Menikah Dengan Saingan Mantan Suami

Menikah Dengan Saingan Mantan Suami
Bab 38. Yasmin dan Memasak


__ADS_3

Yasmin sibuk di dapur untuk memasak. Meskipun Yasmin setuju untuk menerima bantuan dari bibi Wati, namun tidak berarti bibi Wati akan membantu memasak. Yasmin hanya meminta bantuannya untuk menemukan beberapa bahan masakan. Selain itu meminta bibi Wati duduk dan menunggu perintah darinya. Namun bibi Wati tidak berani terlalu bebas. Dia tidak duduk dan hanya berdiri di samping. Sambil memperhatikan cara Yasmin memasak.


Setelah bergelut dengan perlengkapan dapur dan hanya tinggal menyiapkan satu masakan lagi, beberapa anak rambut yang awalnya diikat rapi mulai berantakan. Mengganggu pergerakan Yasmin. Namun tangan Yasmin sedang terbungkus plastik saat ini.


"Bibi Wati, tolong bantu saya mengikat rambut yang menggangu ini." Ucap Yasmin tanpa mengalihkan perhatiannya dari adonan perkedel yang sedang ia persiapkan.


Namun Yasmin begitu terkejut saat mencium aroma yang familiar saat sebuah tangan menyentuh kepalanya untuk merapikan anak rambutnya yang berantakan. Yasmin segera menoleh dan terkejut. "Kamu sudah pulang?" Yasmin tersenyum saat bertanya pada pria itu.


"Hm." Noah mengangguk. Ia masih fokus pada anak rambut Yasmin. Namun ia tidak pernah berurusan dengan anak rambut siapapun selama ini. Ia bahkan tidak pernah melihat orang melakukannya. Jadi dia tidak tahu harus dibagaimanakan rambut-rambut yang berantakan itu.


"Ha ha ha ha." Yasmin tertawa renyah saat melihat wajah bingung Noah yang menurutnya sangat lucu.


"Apa yang kamu tertawakan?" Noah tidak senang. Ia mengerucutkan bibirnya. Ia sudah berbaik hati membantunya, namun dia malah menertawakan nya.


"Tentu saja rambutku. Aku rasa dia adalah rambut pertama yang pernah dirapikan oleh tuan Presdir yang dingin ini." Yasmin tidak berhenti tersenyum.


"Huh! Kenapa kamu memasak sendiri?" Noah mengalihkan pembicaraan sambil melirik bibi Wati yang berdiri di belakang mereka.


"Ini bukan salah bibi Wati. Aku sedang senang hari ini dan menjadi bersemangat masak." Yasmin ikut melihat bibi Wati dan menyadari tatapan Noah yang tidak senang itu.


"Aku sudah hampir selesai. Kamu naiklah dulu ke atas. Nanti kalau makanannya sudah siap, aku akan memanggilmu." Ucap Yasmin.


"Baiklah. Aku naik dulu." Noah melirik bibi Wati sekali lagi sebelum ia keluar dari dapur dan naik ke lantai atas.


"Bibi Wati tenang saja ya. Bibi Wati tidak akan dipecat." Ucap Yasmin melihat wajah khawatir bibi Wati yang mulai pucat. "Sekarang bibi bantu aku menggoreng perkedel ini saja, untuk yang lainnya tolong tata makanan di atas meja. Aku akan melihat Noah dulu." Yasmin melepaskan plastik yang membungkus tangannya. Kemudian melepas celemek yang ia kenakan.

__ADS_1


"Baik nyonya." Bibi Wati dan dua pelayan lainnya mengiyakan. Mereka segera bekerja dengan cepat. Melakukan apa yang dikatakan oleh Yasmin.


Sementara di meja makan semua orang sedang sibuk, Yasmin juga sedang sibuk membujuk Noah. Yasmin benar-benar tidak menyangka jika Noah akan marah ketika mengetahui ia memasak.


"Kamu pikir aku marah pada mereka?" Noah melirik Yasmin mengintimidasi saat Yasmin berkata padanya untuk tidak memecat bibi Wati dan dua pelayan itu.


Yasmin yang mendengar perkataan Noah tidak bisa tidak terkejut. Jika Noah tidak marah pada mereka, apa itu berarti jika dia marah padanya?


"Jadi, kamu marah padaku? Noah, aku hanya masak saja. Kenapa kamu begitu marah?" Yasmin bertanya dengan heran.


