada saat ini, ia menemukan kesempatan yang paling sempurna. Tempat ini adalah tempat yang paling sepi dari tempat lainnya. Lokasinya yang cukup jauh dari keramaian membuat kesempatan berhasilnya aksinya menjadi terbuka lebar.
Dengan hati-hati, laki-laki itu mendekati Yasmin yang masih berdiri di tempatnya. Lalu setelah ia sampai di belakang Yasmin dan memastikan jika di sekitar tempat itu tidak ada orang lain, tangannya menggapai tas jinjing Yasmin.
"Nona awas copet!" Teriakan nyaring seorang wanita membuat Yasmin yang sedang melamun terkejut dan menoleh. Ia melihat seorang pria asing yang berdiri di belakangnya. Tangannya membeku di udara. Namun dia menyadari jika pria itu sebelumnya pasti berencana untuk mengambil tas jinjing nya.
Laki-laki pencopet itu terkejut jika aksinya diketahui oleh korbannya dan juga orang lainnya. Namun Sudah kepalang tanggung. Dia sudah sampai pada tahap ini. Dia tidak boleh gagal. Jadi dia segera menggapai tas yang disembunyikan oleh Yasmin.
"Serahkan!" Ancamnya memelototi Yasmin dengan kejam.
"Tidak! Kamu yang lepaskan!" Yasmin menolak. Ia masih mempertahankan tasnya. Terjadi tarik menarik antara kedua orang itu. Yasmin tentu saja berada di pihak yang tidak menguntungkan. Tenaganya kalah jauh dari pencopet itu. Tasnya hampir saja berhasil diambil oleh pencopet itu. Namun pencopet itu melepaskan tas itu setelah kepalanya dipukuli oleh gadis yang memergokinya.
Mendapatkan bantuan, Yasmin ikut membantu. Ia memukul pencopet itu dengan menggunakan tas jinjing nya yang hampir saja direbut darinya. Dengan dua orang yang menyerangnya, pencopet itu kewalahan dan segera melarikan diri. Dia berlari kencang menghindari dua orang wanita yang menyerangnya.
"Mbak tidak apa-apa?" Gadis yang membantu Yasmin segera bertanya.
"Tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas bantuannya. Mbak sendiri juga tidak apa-apa kan?" Yasmin balik bertanya.
"Tidak apa-apa. Mbak, di sini banyak copet. Lain kali mbak harus lebih berhati-hati." Ucap gadis itu tulus.
"Iya mbak. Sekali lagi terima kasih banyak." Yasmin mengangguk. Lalu melihat gadis itu yang tiba-tiba membungkuk dan baru menyadari bahwa gadis itu sebenarnya membantunya memukul pencopet itu dengan menggunakan sebuah keranjang tas yang saat ini seluruh isinya berantakan di atas tanah. Yasmin segera ikut membungkuk dan membantunya memunguti barang dagangan gadis itu yang ternyata adalah roti dan juga kue.
"Kamu jualan roti?" Tanya Yasmin setelah memasukkan roti-roti itu ke dalam keranjang yang hampir rusak itu.
"Benar." Jawab gadis itu singkat. Ia menatap rumit roti-roti yang sudah tidak bisa dijual lagi. Siapa yang mau membeli rotinya jika mereka melihat keranjangnya yang rusak. Apalagi jika mereka tahu bahwa roti-roti itu sudah pernah jatuh. Meskipun semua rotinya dibungkus dengan rapat, tidak menutup kemungkinan ada bakteri yang sudah menempel. Jadi lebih baik roti itu tidak dijual lagi daripada mencelakai orang lain dengan tidak sengaja.
__ADS_1
"Maafkan aku. Jika kamu tidak membantu saya, semua roti inj tidak akan jatuh. Bagaimana jika saya membeli semuanya?" Tanya Yasmin dengan rasa bersalah.
"Tidak tidak. Semua roti ini sudah jatuh. Jadi jangan dibeli."
