
Yasmin duduk dengan meremas tangannya. Surya berdiri tak jauh dari tempatnya. Ia melirik istri tuannya ini dengan khawatir. Sesekali ia melihat lampu hijau di atas ruangan operasi yang seakan mengintimidasi seseorang.
"Yasmin! Bagaimana bisa Marsya sampai masuk ke rumah sakit?" Sammy yang baru datang segera mencengkeram bahu Yasmin tanpa sempat Surya halangi.
Ya. Saat ini yang berada di dalam ruang operasi adalah Marsya.
Tiga puluh menit yang lalu Marsya dibawa ke rumah sakit oleh Yasmin dan Surya karena dia terjatuh dan mengalami pendarahan hebat. Melihat Marsya yang hendak menyerangnya, Yasmin dengan cepat menghindar. Ia tidak mungkin membiarkan dirinya dipukul dan disakiti tepat di depan matanya saat ia sadar. Jadi reaksi pertamanya saat ia melihat gerakan Marsya yang hendak menyerangnya adalah menghindar.
Marsya mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang Yasmin sebelumnya, jadi saat tiba-tiba saj Yasmin mengelak dan menghindar, ia tidak sempat menghentikan gerakan nya dan terjerembab di atas lantai. Celakanya, bagian pertama yang menyentuh lantai yang keras adalah perut besar Marsya yang menonjol. Membuat perut besar yang berisi bayi itu tertekan dan mengalami benturan. Seketika, darah keluar dan Marsya juga pingsan. Semua orang panik melihat kejadian itu.
Yasmin juga tidak menyangka jika kejadiannya akan menjadi seperti ini. Dia benar-benar bergerak menghindar secara refleks. Tidak ada sedikitpun keinginannya untuk menyakiti Marsya. Apalagi bayi yang ada di dalam kandungannya. Sama sekali tidak.
Ketika semua orang masih terkejut dibuatnya, Yasmin adalah orang yang pertama sadar dan memerintahkan Surya untuk mengantar Marsya ke rumah sakit. Dia sendiri yang menemani Marsya sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah sakit.
Setelah mereka tiba di rumah sakit dan melihat jika Marsya telah mendapatkan perawatan dari dokter dan perawat, Yasmin segera menghubungi Sammy untuk memberitahukan keadaan Marsya. Sedangkan Surya juga menghubungi Noah dan memintanya datang. Melihat keadaan Yasmin, ia tahu jika Yasmin saat ini sedang tertekan. Apalagi kejadian yang menimpa Marsya bisa dikatakan ada hubungannya dengan dirinya. Yasmin pasti merasa bersalah saat ini. Lalu jika memikirkan jika bayi itu atau pun Marsya akhirnya tiada, ia lah yang paling merasa bersalah pada saat ini.
Kantor Sammy lebih dekat dengan rumah sakit tempat Marsya dirawat dibandingkan dengan hotel tempat Noah baru saja selesai meeting. Jadi Sammy datang terlebih dahulu.
Di dalam telepon, Yasmin memberitahunya jika Marsya jatuh dan mengalami pendarahan hebat. Tidak mendengarkan bagaimana keadaan itu sampai akhir, Sammy sudah menutup telepon dan bergegas datang ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, perasaan Sammy campur aduk. Melihat Yasmin, ia sangat marah. Ia menyangka jika yasmin lah yang dengan sengaja melukai Marsya.
"Tuan, tolong lepaskan nyonya. Nyonya sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini. Nyonya Marsya jatuh sendiri. Banyak saksi yang dapat memberitahu kejadian yang sebenarnya." Surya memegang lengan Sammy yang mencengkeram bahu Yasmin. Ia berusaha keras melepaskan Yasmin dari Sammy yang saat ini terlihat menggila.
"Jika sesuatu terjadi ada Marsya ataupun bayi ku, aku tidak akan pernah melepaskan mu!" Ucap Sammy sambil melepaskan cengkeramannya dan berlari ke arah pintu ruang operasi saat melihat pintu ruang itu sedikit terbuka untuk menunggu dokter keluar.
__ADS_1
"Uhuk uhuk." Yasmin terbatuk setelah Sammy melepaskannya.
"Nyonya, apa nyonya baik-baik saja? Ini semua salahku yang tidak menjaga nyonya dengan baik." Surya segera memeriksa Yasmin untuk mengetahui apakah ada luka.
