Menikah Dengan Saingan Mantan Suami

Menikah Dengan Saingan Mantan Suami
Bab 49. Konspirasi


__ADS_3

Beberapa pria paruh baya berkumpul di sebuah ruangan pertemuan yang mewah. Wajah mereka tampak serius saat mereka mulai mengeluh satu sama lainnya. Sesekali mereka akan mengutuk saat wajah mereka yang mulai keriput terlihat kesal dan penuh dengan keluhan.


Di antara mereka, hanya seorang pria muda tiga puluh tahunan yang duduk dengan tenang memperhatikan beberapa pria aruh baya itu sambil menopang tangannya dengan malas.


"Apakah kalian sudah selesai?" Pria muda itu posisi duduknya. Mengeluarkan suara yang membuat orang yang lebih tua darinya terdiam. Mengatupkan mulut mereka dengan patuh.


Meskipun pria muda itu paling muda di antara mereka, namun semua pria itu jelas menghormati dan menjunjung tinggi pria muda itu.


"Tuan Reihan jangan marah. Kami hanya kesal pada bocah bau itu sehingga mengumpat untuknya saat kami mendengar namanya." Salah satu dari orang tua itu menggosok tangannya menjilat.


Pria muda yang dipanggil tuan Reihan itu mendengus sebelum mengulurkan tangannya dan Sekretarisnya yang berdiri di belakang nya segera memberikan apa yang dia minta tanpa dikatakan. Setumpuk kertas telah diletakkan di tangan kanannya.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Reihan melemparkan beberapa lembar kertas yang dingin ke atas meja besar di tengah mereka semua.


"Ini adalah harga yang harus kalian bayar untuk membuatku bergabung dengan kalian." Ucapnya dengan sombong.


Beberapa orang tua itu segera mengambil tumpukan kertas di depan mereka dan membacanya dengan sedikit ketidak percayaan di dalam ekspresi wajah mereka. Setelah mereka selesai membaca isi dari kertas itu, mereka mulai saling memandang. Berinteraksi dalam diam dengan saling pengertian.


"Harga yang telah aku berikan tidak dapat dinegosiasikan." Ucap Reihan acuh. Menatap beberapa orang tua itu mengejek.


"Kamu mengerti tuan Reihan. Tetapi untuk mengambil keputusan yang begitu besar, kami tentu masih harus membicarakan dengan matang sebelum kami memutuskan. Apalagi beberapa orang penting di sisi kami juga tidak dapat hadir dalam pertemuan ini karena mereka sedang berada di luar negeri. Jadi bagaimana jika tuan Reihan membiarkan kamu kembali dulu dan memberi kami waktu untuk membicarakannya?" Salah satu orang tua itu berbicara setelah mencapai kesepakatan mereka.


"Tentu saja. Aku juga bukan orang yang tidak masuk akal. Tentu saja kalian harus berbicara terlebih dahulu." Reihan berkata dengan tenang. "Namun kalian juga harus tahu jika meskipun aku bukan orang yang tidak masuk akal, tetapi aku tidak memiliki banyak kesabaran. Jadi aku tidak akan memberi kalian banyak waktu." Lanjut Reihan dengan mata yang berkilat dingin dan licik.


"Baik baik. Kamu mengerti. Kami akan segera memberikan keputusan setelah kami membicarakannya dengan rekan kamu yang lainnya."

__ADS_1


"Baiklah. Karena tidak ada lagi yang perlu aku lakukan. Aku akan pergi dulu." Reihan berdiri dengan angkuh. Menepuk celana bahannya yang bahkan tidak kotor maupun kusut dengan cara yang menyebalkan.


Setelah Reihan keluar dari ruangan itu, segera suara semua orang terdengar ribut. Mereka segera mengeluarkan berbagai macam keluhan dan pemikiran mereka yang sejak awal mereka tahan. Namun keluhan itu tidak lagi ditujukan pada orang yang sama seperti sebelum mereka bertemu dengan orang yang terakhir keluar.


Mengabaikan keributan di dalam ruang pertemuan yang ada di belakangnya. Reihan mengambil ponsel di dalam saku jasnya sebelum menghubungi seseorang. "Aku sudah melemparkan umpan. Tunggu beberapa hari sebelum kita dapat memanen beberapa ikan." Ucapnya pada seseorang di seberang sambungan telepon.