"Tidak apa-apa. Lagipula semua ini salah saya. Jadi anggap saja sebagai ganti rugi."
"Tidak perlu seperti itu. Jika semua orang hanya mengharapkan imbalan saat membantu orang lain, maka di dunia ini kebaikan akan segera lenyap."
"..." Yasmin menatap gadis itu rumit. Dia dan Noah bahkan menikah dengan mengharapkan keuntungan masing-masing.
"Kalau begitu saya pulang dulu. Mbak juga lebih baik seger pergi dari sini." Ucap gadis itu sebelum berbalik.
"Tunggu." Yasmin menarik tangan gadis itu.
"Perkenalkan, saya Yasmin. Kalau boleh tahu siapa nama mbak?"
"Hmm. Saya Nisa."
"Tentu saja. Terserah mbak Yasmin saja."
"Hmm. Nisa, kalau boleh tahu dari mana kamu mendapatkan semua roti ini?" Tanya Yasmin. Ia telah memperhatikan semua roti itu sejak tadi. Sebagai pembuat roti, ia melihat jika roti-roti ini terlihat berbeda.
"Saya membuatnya sendiri." Jawab Nisa jujur.
"Membuat sendiri?" Yasmin semakin tertarik. Baru saja ia berpikir bagaimana caranya mendapatkan orang yang bisa membuat roti di toko nya, kandidat yang cocok langsung muncul. Jika dia bersedia, Yasmin akan segera merekrutnya.
"Ya. Dulu saya pernah bekerja di sebuah toko kue di kampung halaman saya dulu. Jadi saya menjual roti di sini untuk mengumpulkan uang untuk biaya kuliah." Jawab Nisa.
"Nisa, bagaimana jika kamu bekerja di toko rotiku? Kebetulan saya sedang mencari orang yang bisa menggantikan saya membuat roti karena saya ada urusan yang harus dikerjakan. Untuk masalah gaji, kita bisa membicarakannya. Bagaimana?" Yasmin semangat. Jika ia berhasil membuat Nisa bekerja di tokonya, ia bisa meninggalkan toko dengan tenang.
"...."
__ADS_1
"Kalau kamu masih belum bisa memutuskan sekarang tidak apa-apa. Saya akan memberimu waktu untuk berpikir. Tapi saya benar-benar berharap jika kamu setuju." Lanjut Yasmin setelah melihat Nisa yang masih diam.
"Tidak perlu."
"Apa? Tolong pikirkan baik-baik. Kamu bisa menyebutkan berapa gaji yang kamu mau. Asalkan tidak terlalu tidak masuk akal, aku akan menyetujui nya." Ucap Yasmin panik setelah mendengar penolakan Nisa.
"Tidak tidak. Bukan seperti itu. Maksud saya adalah tidak perlu waktu berpikir karena saya setuju." Nisa melambaikan tangannya. Ia tahu bahwa Yasmin pasti salah paham.
"Benarkah?" Yasmin hampir tidak percaya.
"Ya. Saya bersedia bekerja di toko roti mbak Yasmin." Ulang Nisa menegaskan jawabannya.
"Bagus. Kalau begitu berapa gaji yang kamu inginkan?"
"Ini.... Tolong jangan seperti ini. Jika saya menyebutkan gaji saat ini, saya merasa menjadi orang yang paling tidak sopan. Apalagi mbak Yasmin juga belum mengetahui kemampuan membuat roti saya. Bagaimana jika tidak sesuai? Saya tidak mau mengambil gaji buta." Jelas Nisa.
"Yah.... Sepertinya memang seperti itu. Baiklah kalau begitu bagaimana jika kamu ikut saya ke toko sekarang agar kamu bisa bekerja secepatnya?"
"Hmm." Nisa mengangguk setuju.
*
*
Menikah Dengan Saingan Mantan Suami #29
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Jangan lupa Like, vote dan komen ya...👍...
...Follow juga akun Author nya....
__ADS_1
...☘️Queen_OK☘️...