
"Kalian pikir dengan mengancamku seperti itu saja dapat menghalangiku? Kalian mungkin akan menghargai muka kalian. Namun aku...setelah semua yang terjadi, saat ini aku tidak takut sama sekali." Marsya berkata dengan tegas tanpa keragu-raguan sedikitpun. Saat ia berbicara, ia secara bertahap maju selangkah demi selangkah. Mengikis jarak dari mereka berdua. Membuat kedua wanita itu panik karena takut.
Melihat Marsya yang semakin mendekat, kedua wanita itu bergetar karena takut. Keringat dingin langsung membasahi tubuh mereka. Telapak tangan mereka menjadi dingin. Mereka ingin berteriak untuk meminta tolong. Tetapi Kata-kata mereka tersangkut di tenggorokan dan tidak berhasil mereka keluarkan sama sekali karena panik.
Di sisi yang berlawanan. Senyum Marsya yang bukan senyuman terlihat sangat menyeramkan. Marsya menggerakkan kedua tangannya yang memiliki kuku yang tajam dan panjang berwarna merah. Di mata kedua wanita yang hampir terjatuh di tanah, penampilan Marsya saat ini terlihat seperti vampir yang harus darah. Segera, mereka bergidik semakin ketakutan.
Pada saat yang sama, Yasmin juga akan pergi ke kamar mandi. Namun saat ia baru sampai di sana, pemandangan inilah yang ia lihat. Yasmin mengerutkan alisnya saat ia menatap Marsya yang tampak seperti orang gila.
"Apa yang terjadi di sini." Suara Yasmin membuat ketiga orang yang berada di sana lebih dulu segera menoleh.
Dua wanita yang terduduk dengan menyedihkan di atas lantai dingin kamar mandi seperti melihat secercah cahaya saat mereka melihat Yasmin. Apalagi mengingat fakta bahwa Marsya sebelumnya memiliki konflik dengan Yasmin. Yasmin pasti tidak akan diam saja melihat Marsya bertindak semaunya di depannya. Memanfaatkan Marsya yang tengah lengah, kedua wanita itu segera melarikan diri. Melewati Yasmin di belakangnya sebelum berlari cepat tanpa berbalik kembali.
Setelah itu hanya tertinggal Yasmin dan Marsya yang ada di lorong itu. Keduanya saling menatap dalam diam. Marsya adalah yang pertama mengalihkan pandangannya darinya dan mendengus sebelum berjalan cepat melewati Yasmin. Tidak lupa meliriknya kesal saat ia melewatinya. Namun sebelum Marsya benar-benar pergi, pertanyaan Yasmin menghentikan langkahnya.
"Apa kamu ingin mengunjungi makam bayimu?"
"Untuk apa kamu peduli?" Marsya bertanya tanpa menoleh.
"Hah.... aku juga pernah di posisimu sebelum nya. Jadi aku tahu apa yang kamu rasakan." Yasmin menghela napas.
__ADS_1
"Jangan sok suci di depanku. Kamu pasti sangat senang kan karena aku telah mendapatkan karma dan juga kehilangan bayiku?" Marsya berbalik dan menatap Yasmin dengan penuh kebencian.
"Tidak." Yasmin menggelengkan kepalanya sebelum melanjutkan ucapannya. "Jujur saja, Saat aku mengetahui jika kematian bayiku adalah ulah kalian, aku bertekad jika aku akan membuat kalian merasakan apa yang aku rasakan. Tapi pada akhirnya aku menyadari jika apa yang menimpaku adalah takdir yang memang harus aku jalani. Juga, aku merasa jika bayi kalian tidak ada hubungannya dengan masa lalu. Aku juga merasa sedih atas kehilanganmu." Ucap Yasmin tulus.
"Jangan bersikap munafik di depanku. Aku tahu orang seperti apa kamu. Kamu mungkin terlihat baik di depan. Tapi siapa tahu apa yang kamu sembunyikan jauh di dalam hatimu." Marsya mendengus.
"Terserah jika kamu tidak mempercayaiku atau bagaimana kamu menilaiku. Aku hanya ingin memberitahumu, jika kamu ingin mengunjungi makam anakmu, datanglah ke makam X. Di area D dengan nama Cinta. Aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan. Aku akan pergi dulu." Setelah selesai, Yasmin berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.