"Masak memang tidak masalah. Tetapi kamu terluka kan? Itu masalahnya." Dengus Noah. Awalnya ia sangat senang melihat Yasmin sedang berada di dapur untuk memasak sampai ia menyadari jika jari telunjuk kiri Yasmin terpasang plester. Dia tidak mungkin terluka saat berada di kantor atau saat bertemu dengan Sammy. Jika tidak, Surya pasti sudah akan melaporkannya. Jadi dia pasti terluka saat berada di rumah. Apalagi saat memasak sangat besar kemungkinannya untuk terluka saat menggunakan pisau.


"Ah? Ini? Ini hanya luka kecil saja." Yasmin mengangkat jari telunjuk kirinya yang memang terlilit plester dengan heran. Saat memasak memang terkadang tidak sengaja terkena pisau. Hanya luka kecil seperti ini sudah biasa baginya. Yang dia tidak tahu adalah bahwa Noah tidak akan menerima luka sekecil apapun.


"Tidak perlu. Tadi sudah dibersihkan dan diobati oleh bibi Wati. Jadi tidak akan infeksi. Lagipula jika hanya luka sekecil ini saja harus pergi ke rumah sakit, kasihan dokter dan pasien yang benar-benar sakit." Yasmin menghentikan langkahnya.


"Tapi..."


"Tapi luka ini sudah sembuh. Jika kamu tidak percaya, aku akan membukanya untuk kamu lihat." Yasmin memotong ucapan Noah. Lalu bersiap membuka plester di tangannya yang segera dihentikan oleh Noah.


"Jangan." Ucap Noah tegas. "Baiklah kalau memang sudah dibersihkan. Kita tidak perlu ke rumah sakit.


"Ya. Memang. Sekarang ayo turun. Aku sudah memasak masakan yang istimewa malam ini." Kini giliran Yasmin yang menarik tangan Noah keluar dari kamar. Membawanya turun untuk makan malam.


Di meja makan sudah tertata rapi semua masakan yang dibuat oleh Yasmin. "Aku tidak tahu apakah kamu suka makanan-makanan yang aku masak hari ini. Jadi jika ada yang ingin kamu makan lain kali, katakan saja. Aku akan memasakkannya untuk mu nanti." Ucap Yasmin setelah ia duduk dan bersiap mengambilkan makanan untuk Noah.

__ADS_1


"Kamu masih berniat untuk memasak lagi? Apa luka itu masih belum cukup?" Noah tidak senang. Ia cemberut seraya menatap Yasmin dengan marah.


"Kamu masih mengingatnya. Ini hanyalah luka kecil saja. Lagipula tidak ada sesuatu pun yang tidak memiliki resiko. Dan setiap resiko yang harus dihadapi membuat seseorang menjadi semakin kompeten."


"Jadi maksudmu, hanya dengan terluka seperti ini kemampuan memasak akan bertambah, hah?" Noah mengangkat alisnya.


"Tidak. Tidak. Bukan begitu. Maksudku adalah karena sudah pernah terluka, maka seseorang akan lebih berhati-hati ke depannya. Hehe..." Yasmin tersenyum lebar. "Aku janji tidak akan terluka lagi saat memasak. Aku akan lebih berhati-hati di masa depan. Tapi tolong jangan larang aku memasak karena aku sangat bahagia saat memasak, ya? Bukannya kamu juga pernah bilang jika masakanku enak dan memberiku ide untuk membuka restoran juga?" Rayu Yasmin. Sejak dulu Yasmin sangat suka memasak. Semua perasaan di hatinya akan ia luapkan dengan memasak. Entah itu sedang bahagia atau bersedih, ia akan melampiaskannya dengan memasak.


"Huft....baiklah kalau begitu. Tapi jika aku tahu kamu terluka lagi sekecil apapun di masa depan karena memasak, kamu dilarang masak untuk selamanya. Dan untuk membuka restoran, lupakan saja ide itu. Cukup dengan toko roti itu." Ancam Noah memperingatkan.


"Baiklah-baiklah. Sekarang berhenti berdebat atau masakan yang aku masak dengan susah payah ini akan dingin dan tidak akan enak lagi."


*


*


Menikah Dengan Saingan Mantan Suami #38


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Jangan lupa Like, vote dan komen ya...👍...


...Follow juga akun Author nya....


...☘️Queen_OK☘️...

__ADS_1


__ADS_2