
Yasmin menatap pria di atasnya yang di dalam matanya hanya ada dirinya. Yasmin tertegun sejenak mengetahui jika di dalam mata Noah hanya ada dirinya. Terkadang meskipun seseorang berada di depan matanya, namun di dalam matanya akan terlihat kabur. Hanya jika seseorang fokus pada sesuatu, bayangannya akan memenuhi mata itu. Dan pemandangan itulah yang dia lihat.
"Sayang, beberapa Minggu ini aku sudah pergi menemui psikiater. Dan psikiater itu bilang jika aku kemungkinan besar sudah sembuh. Apakah kamu mau mencobanya denganku?" Noah tersenyum misterius.
Setelah Noah mengetahui apa yang membuatnya mengalami happephobia dan mengingat masa lalu yang tanpa sadar ia lupakan, ia pergi menemui psikiater untuk mendiskusikan masalahnya itu secara diam-diam. Ia tidak ingin merepotkan Yasmin mengingat Yasmin yang sedang sibuk dengan urusan perusahaan beberapa waktu ini. Beberapa kali ia juga mendengarkan suara-suara ambigu saat berada di tempat psikiater untuk mengatasi traumanya. Dan setelah beberapa usaha, akhirnya ia pun merasa jika ia bisa mengendalikan dirinya. Apalagi suara-suara yang dibuat Yasmin hari itu jelas lebih menyenangkan dari suara-suara yang dia dengar.
Yasmin terkejut mendengar pertanyaan suaminya dan berkedip dua kali sebelum mengulurkan tangannya untuk memeluk leher Noah dengan senyum genit yang menawan dan nakal. Sebagai pasangan suami istri yang belum menyempurnakan pernikahan mereka, ia tahu jika akan terasa canggung pada awalnya. Apalagi setelah mereka bersama selama beberapa waktu. Yasmin juga menyadari jika mengambil inisiatif adalah hal yang sulit. Jadi dia dengan sengaja bekerja sama dengan Noah. Kehidupan rumah tangga mereka harus segera bergerak maju.
"Suamiku, tentu saja aku tidak keberatan." Suara Yasmin yang menyenangkan terdengar.
Setelah menerima persetujuannya, Noah segera membungkuk untuk meraup bibir merah muda Yasmin. Pertama dengan lembut. ******* bibir lembut itu sebelum menelusupkan lidahnya masuk ke dalam. Menjerat dan terjalin dengan lidah kecil Yasmin. Deretan gigi putih kecil itu juga tidak luput dari perhatiannya. Kemampuan mencium Noah jelas sudah meningkat jauh sejauh ini. Hingga membuat Yasmin kuwalahan untuk mengimbanginya. Dalam sekejap, suara decapan basah dan ambigu terdengar di dalam kamar Yaang awalnya sepi itu.
Tangan berotot Noah jelas tidak mau diam. Di saat salah satu tangannya menopang tubuhnya, tangan lainnya sudah Menelusup ke dalam baju tidur sutra tipis yang dikenakan Yasmin. Menyentuh permukaan kulit lembut yang putih, membuat Yasmin bergetar di bawahnya. Memasukkan jarinya ke dalam lubang kecil di tengah perutnya. Mempermainkannya hingga membuat Yasmin menjadi berkabut.
Di saat Yasmin hampir kehabisan napasnya karena ciuman yang menuntut itu, Noah akhirnya melepaskannya. Kemudian menghujani wajah Yasmin dengan kecupan-kecupan lembut di saat ia terus mengucapkan cinta. Yasmin terbuai dalam gairah hingga ia tidak menyadari kapan baju tidurnya terkoyak. Seluruh kancing bajunya terlepas dengan paksa. Hanya ketika ia mendengar suara robekan itulah ia akhirnya menurunkan pandangannya. Menemukan bagaimana Noah terkubur di dadanya. Bermain dengan lidah dan pucuk pink miliknya.
