Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Penolakan Daniel


__ADS_3

Bianca melihat Daniel dengan tatapan penuh kagum, begitupun dengan Abraham. Padahal, CEO merupakan sebuah jabatan yang diimpikan banyak orang, namun Daniel sama sekali tidak tertarik.


Jika Daniel mau, ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan dari keluarga Abraham, bahkan untuk membiayai kuliahnya, Abraham pun tidak keberatan.


Namun nyatanya, Daniel bahkan tidak membebankan hal itu pada orang lain. Ia berusaha untuk menjadi mandiri dengan usahanya sendiri.


"Bagaimana, Sayang?" Abraham bertanya pada Bianca.


"Apapun keputusan Papa, Bianca pasti setuju," jawab Bianca.


"Apa kau yakin menolak jabatan ini, Daniel?" Kini Abraham bertanya pada menantunya.


"Benar, Pa. Maaf, bukan aku tidak menghargai kebaikan dan kemurahan hati Papa. Tapi rasanya ini terlalu cepat, aku merasa belum pantas" jawab Daniel menjelaskan.


Abraham hanya tersenyum dan mengangguk. Ia paham keputusan Daniel.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, rombongan koki beserta pelayan datang membawa beberapa meja dorong berisi bermacam-macam makanan. Mereka bertiga lalu makan bersama sambil bercengkrama.


Abraham sangat bahagia, ia melihat Bianca nampak sangat ceria karena keberadaan Daniel di sampingnya. Kini rasa sakit hati terhadap keluarga Daniel yang pernah singgah pun perlahan terkikis. Bocah laki-laki itu tidak hanya menyelamatkan Bianca, namun juga menyelamatkan harkat dan martabat kedua orang tuanya.


Setelah makan, Abraham meminta Bianca menemaninya berkeliling serta melihat-lihat suasana kantor yang sangat jarang ia kunjungi. Sementara Daniel, ia berada di ruangan Bianca sambil mengerjakan tugas kuliahnya di depan layar laptop.


"Papa sudah menyiapkan semua berkas dan penyerahan kekuasaan padamu. Sejujurnya, Papa sudah tahu kalau Daniel akan menolak tawaran Papa," ujar Abraham.


"Pa, bagaimana Papa bisa tahu?"


"Maksud Papa, Papa memata-matai Daniel?" tanya Bianca dengan wajah kesal. Entah mengapa ia tidak suka kehidupan pribadi suaminya diintip oleh orang lain, sekalipun Abraham.


"Papa hanya takut, Sayang. Papa khawatir. Sejak kamu kecil, Papa membahagiakanmu mati-matian. Mamamu bahkan mempertaruhkan nyawa demi melahirkanmu. Bagaimana bisa orang lain seenaknya menyakitimu? Bagaimana bisa kami diam saja?"


"Pa, Daniel bukan Darren. Daniel berbeda," ucap Bianca lirih.

__ADS_1


"Papa tahu, sekarang Papa paham. Daniel memang pantas untukmu, dia sangat baik."


"Terima kasih sudah mempercayainya." Bianca memeluk Abraham. Tidak terasa air mata di pipinya menetes. Bianca tahu bagaimana perjuangan orang tuanya agar bisa membuatnya bahagia, mereka pasti sangat takut dan khawatir jika satu-satunya anak mereka disakiti oleh orang lain. Bagi orang tua, anak adalah permata yang paling berharga.


Setelah berkeliling, Abraham kembali ke ruangan bersama Bianca. Abraham harus langsung kembali ke luar negeri untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia datang hanya untuk memberikan kabar bahagia untuk anak dan menantunya, kini ia sudah sangat senang melihat keduanya tampak harmonis.


Bianca dan Daniel mengantar Abraham sampai ke depan kantor. Mereka melambaikan tangan saat mobil yang ditumpangi oleh laki-laki paruh baya itu melaju pergi.


"Bagaimana? Sudah kau urus semuanya?" tanya Abraham pada sekretaris muda yang sedang duduk di kursi kemudi.


"Sudah, Tuan."


"Pastikan dia tidak bisa hidup dengan tenang, termasuk wanita itu. Jangan biarkan perusahaan manapun menerima mereka, bahkan wanita itu harus diberhentikan dari pekerjaannya di kampus menantuku."


"Baik, Tuan. Saya akan melakukannya."

__ADS_1


***


__ADS_2