
Setelah usahanya memanfaatkan keadaan untuk menekan Noah dengan menggunakan Yasmin sia-sia, Sammy tidak memiliki pilihan lain selain kembali ke rumah sakit untuk menemui Marsya. Bagaimana pun, Marsya telah menemaninya beberapa tahun ini dan selalu penuh kasih dengannya. Jadi dia tidak akan dengan mudah melupakan rasa cinta yang ia miliki untuknya.
Ketika Sammy sampai di rumah sakit, Marsya telah dipindahkan ke ruang khusus pemulihan pasca operasi sebelum akhirnya dipindah lagi ke ruang rawat VIP untuk perawatan.
Di luar ruangan, Yuna sudah menunggu tidak lama setelah Sammy pergi ke kantor polisi untuk melapor bersama dengan Yasmin dan yang lainnya. Wanita itu juga telah mengetahui jika calon cucunya telah tiada. Begitu pun dengan keadaan Marsya yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk melahirkan anak untuk anaknya yang juga berarti tidak ada cucu jika Marsya masih menjadi istri Sammy.
Yuna adalah seseorang kolot yang sangat memuja anak laki-laki. Bayi yang meninggal sebenarnya adalah anak laki-laki yang sudah dia tunggu sejak lama. Sejak mengetahui jenis kelamin calon cucunya, dia akan secara aktif menemani Marsya dalam setiap pemeriksaan kandungannya. Sekarang ini setelah anak itu telah tiada dan hilangnya kesempatan memiliki cucu lagi, Yuna menjadi masam. Raut wajahnya tidak enak dilihat.
Melihat Sammy yang datang dari jauh. Yuna segera berdiri dan berjalan cepat menghampiri putranya itu.
"Sammy, bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa bencana ini menimpa cucu laki-laki ku? Kamu harus memberikan keadilan untuk cucu laki-laki ku yang baik." Yuna meraung marah. Tangannya mencengkeram erat lengan Sammy.
Dia tidak tahu apa-apa ketika Sammy memintanya datang ke rumah sakit. Ia pikir cucunya akan lahir dan dia bergegas datang dengan semangat. Namun ronanya langsung berubah seketika ketika ia mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi terkini menantunya.
"Huh.... anak itu sudah tiada. Tidak ada gunanya lagi marah-marah." Jawab Sammy menghancurkan hati Yuna.
"Apa maksudmu? Kenapa harus melupakannya sementara cucuku bahkan tidak bisa lahir?" Sammy menatap ibunya sebentar sebelum menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa memberitahukan bahwa Marsya berkelahi dengan Yasmin sebelum terjadi bencana itu. Jika tidak, dengan kepribadian ibunya itu ia yakin jika ibunya tidak akan tinggal diam dan mendatangi Yasmin tanpa pikir panjang.
Masalah ini sudah sampai di sini. Meskipun ia sangat menyesalkan bayinya yang telah tiada, juga sudah tidak berguna. Laporan polisi juga tidak memungkinkan. Menuntut juga tidak ada gunanya. Akan lebih baik jika masalah ini berhenti sampai di sini. Jika ibunya membuat masalah lagi, ia khawatir kondisinya akan menjadi lebih parah meskipun ia yakin jika Noah tidak akan menyerang perusahaannya mengingat perusahaan itu adalah milik Yasmin. Namun jika Noah berniat merebut dan mengembalikan perusahaan itu pada Yasmin, ini adalah masalah yang lain.
"Ibu tenanglah. Aku tahu ibu sangat sedih. Tapi ini sudah terjadi. Marsya telah kehilangan bayi kami dan sayangnya itu merupakan salahnya." Ucap Sammy pada akhirnya.
__ADS_1
"Aih... kenapa nasibku begitu buruk. Memiliki menantu yang tidak dapat menjaga anaknya." Dengus Yuna kesal.
Sammy membimbingnya duduk tanpa mengucapkan apa-apa.
"Sammy, karena Marsya sudah kehilangan rahimnya, kamu harus segera menceraikannya. Kita tidak bisa memelihara orang yang sudah tidak berguna." Ucap Yuna dengan penuh tekad.
"Tentu saja Bu. Tapi tidak perlu terburu-buru. Jika aku langsung menceraikan Marsya begitu saja, orang-orang akan mengira jika aku tidak punya hati." Sammy juga berpikir demikian.