Marsya mengepalkan tangannya. Bukannya ia tidak peduli pada anaknya yang telah tidak ada. Dia juga beberapa kali bertanya pada Sammy mengenai makam anak mereka, tetapi laki-laki itu selalu saja berkelit setiap kali dia menanyakan nya. Ia selalu membuat berbagai alasan untuk tidak membiarkan Marsya mengunjungi makam anak mereka. Dalam pikirannya, Sammy tidak akan mengabaikan anak mereka meskipun dia sudah tiada. Jadi meskipun hatinya terus meragukan Sammy, dia dengan bodoh membohongi dirinya sendiri. Namun dia tidak menyangka jika bahkan Sammy ternyata bukan hanya mengabaikan anak mereka, tetapi juga bahkan tidak mengurus mayat anak mereka. Bukankah ini terlalu tidak berperasaan?
"Tunggu saja Sammy, karena kamu bahkan tidak memiliki hati untuk anak kandungmu sendiri, aku juga tidak akan berbelas kasih." Marsya mengepalkan tangannya. Dia mengeluarkan ponsel nya dan menekan beberapa nomor yang dia hafal di luar kepala sebelum berbicara dengan datar pada orang di seberang.
"Sayang kamu sudah kembali?" Sammy yang melihat Marsya kembali segera tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk membantu.
Marsya sendiri sudah merubah ekspresinya dan dengan alami mengulurkan tangannya pada Sammy. Lalu berdiri di samping Sammy yang segera memeluk pinggangnya. Selanjutnya, kedua orang itu sudah berkomunikasi seperti biasa seakan tidak ada masalah apapun di antara mereka.
Interaksi keduanya dilihat oleh Yasmin yang segera menghela napas. Noah yang ada di sampingnya mendengar Yasmin menghela napasnya dan mengikuti arah pandangan matanya dan mengetahui bahwa Yas sebenarnya tengah memperhatikan Sammy dan Marsya.
"Ada apa? Kenapa kamu menghela napas seperti itu melihat mereka? Apa mungkin kamu masih tidak bisa melupakan mantan suamimu itu?"
__ADS_1
"Eh? Bagaimana mungkin?!" Yasmin melihat wajah Noah yang tidak benar dan tahu bahwa pria itu mungkin sedang cemburu segera menggamit lengan Noah dengan mesra. Matanya yang polos menatap Noah untuk meredakan kecemburuan pria itu.
"Lalu kenapa kamu memperhatikan mereka jika kamu masih tidak dapat melupakannya?"
"Sayang bukannya begitu. Kamu jangan menuduhku seperti itu. Sebenarnya aku tadi di kamar mandi bertemu dengan Marsya. Lalu aku mengatakan padanya masalah makam bayinya itu. Aku juga melihat jika sebenarnya Marsya sudah mulai tidak percaya pada Sammy dari sorot matanya setiap kali dia menyebut nama Sammy. Lalu tidak dapat disangkal lagi jika Sammy juga sudah memiliki cinta lagi pada Marsya. Bahkan dari sorot matanya, dia sepertinya jijik setiap melihat Marsya. Tapi lihatlah mereka saat ini, mereka berdua bertindak secara alami seperti tidak terjadi apapun. Sungguh, mereka seperti seorang aktor yang sangat pandai berakting. Jika mereka artis, mereka pasti sudah dapat merebut piala Oskar dari pemegang piala saat ini." Jelas Yasmin panjang lebar.
"Oh? Jadi sayangku ini sekarang sudah bisa melihat cinta dari mata orang lain? Lalu, bagaimana menurutmu saat aku melihatmu? Apakah kamu juga melihat ada cinta atau tidak?" Noah berbicara dengan nada rendah. Dengan sengaja meniupkan napas hangat di telinga istrinya itu.
*
*
Menikah Dengan Saingan Mantan Suami #52
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Jangan lupa Like, vote dan komen ya...👍...
...Follow juga akun Author nya....
__ADS_1
...☘️Queen_OK☘️...