"Aku tidak apa-apa. Sekarang sebaiknya kita lihat apa yang terjadi." Ucap Yasmin. "Semoga saja Marsya dan bayinya tidak mengalami masalah." Lanjut Yasmin sambil berdiri dan berjalan menyusul Sammy yang menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Dokter, bagaimana kondisi istri dan anak saya?" Tanya Sammy begitu dokter keluar. Wajahnya terlihat cemas dan khawatir. Yasmin juga tidak kalah cemas dari Sammy.
"Mohon maafkan kami tuan, kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan keduanya, namun sayangnya hanya istri anda yang dapat kami selamatkan sementara bayi anda dengan sangat menyesal tidak dapat kami selamatkan. Saat pasien dibawa kesini, kondisi keduanya sudah kritis. Jadi kami tidak dapat berbuat apa-apa." Jawab Dokter itu datar.
"Apa?! Bagaimana mungkin? Kemarin kami baru saja memeriksakan kandungan Istri saya, dan semuanya baik -baik saja. Dokter saya mohon jangan bercanda." Sammy tidak dapat menerima kabar itu. Ia dengan panik menarik lengan dokter.
"Mohon maafkan kami tuan. Tuhan berkehendak lainnya. Masih ada satu hal lagi yang perlu kami sampaikan." Lanjut dokter itu serius.
"Katakan dokter."
"Dokter.... ini... apakah ada cara lain?" Tangan Sammy bergetar saat menerima berkas itu.
"Mohon maafkan saya tuan. Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa istri tuan." Ucap Dokter sambil menggelengkan kepalanya.
Sammy mengambil napas dalam-dalam sambil berpikir. Yasmin dan Surya hanya berdiri di sampingnya dengan terkejut. Jika rahim Marsya diangkat, itu artinya Marsya tidak akan pernah bisa hamil lagi. Menyadari hal itu, Yasmin menoleh untuk melihat ekspresi Sammy yang tampak tidak berdaya.
"Baiklah dokter. Lakukan yang terbaik untuk istri saya." Jawab Sammy tegas sebelum membubuhkan tanda tangannya di atas surat persetujuan pengangkatan rahim.
"Baik tuan. Kami akan mencoba melakukan yang terbaik untuk istri anda." Dokter mengangguk. Lalu menerima surat itu dan memberikannya pada perawat sebelum ia kembali masuk ke dalam ruang operasi.
__ADS_1
Sammy menyandarkan tubuhnya pada dinding putih yang dingin ruang operasi itu setelah pintu itu ditutup dari dalam oleh dokter.
"Sammy, aku ikut berduka atas semua musibah ini. Semoga kalian diberi kesabaran." Ucap Yasmin menatap Sammy kasihan.
"Apa kamu sudah puas sekarang? Apakah ini caramu membalas dendam padaku hah? Aku benar-benar tidak menyangka jika Kamu adalah wanita yang sangat kejam Yasmin!" Sammy menatap tajam Yasmin. Bersiap menyerangnya jika Surya tidak dengan cepat menghadangnya.
"Maafkan aku Sammy. Tapi aku benar-benar tidak sengaja." Ucap Yasmin takut. Jujur, ia sedikit merasa bersalah. Jika dia membiarkan Marsya memukulnya, kejadian ini pasti tidak akan terjadi.
"Heh! Akhirnya kamu mengakui jika kamulah yang mencelakai Marsya kan?" Sammy menatap Yasmin dengan garang.
"Tidak. Bukan aku." Tolak Yasmin tegas.
"Kamu jangan mengelak lagi. Kamu pasti ingin membalas dendam pada kami kan? Yasmin, sudah aku katakan dengan jelas jika aku sudah tidak mencintaimu. Jadi aku minta kamu melepaskan aku dan juga Marsya. Kamu hanya ingin bahagia. Tapi kamu bukannya menyerah malah menyerang Marsya. Kamu bahkan tidak memiliki belas kasihan pada bayi yang masih berada di dalam kandungan. Kamu adalah wanita yang paling kejam yang pernah aku temui. Aku menyesal pernah menikah denganmu dulu!" Ucap Sammy dengan suara lantang. Membuat semua orang yang ada di sekitar mengalihkan perhatian mereka padanya.
Mendengar semua perkataan Sammy yang ditujukan pada Yasmin, semua orang mulai mengkritik Yasmin. Mereka mulai menuduh dan menghakimi Yasmin dengan kata-kata yang kejam.
*
*
Menikah Dengan Saingan Mantan Suami #44
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Jangan lupa Like, vote dan komen ya...👍...
__ADS_1
...Follow juga akun Author nya....
...☘️Queen_OK☘️...