Meskipun dia masih memiliki hati pada Marsya, namun itu hanyalah keinginan sesaat. Masih banyak wanita lain yang bahkan lebih baik dari Marsya. Hanya karena Marsya lah yang hamil anaknya, dia memilihnya dan memegangnya dengan teguh sampai akhir. Saat ini anak yang menjadi alasan bahkan rahim itu telah tiada. Jadi tidak ada alasan untuk mempertahankannya lebih lama. Namun dia baru saja mengguncang publik dengan mengambil alih bisnis keluarga Yasmin. Meskipun ia menangani masalahnya dengan baik tanpa menimbulkan kecurigaan, jika sedikit masalah lain yang keluar di permukaan, itu tidak akan baik untuknya.
"Aih... kalau begitu cari waktu yang tepat. Sementara waktu jangan biarkan wanita itu tahu. Jika tidak dia akan membuat keributan nantinya. Nanti saat waktunya tiba, lakukan semuanya dengan sangat hati-hati. Jangan biarkan orang lain mengetahuinya." Yuna memicingkan matanya licik.
"Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu. Jangan lupa mencari kandidat yang cocok setelah ini selesai. Ibu dari cucuku tidak boleh wanita sembarangan."
"Tentu Bu." Sammy mengangguk patuh. Dengan begitu Yuna bangkut dari duduknya. Lalu pergi dari rumah sakit untuk pulang dan beristirahat.
Tepat setelah Yuna pergi, pintu ruang pemulihan terbuka lebar. Beberapa perawat mendorong brangkar dimana Marsya yang masih mendapatkan sedikit kesadarannya membuka matanya dengan linglung berbaring di atasnya.
Melihat Sammy berdiri menunggunya, Marsya segera menatapnya dengan penuh harapan. Ia sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi adanya. Seingatnya, ia terjatuh dengan perut yang menabrak lantai dengan keras. Namun ia masih memiliki kesadaran bersama nya saat semua orang berteriak panik yang mengatakan bahwa dia keguguran. Dia juga merasakan sesuatu yang hangat di area bawah nya. Marsya bukan orang yang tidak akan mengerti apa maksudnya itu. Namun usia kandungannya sudah besar. Bayinya juga sehat dan siap keluar kapan saja. Apalagi dengan kemajuan di bidang kedokteran, mungkin anaknya masih bisa diselamatkan.
***
__ADS_1
Meskipun semuanya bukan kesalahannya, Yasmin masih tidak dapat melepaskan perasaan bersalahnya pada Marsya. Jika itu hanya Marsya, tidak akan berpengaruh dengannya. Lagipula seseorang akan selalu memanen apa yang telah ia tanam sebelumnya. Jadi Marsya memang pantas mendapatkannya. Tetapi sekarang ini bukan hanya Marsya, ada seorang bayi yang tidak bersalah mati sebelum dia sempat dilahirkan. Dia pernah kehilangan calon anaknya. Dan itu masih belum terlihat dengan jelas bentuknya, tetapi rasa sakit yang harus ditanggungnya hanya dia yang tahu ras sakitnya. Sementara bayi Marsya saat i bahkan sudah berbentuk sempurna. Semua yang dimiliki oleh seorang manusia sudah dimiliki dengan sempurna oleh bayi ini. Betapa kasihannya dia...
Memikirkan bayi Marsya yang telah meninggal, Yasmin tidak berbicara sejak ia keluar dari kantor polisi. Bahkan sepertinya tidak ada hal yang dapat membuat Yasmin tertarik dari lamunannya yang seakan menelannya.
"Sayang, katakanlah sesuatu padaku. Jangan membuatku takut." Noah dengan cemas memegang tangan Yasmin yang dingin saat mereka bersiap untuk tidur. Ia sangat khawatir melihat Yasmin yang tampak tidak baik sejak awal.
"Noah, apa benar aku yang telah membunuh bayi itu?" Tanyanya cemas.
*
*
Menikah Dengan Saingan Mantan Suami #47
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Jangan lupa Like, vote dan komen ya...👍...
...Follow juga akun Author nya....
...☘️Queen_OK☘️...
__ADS_1