Yasmin yang awalnya ingin memprotes tindakan Noah yang merusak baju tidurnya tentu saja tidak lagi memiliki waktu untuk itu karena sensasi yang dibuat Noah untuknya nyatanya tidak mengizinkannya. Dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar dia tidak melenguh atau mende-sah. Ia tidak ingin momen mereka gagal lagi kali ini hanya karena Noah tidak nyaman dengan suaranya.
Noah melihatnya menggigit bibir bawahnya dan merasa bersalah untuknya. Yasmin pasti menahannya karenanya.
__ADS_1
"Lepaskan. Jangan ditahan." Noah berhenti dan menatap Yasmin dengan lembut. Yasmin tertegun.
"Tidak apa-apa. Aku ingin mendengar suara indahmu." Noah berkata setelah mengecup bibir Yasmin yang kini bengkak karenanya. Namun Noah melihat jika sepertinya Yasmin masih tidak percaya padanya. Jadi dia meyakinkannya sekali lagi.
"Percayalah. Selama ini aku sudah berkonsultasi dengan psikiater dan telah dinyatakan sembuh." Ucap Noah.
"Benarkah?" Yasmin terkejut.
"Ya. Jadi mulai sekarang jangan tahan suaramu. Aku ingin mendengar suara merdu itu keluar dari bibirmu yang manis." Noah tersenyum.
Tanpa menunggu jawaban Yasmin karena Noah kembali menguasai bibir yang menggoda itu. Tetapi kali ini tangannya tidak lagi bermain di bawah sana. Melainkan melepas baju tidur sutra yang merupakan pasangan dari baju tidur yang dikenakan oleh Yasmin yang sudah dirusak olehnya.
Yasmin sama sekali tidak menyangka jika Noah sangat ganas di atas ranjang. Jika dia tidak mengalami sendiri bagaimana beberapa malam gagal mereka sebelumnya, ia mungkin akan menduga jika laki-laki yang bergairah panas semalam adalah orang yang memang ia nikahi selama ini. Ia bahkan tidak melepaskannya meskipun ia sudah tertidur karena kelelahan!
Menatap wajah tampan di depannya, Yasmin tidak bisa tidak terpesona. Meskipun ia sudah cukup lama bersama Noah, namun ia masih akan selalu terpesona akan pesona suami tampannya itu. Melihat wajah yang terlihat damai itu, Yasmin secara otomatis mengingat bagaimana wajah itu yang terlihat menggoda saat mereka dalam gairah semalam. Memikirkannya. Rona merah merambat dari telinganya, lalu merambat ke kedua pipinya. Hingga ke puncak hidungnya.
"Apa kamu sudah puas melihat?" Mata Noah yang sebelumnya tertutup tiba-tiba terbuka saat ia menatap Yasmin dengan senyum kecil di bibirnya. Suara serak yang khas bangun tidur menunjukkan jika dia memang baru saja bangun.
"Eh? Kenapa kamu begitu merah? Sayang apa semalam aku terlalu jauh dan membuatmu sakit?" Melihat wajah Yasmin yang merah, Noah seketika bangun dengan cemas. Dia segera menyentuh dahi Yasmin dengan punggung tangannya untuk memeriksa. Namun sebelum tangan Noah berhasil menyentuh dahi merah itu, Yasmin buru-buru menepisnya saat ia memalingkan wajahnya ketika i menjawab.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa." Suara Yasmin rendah namun masih terdengar dengan jelas. Melihat raut wajah Yasmin yang terlihat tidak baik, Noah semakin khawatir.
"Sayang katakan padaku dimana yang terasa tidak nyaman? Maafkan aku. Maafkan aku. Lain kali aku akan hati-hati." Noah bertanya dengan sungguh-sungguh. Ia memegang tangan Yasmin dengan erat. Terlihat jika dia benar-benar cemas.
Melihat reaksinya, Yasmin tidak tahu harus bagaimana? Selain bagian bawahnya yang berdenyut. Umumnya tidak ada yang tidak nyaman.
Apa dia akan memberitahunya hal itu?
*
*
Menikah Dengan Saingan Mantan Suami #54
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Jangan lupa Like, vote dan komen ya...👍...
...Follow juga akun Author nya....
__ADS_1
...☘️Queen_OK☘️...