Menikah Dengan Saingan Mantan Suami

Menikah Dengan Saingan Mantan Suami
Bab 48. Tidak Semua Orang Baik


__ADS_3

Memikirkan bayi Marsya yang telah meninggal, Yasmin tidak berbicara sejak ia keluar dari kantor polisi. Bahkan sepertinya tidak ada hal yang dapat membuat Yasmin tertarik dari lamunannya yang seakan menelannya.


"Sayang, katakanlah sesuatu padaku. Jangan membuatku takut." Noah dengan cemas memegang tangan Yasmin yang dingin saat mereka bersiap untuk tidur. Ia sangat khawatir melihat Yasmin yang tampak tidak baik sejak awal.


"Noah, apa benar aku yang telah membunuh bayi itu?" Tanyanya cemas.


"Tidak. Itu bukan kamu. Semuanya sudah ditakdirkan. Apalagi faktanya wanita itu jatuh sendiri karena kesalahannya. Bagaimana bisa menjadi kamu? Sayang, jangan memikirkan hal yang membuatmu tidak bahagia. Apakah kamu lupa bagaimana mereka mengurus bayimu di masa lalu? Sekarang sesuatu yang sama menimpa mereka. Tetapi ini adalah perbuatan mereka sendiri. Bukankah ini sebetulnya adalah sebuah karma?" Noah menatap mata Yasmin yang sedih.


"Tapi tetap saja aku merasa tidak adil bagi bayi itu. Dia juga berhak lahir ke dunia ini?"


"Sayang, kamu terlalu baik. Saat mereka melakukan hal yang sama pada bayimu di masa lalu, apakah mereka juga akan berpikir demikian? Tidak. Tetapi jika kamu memang merasa sangat sedih atas bayi itu, bagaimana jika kita mengurus pemakaman bayi itu?" Mata Yasmin terkejut mendengar ucapan Noah.


"Apa maksudmu dengan mengurus pemakamannya? Apakah itu berarti Sammy dan Marsya tidak melakukannya?" Tanya Yasmin kaget.


"Sayangnya, ya." Noah menghela napas. Ia juga baru saja mendapat laporan dari anak buahnya. Mereka mendengar pembicaraan Sammy dan Yuna di rumah sakit. Juga apa yang dikatakan Sammy pada pihak rumah sakit untuk mewakili mereka mengubur bayinya. Ia tidak ingin repot-repot melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya baginya.


"Tapi mereka adalah orang tua bayi itu. Bagaimana mungkin mereka bisa mengabaikan nya seperti itu?" Yasmin benar-benar tidak percaya ada orang tua yang akan mengabaikan anaknya walaupun bayi itu telah tiada. Bukankah hubungan antara orang tua dan anak tidak akan pernah terputus? Bagaimana bisa seperti ini?


"Tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama. Sebagian orang akan menganggap anak sebagai harta yang paling berharga baginya, tetapi sebagian lainnya tidak. Apalagi anak itu telah tiada. Mereka yang hanya memikirkan nilai guna suatu barang tidak akan repot-repot mengurus hal yang tidak berguna bagi mereka." Jelas Noah. Ia memandang Yasmin dengan sabar.


Semua orang memang tidak sama. Yasmin yang tidak pernah melakukan hal buruk pada orang lainnnya mengira jika semua orang akan sama dengannya yang hanya akan melakukan hal baik pada orang lain. Dia tidak berpikir jika hati manusia itu adalah sesuatu yang paling tidak stabil di dunia ini. Jika tidak, dia tidak akan dimanfaatkan oleh orang lain untuk menyakitinya di masa lalu.


Pada tahap ini, Noah bertekad bahwa di masa depan, dia harus menjaga Yasmin dengan baik dari semua mata jahat yang menatapnya dengan tajam. Dia tidak akan membiarkan hal buruk merugikan kebaikan Yasmin yang akan membuatnya kehilangan kebaikannya.


"Kalau begitu, bantu aku mengurus pemakaman bayi itu. Aku khawatir mayatnya akan disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab ketika mereka mengetahui jika ayah bayi itu tidak peduli padanya."

__ADS_1


"Baiklah." Noah mengangguk. Lalu mengirim pesan pada Evan untuk melakukan prosedur untuk mengambil alih mayat bayi yang tidak bersalah itu untuk dikuburkan. Meskipun mereka tidak ada hubungannya dengan anak Sammy itu, Noah tahu jika Yasmin pasti akan sedih saat mengetahui jika mayat bayi itu tidak dimakamkan dengan layak.


"Sudah selesai. Besok aku akan menemanimu mengunjungi makamnya." Ucap Noah.


"Baik."


"Nah, sudah larut sekarang. Kamu harus segera tidur. Jika tidak, kamu tidak akan punya tenaga untuk esok." Noah mengelus kepala Yasmin dengan penuh kelembutan.


"Baiklah." Yasmin mengangguk. Lalu menurunkan dirinya saat ia memasukkan dirinya ke dalam pelukan hangat Noah yang menenangkan.


Dengan sabar Noah menepuk pelan bahu Yasmin untuk membuatnya tidur dan hanya setelah ia mendengar suara napas lemah yang stabil, ia meraih ponselnya yang dia letakkan di atas nakas di samping tempat tidur mereka. Lalu melihat pesan yang masuk beberapa saat yang lalu.


