Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Pergi Untuk Yang Kedua Kalinya


__ADS_3

Vania tidak mampu memberi alasan ataupun membantah kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut Bramantyo. Meski kalimat itu sangat kejam dan tidak berperasaan, Vania sadar itulah kenyataannya.


Sambil menunduk, Vania meremas ujung gaun yang ia kenakan. Air mata di pipinya terus mengalir deras, namun nampaknya hal itu tidak membuat Bramantyo berbelas kasih.


"Aku dengar, kau dan Bianca bahkan sudah bersahabat sebelum Bianca bersama Darren. Dari semua orang di dunia ini, harusnya kau adalah orang yang paling paham."


"Tapi, bagaimana kau bisa melakukan itu pada Bianca?"


"Aku pikir, sesama wanita tidak akan tega berbuat seperti itu."


Vania semakin terisak, hatinya teriris sakit mndengar cemooh dari ayah mertuanya.


"Maafkan, aku, Pa," lirih Vania. Bahunya berguncang hebat.


"Jangan panggil aku Papa. Bahkan jangan pernah bermimpi menjadi menantu di keluarga ini!" seru Bramantyo.


"Darren menikahimu tanpa memohon restu dari kami. Dia keluar dari rumah ini saat memilihmu. Artinya, kau adalah tanggung jawabnya sendiri."


"Papa, aku mohon jangan berkata seperti itu." Darren mendekat dan meraih pergelangan tangan Bramantyo.

__ADS_1


"Seharusnya kau berpikir Darren. Apa pantas kau menikah tanpa mengatakan apapun pada kami? Jika kau merasa bersalah, seharusnya kau datang untuk memohon maaf sejak awal, bukan malah pergi dan bersikap seakan kau tidak menganggap kami sebagai orang tuamu!"


Darren menunduk. Ia sadar telah berbuat banyak kesalahan.


"Meskipun kami tidak merestui hubungan kalian, apa kalian pernah berusaha datang? Apa kalian pernah berusaha memohon?" sentak Bramantyo.


"Kalian bahkan tidak melakukan apapun selama ini." Nada suara laki-laki paruh baya itu melemah. Napasnya terasa berat, dadanya pun amat sakit. Melihat anak yang selama ini ia besarkan dengan penuh kasih sayang, telah menjadi orang asing baginya.


"Pa, Vania mengandung anakku," lirih Darren. "Bagaimanapun, aku harus bertanggungjawab," lanjutnya.


"Bertanggungjawab? Lalu bagaimana tanggung jawabmu pada Bianca? Bukankah saat itu dia juga mengandung anakmu?" tanya Bramantyo.


Bramantyo menumpahkan segala perasaannya. Sakit hatinya melihat kelakuan tidak terpuji anaknya. Ia merasa telah gagal sebagai orang tua.


Di sisi lain, Sintia terus menangis. Ia tidak kuasa menahan beban hatinya, namun ia juga tidak bisa mengatakan apapun untuk membela Darren atau menghentikan suaminya.


Setelah mendengar semua ungkapan Bramantyo, dunia Darren seakan runtuh. Ia bagai kehilangan sosok orang tua. Ia seperti telah dianggap asing oleh keluarganya sendiri.


"Ayo pulang," lirih Darren sambil membantu Vania berdiri.

__ADS_1


"Tapi ...." Vania berusaha menolak saat Darren mengajaknya pergi, namun kini tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.


"Tidak apa-apa. Ayo pulang," bujuk Darren.


Tidak ada satupun orang di ruangan itu yang berusaha mencegah kepergian sepasang suami istri itu. Bianca dan Daniel hanya menatap mereka datar, begitupula Bramantyo.


Sementara Sintia, ia tidak kuasa melihat kepergian anak sulungnya untuk yang kedua kalinya. Wanita paruh baya itu hanya menunduk sambil menutup wajahnya dengan tangan. Tangisan Sintia mengiringi kepergian Darren dari rumah itu.


Melihat ibu mertuanya, Bianca segera mendekati Sintia.


"Ma, ayo istirahat," ajak Bianca. Ia mendorong kursi roda Sintia menuju kamar tamu.


"Sementara Mama istirahat di sini agar tidak perlu naik turun tangga. Bianca akan tinggal sementara di sini untuk merawat Mama sampai pulih," ucap Bianca saat mereka sudah masuk ke dalam kamar.


Bianca menumpuk tiga bantal dan mengambil selimut baru untuk Sintia. Ia membantu ibu mertuanya naik ke atas tempat tidur.


"Mama harus istirahat. Jangan terlalu banyak berpikir," lirih Bianca. Ia memegang erat tangan Sintia.


Bianca paham apa yang dirasakan oleh ibu mertuanya. Tentu saja Sintia tidak rela jika Darren pergi dari rumah ini. Darren tetaplah anaknya, anak yang terlahir dari rahimnya.

__ADS_1


***


__ADS_2