
Vania melongo, tidak menyangka jika Darren akan secara spontan mengatakan kalimat cerai di depan wajahnya.
"A-Apa? Cerai?" tanya Vania dengan terbata-bata. Wajahnya pias seketika.
"Itu yang kau inginkan, bukan? Kau menderita karena kita hidup susah, tidak seperti yang kau harapkan. Apa kau menikah denganku hanya karena aku anak orang kaya?"
"Tidak, Darren. Tidak. Maafkan aku, aku hanya sedang emosi," ujar Vania. Ia cukup takut dengan apa yang baru saja dikatakan Darren.
"Kau boleh marah padaku, Vania. Kau boleh menyesal menikah denganku, tapi jangan pernah sekalipun menghina keluargaku!"
"Maafkan aku, maaf," bujuk Vania. Ia mendekati Darren dan merangkul lengan laki-laki itu. Namun sepertinya Darren sendiri sudah merasa lelah dan kesal, ia menampik tangan Vania dengan kasar.
"Darren, aku mohon," pinta Vania. Wajahnya begitu pucat, Darren tidak pernah semarah ini padanya apa lagi sampai mengucapkan kata cerai.
"Aku akan mengurus surat perceraian setelah anakku keluar dari rumah sakit."
"Tidak, Darren. Aku mohon, jangan!"
__ADS_1
"Aku sudah cukup memaklumi sikapmu selama ini. Apa kau pikir aku tidak punya perasaan? Selama ini kau selalu mengeluh ini dan itu, apa hanya warisan dan harta yang ada di kepalamu? Apa kau pikir aku tidak pernah memikirkan cara agar bisa mencukupi kebutuhanmu? Aku selalu berusaha, Vania!"
"Maafkan aku," ucap Vania dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Sungguh, ini bukan maksud dari apa yang tadi ia ucapkan. Ia hanya ingin mengungkapkan keluh kesahnya.
Sejak Darren tidak memiliki pekerjaan dan Vania dikeluarkan dari tempatnya mengajar, keduanya sering kali terlibat cekcok perihal keuangan.
Meskipun Darren punya tabungan, nyatanya Vania selalu mendesak sang suami agar terus mendekati kedua orang tuanya. Bukan untuk memohon ampun dan meminta maaf, melainkan memberinya hak sebagai ahli waris agar bisa memiliki pekerjaan yang sebelumnya Darren miliki.
"Aku akan kembali ke rumah sakit. Pakai uang ini untuk keperluanmu," ucap Darren. Ia meninggalkan sebuah amplop putih berisi uang di atas meja.
Sebelum kembali ke rumah sakit, Darren menyempatkan diri untuk pulang ke rumah orang tuanya. Sekali lagi, ia ingin memohon maaf, kembali meraih kasih sayang dan cinta orang tuanya kembali. Ia sadar, tanpa mereka ia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
"Mama," lirih Darren. Ia melihat Sintia duduk di taman belakang rumahnya sambil memberi makan ikan koi.
Sintia tidak menoleh, ia sudah bisa mengenali suara siapa di belakangnya.
"Sekali lagi, maafkan aku, Ma. Aku menyadari semua kesalahanku, maafkan aku."
__ADS_1
"Sekarang aku tahu bagaimana sulitnya menjadi orang tua, aku tahu rasanya menjadi orang tua. Mungkin apa yang menimpaku, Vania, dan bayi kami adalah hukuman atas apa yang telah aku lakukan."
"Tapi, Ma. Aku mohon, maafkan aku sekali saja agar aku bisa menjalani hidupku dengan tenang," ujar Darren.
Sintia tidak mengatakan sepatah katapun. Dalam hati kecilnya, wanita tua itu sudah memberi maaf sang anak, namun tidak bisa di pungkiri, bahwa Darren memang perlu diberi waktu agar bisa menyadari semua kesalahannya.
Sebagai orang tua, sebesar apapun kesalahanmu anak, mereka tetap akan memberi maaf. Itulah orang tua.
"Anakku masih terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Aku tidak meminta bantuan atau pertolongan. Tapi bisakah Mama datang menjenguknya? Bisakah Mama melihat cucu Mama? Dia anakku, Ma. Dari siapapun dia terlahir, dia adalah darah dagingku."
Tanpa menoleh, Sintia menangis.
Darren meninggalkan halaman belakang dan pergi dari rumah tanpa mendapatkan jawaban apapun. Ia kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi putri kecilnya.
Selepas kepergian Darren, Daniel dan Bianca datang. Anak dan menantunya itu sering datang berkunjung untuk melihat keadaannya, dan kini saat mereka datang, keduanya melihat Sintia tengah terisak sendirian.
***
__ADS_1