"Oke. Aku mengerti. Jangan lupa untuk mentraktirku makan lain kali." Ucapnya lagi setelah mendengar jawaban dari orang di seberang.


"Eih! Tentu saja diperlukan. Apalagi aku juga ingin merasakan masakan kakak ipar yang legendaris." Reihan tersenyum mengangkat sudut bibirnya dengan licik. Matanya yang seperti rubah berkilat dengan penuh minat.


Mendengar jawaban orang di seberang lagi, Reihan tersenyum kemenangan. Menutup teleponnya dan memasukkan benda pipih itu kembali ke dalam saku jasnya. "Aku penasaran seperti apa wanita yang bisa menyentuh pria itu dengan selamat." Reihan menghela napas saat ia melanjutkan langkahnya yang panjang. Keluar dari hotel yang menjadi tempat pertemuan mereka malam itu.


Orang di seberang memiliki ekspresi yang jelas berbanding terbalik dengan ekspresi Reihan yang sedang bahagia. Wajahnya yang tampan tampak muram.


Yasmin sibuk dengan proyek kerjasama antara PT.Gutama dengan Grayson Grup yang ditanganinya. Sejak dia datang terakhir kali, ia sudah tidak pernah lagi datang ke kantor Noah. Apalagi Noah akan datang menjemputnya untuk makan siang bersama hampir setiap hari. Juga ada Surya yang akan mewakilinya melapor ke kantor.


Namun yang tidak pernah Yasmin kira adalah bahwa seseorang sudah mencarinya selama beberapa Minggu ini dengan frustasi. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Lukas. Lukas yang telah merencanakan banyak hal untuk merebut Yasmin dari Noah nyatanya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukan selangkah pun dari rencana nya karena Yasmin yang sama sekali tidak dapat ia temui.


"Apa mungkin Noah mengurungnya di rumah?" Gumam Lukas sambil mengetuk meja kerjanya. Pekerjaannya ditumpuk di samping dan belum ia kerjakan sama sekali. Pikirannya kacau saat ini.


Lalu dengan malas ia mengangkat telepon di dalam ruangannya dan memerintahkan sekretarisnya untuk masuk. Tak butuh waktu lama, sekretarisnya yang memang duduk di depan ruangannya segera tiba di dalam ruangan. Berdiri dengan patuh. Menunggu perintah dari Lukas.


"Apa kamu tahu jadwal Noah akhir-akhir ini?" Tanya Lukas mengejutkan sekretaris nya. Namun setelah mengikuti Noah selama hampir satu bulan belakangan, ia sedikit memiliki pemaham tentang atasannya itu bahwa ia tidak suka seseorang ikut campur pada urusannya.


Dia menjawab dengan patuh. "Maafkan saya tuan, saya tidak memiliki kekuasaan untuk mengetahui jadwal tuan Noah. Tetapi saya dengar dari beberapa karyawan bahwa setiap hari tuan Noah akan keluar pada jam makan siang."

__ADS_1


"Setiap hari keluar untuk makan siang?" Lukas menyipitkan matanya.


"Benar tuan."


"Oke. Aku mengerti. Keluarlah." Lukas mengangguk sebelum mengibaskan tangannya untuk mengusir sekretarisnya keluar.


"Tidak mungkin bagi Noah untuk pergi meeting setiap hari di jam yang sama. Apa jangan-jangan..." Lukas tidak melanjutkan ucapannya saat ia tiba-tiba tercerahkan.


Ia pernah mendengar dari ayahnya jika Noah sangat menghargai istrinya. Jadi dia menebak jika Noah pergi setiap jam makan siang pasti untuk menemui Yasmin. Yah. Itu pasti.


Cahaya melintas di mata Lukas saat ia mulai meyakini pemahamannya. Melihat jam yang sudah mendekati jam makan siang, ia tidak lagi membuang waktunya dengan berpikir dan segera mengambil satu persatu berkas di meja kerjanya yang telah menunggu dikerjakan sejak pagi. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya itu sebelum jam makan siang.


*


*


Menikah Dengan Saingan Mantan Suami #49


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Jangan lupa Like, vote dan komen ya...👍...


...Follow juga akun Author nya....


...☘️Queen_OK☘️...

__ADS_1


__ADS_2