Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Jalan Hidupnya


__ADS_3

Mobil dipacu dengan kecepatan tinggi. Selama perjalanan, Darren nampak gelisah dan khawatir.


"Semua akan baik-baik saja, Kak," ucap Daniel menguatkan.


Saat mereka tiba di sebuah halaman rumah, mereka sudah melihat banyak sekali orang berkerumun, tidak luput keberadaan polisi berada di antara para warga yang datang karena rasa penasaran.


Darren berlari dengan cepat menghampiri kerumunan warga, sementara Daniel mengikuti kakaknya.


"Dengan Tuan Darren?" Seorang polisi menghampiri Darren dan bersalaman.


Darren mengangguk, ia mendengar penjelasan polisi di hadapannya dengan tubuh gemetar. Sementara Daniel, terus berusaha menguatkan saudaranya.


"Kapan terakhir kali kalian bertemu?" tanya polisi.


"Dua minggu lalu, saat sidang pertama perceraian kami," jawab Darren. Ia pun menceritakan tentang kondisi terakhir Vania saat terakhir kali mereka bertemu, termasuk saat menemukan wanita itu tertidur di trotoar.


Tanpa sanak dan saudara serta keluarga yang peduli, Vania berpikir jika hidupnya tidak lagi berarti. Wanita itu ditemukan dalam kondisi tak bernyawa dengan tubuh yang sudah hampir membusuk.


Polisi memperkirakan Vania melakukan bunuh diri beberapa hari lalu. Terlihat ada beberapa sisa obat tidur dan obat anti depresi yang berceceran di sekitar tempat tidur.


Darren dan Daniel tidak habis pikir, bagaimana bisa Vania bertindak sejauh itu?

__ADS_1


Padahal, menurut Darren, Vania adalah wanita yang sangat kuat dalam hal mengelola emosi. Ia pandai menyembunyikan perasaan marah, kesal dan kesedihannya. Bahkan membuat semua orang tertipu oleh parasnya yang cantik dan baik hati.


"Semua ini pasti sudah melewati batas kemampuannya," gumam Daniel. Ia mengusap punggung Darren yang terduduk lemas di samping tubuh wanita yang telah terbaring tak bernyawa.


Darren tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia tidak tahu harus memberi ungkapan seperti apa atas kasus kematian Vania.


Bagi Darren, wanita itu memanglah jahat dan tidak berperasaan. Namun ia tidak menyangka jika Vania akan bertindak sejauh itu untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Demi mengungkap motif bunuh diri Vania, polisi meminta Daniel dan Darren untuk datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lengkap.


Kini, Daniel merasa bingung. Haruskah ia memberitahu Bianca?


Demi kebaikan Bianca, Daniel terpaksa untuk menunda memberitahu wanita itu saat ini. Ia lebih memilih untuk mengurus semua ini lebih dulu agar nantinya Bianca lebih tenang.


***


Menjelang malam, Daniel baru tiba di rumahnya. Ia mendekati Bianca yang tengah asik bercanda bersama Heera di dalam kamar.


"Sayang, apa urusanmu sudah selesai?" tanya Bianca. Ia menyipitkan mata menatap suaminya.


"Hmm." Daniel mengangguk.

__ADS_1


"Kau pergi selama seharian penuh. Apa tidak ada yang ingin kau ceritakan? Apa kau pergi ke suatu tempat?" tanya Bianca penasaran. Pasalnya, Daniel tidak mengatakan ke mana tujuannya dan apa urusannya setelah pulang dari pengadilan.


"Sayang, kau mencemaskanku?" tanya Daniel sambil tersenyum menggoda. "Hanya kau wanita tercantik dan terbaik di dunia ini. Aku tidak akan berpaling kemanapun," lanjutnya.


"Benarkah?" Bianca melengos.


Sejak hamil, wanita itu memang lebih sensitif dari biasanya. Ia lebih sering marah saat Daniel pergi terlalu lama, atau bisa tiba-tiba menuduh Daniel yang bukan-bukan saat laki-laki itu tidak memberinya kabar selama lebih dari satu jam.


"Benar, Sayang. Aku hanya .... ada sedikit urusan," ucap Daniel. Ia duduk di samping Bianca lalu memeluk erat wanita itu.


Merasa ada yang tidak beres, Bianca sedikit mendorong tubuh Daniel dan menatap wajah sang suami.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Bianca.


"Ada sesuatu yang harus kau tahu, tapi berjanjilah untuk tidak terlalu memikirkannya. Ini sudah menjadi kehendak Tuhan, ini sudah takdir," terang Daniel.


Bianca semakin penasaran sekaligus tidak mengerti. Apa yang sebenarnya akan di sampaikan oleh sang suami?


"Sesuatu terjadi pada Vania," lanjut Daniel.


***

__ADS_1


__ADS_2