Ketika itu terbuka, Evan telah mengirimkan beberapa file melalui emailnya. Setelah membaca lembaran-lembaran file itu dengan hati-hati, Noah turun dari ranjang dengan sangat perlahan. Takut gerakan ringannya bahkan akan mengganggu wanita yang sedang tidur di atas ranjang.


Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, Marsya akhirnya diperbolehkan pulang setelah pemulihannya berjalan dengan baik. Sammy menjemputnya dari rumah sakit seperti seorang suami yang perhatian. Dengan hati-hati, ia mendorong kursi roda Marsya dan menggendongnya setelah mereka sampai di depan mobil.


Sampai saat ini, Marsya tidak mengetahui bahwa selain kehilangan Bayinya, ia juga kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu untuk selama-lamanya. Secara khusus Sammy berpesan ada dokter dan perawat yang merawat Marsya untuk menyembunyikan kebenaran ini darinya dengan alasan dia tidak ingin melihat Marsya yang bersedih. Sebagai gantinya, ia akan memberitahunya secara perlahan-lahan. Dokter mengerti perasaan Sammy dan mengangguk setuju. Dokter itu bahkan merasa jika Sammy adalah seorang suami yang baik. Dia telah bekerja di bidangnya selama belasan tahun dan tidak sedikit mendapati suami yang tidak akan ragu meninggalkan istrinya yang didapati tidak dapat memberinya seorang anak dengan sebab apapun. Dengan tulus dokter itu bahkan memuji sifat baik Sammy dan akan membantunya me jaga rahasia itu untuknya.


Marsya menatap perutnya yang datar saat ia duduk di dalam mobil. Sejak ia mengetahui jika dia tengah hamil anak Sammy, dia tidak bisa tidak bahagia. Dia telah menunggu untuk waktu yang lama untuk bisa hamil. Bahkan membiarkan Sammy menikahi Yasmin untuk hartanya. Marsya telah lama menunggu Sammy menguasai harta Yasmin dan mengusirnya untuk dia datang dan menggantikan tempatnya sebagai nyonya Sammy.


Di masa lalu, Saat Sammy menunjukkan padanya Yasmin untuk pertama kalinya dan mengatakan bahwa Yasmin adalah target Sammy untuk dinikahi, Marsya sudah memiliki kekhawatiran jika Sammy akan berbelok suatu saat. Namun Sammy dengan tulus memberinya kepercayaan diri. Dan membiarkan Sammy melakukan rencananya dengan baik dan dia dengan tenang menunggunya di samping.


Namun setelah menunggu beberapa lama, ia tidak pernah melihat hasil yang jelas. Bahkan ia merasa jika Sammy berangsur-angsur berubah padanya. Sebagai seorang wanita, ia memiliki firasat jika perubahan Sammy terjadi karena laki-laki itu kemungkinan telah jatuh cinta pada Yasmin. Bagaimana pun, tidak dapat dia pungkiri jika Yasmin memang memiliki kualifikasi seorang wanita yang layak untuk dimiliki. Wajah yang cantik dan tubuh yang proporsional.


Selama ini ia selalu menurut setiap kali Sammy menyuruhnya meminum pil kontrasepsi itu hingga suatu malam Sammy lupa tidak mengenakan pengaman karena ia telah mabuk waktu itu. Namun setelah melihat perubahan pada Sammy, Marsya merasa jika dia harus segera mengambil langkah yang besar. Memanfaatkan kesempatan, dengan sengaja Marsya tidak meminum pil kontrasepsi Yang selalu dia minum setiap kali mereka berhubungan. Dia beruntung, bayi itu akhirnya tercipta di dalam rahimnya.

__ADS_1


Dengan bayi di dalam kandungannya, Marsya akhirnya berhasil menekan Sammy agar dia dengan cepat membuat pilihan. Memilih antara dia dan anak di dalam kandungannya atau Yasmin. Tentu saja dia sudah menebak jika Sammy akan memilihnya karena dia memiliki anak.


Melihat Marsya yang linglung, Sammy yang baru masuk ke dalam mobil setelah memasukkan tas Marsya ke dalam bagasi segera bertanya dengan cemas. Ia mengelus lembut rambut panjang Marsya saat ia bertanya. "Ada apa? Apa yang membuatmu begitu sedih?"


Marsya menghela napas sebelum menjawab dengan cemas. "Apa kamu akan meninggalkanku karena aku telah kehilangan bayi kita seperti kamu meninggalkan Yasmin?"


Sammy tertegun. Ia tidak berharap jika Marsya akan menanyakan hal itu. "Heh... hal bodoh apa yang kamu katakan? Memangnya kamu bisa dibandingkan dengan Yasmin itu?"


Sammy memang tidak mengatakannya dengan jelas. Namun Marsya sangat senang mendengarnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Sammy dengan nyaman. Ia benar-benar bersyukur telah mengenal Sammy di dalam hidupnya.


Sementara itu, di atasnya, Sammy mendengus dengan kesal. Jika dia tidak takut citranya akan hancur begitu saja, ia tidak akan repot-repot menghibur wanita ini dan bahkan tidak akan pernah menjemputnya dari rumah sakit.


*


*


Menikah Dengan Saingan Mantan Suami #48


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Jangan lupa Like, vote dan komen ya...👍...


...Follow juga akun Author nya....


...☘️Queen_OK☘️...

__ADS_1


__ADS_2