
Sidang pertama gugatan perceraian yang dilayangkan oleh Darren pada Vania berjalan lancar. Vania sama sekali tidak membantah atas segala tuduhan yang ia terima. Namun, wanita itu sempat mengungkapkan rasa keberatan dengan berbagai alasan termasuk keberadaan Heera, hingga membuat persidangan ditunda dua minggu ke depan.
Vania hadir dalam persidangan dalam keadaan yang menyedihkan, penampilan yang berantakan bahkan terkesan tak terurus. Meski begitu, hal itu sama sekali tidak membuat Darren bersimpati. Baginya, Vania sudah tidak pantas untuk dimaafkan atas semua kesalahannya. Terlebih, tidak sekali dua kali Darren mendengar Vania menghina keluarganya, hal itulah yang membuat Darren semakin sakit hati.
"Darren, bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi?" tanya Vania. Ia menarik lengan Darren saat mereka keluar dari ruang sidang.
"Untuk apa?" Darren balik bertanya. Kini, tiada lagi tatapan rasa iba dan cinta di matanya. Hanya kemarahan dan kekesalan yang ia rasakan.
"Heera butuh aku, Darren. Aku ibunya!"
"Dia bisa hidup tanpamu, Vania. Aku pastikan dia tidak akan pernah kekurangan apapun dariku!"
"Tidak, Darren. Tidak! Aku mohon." Vania merangkul lengan Darren, namun dengan kasar Darren menepisnya.
__ADS_1
Laki-laki itu hendak meninggalkan Vania, namun wanita itu justru berlutut dan memegang kakinya.
"Aku berjanji akan berubah demi anak kita, Darren. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau dan Heera, tolong jangan buang aku," pinta Vania dengan air mata berurai.
"Jika hanya kami yang kau miliki, seharusnya sejak awal kau mulai berbenah diri. Bukannya malah menjadi-jadi."
"Maafkan aku, Darren. Maafkan aku!" seru Vania.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi. Jangan pernah muncul di hadapanku ataupun Heera, atau bahkan di hadapan keluargaku. Dan akan lebih baik jika kau tidak hadir di persidangan kedua nanti agar semua lbih cepat," terang Darren.
"Darren, tunggu! Darren!" teriak Vania.
Tidak ingin lagi urusan semakin panjang, Darren meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Ia bisa memaafkan saat Vania menghina dirinya karena ketidakmampuannya mencukupi kebutuhan mereka, namun ia tidak bisa memaafkan wanita itu karena pengakuan nyata tentang tujuannya sejak awal.
__ADS_1
Sikap Vania yang selama ini terus mendorong Darren agar bisa meminta hak waris pada kedua orang tua Darren, masih bisa dimaafkan. Darren berusaha mengerti, karena mereka memang sedang dalam keadaan kekurangan.
Namun setelah mengetahui semua keburukan Vania, Darren merasa menyesal telah mempercayai wanita itu selama ini. Ia bahkan menghianati keluarga, kekasih, dan banyak orang demi Vania. Ia selalu berpikir bahwa cinta wanita itu adalah cinta yang tulus dan murni dari hati. Nyatanya, semua yang telah mereka lewati selama ini hanya sebuah kebohongan, hanya demi obsesi balas dendam tidak berdasar Vania sendiri.
Setelah menghadiri sidang perceraian, Darren langsung kembali pulang dan menelepon Daniel agar mengantar Heera pulang.
Sementara Vania, wanita itu tak tentu arah dan tujuan. Ia sudah menopangkan hidupnya selama ini pada Darren, namun semua tak berjalan mulus sesuai rencana. Alih-alih hidup Bianca dan keluarganya hancur seperti keinginannya, justru hidupnya sendiri yang lebih hancur.
Ia memiliki rumah, namun merasa tak memiliki tempat bersandar, tempat bernaung, dan tempat berteduh. Wanita itu berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang ramai lalu lalang kendaraan.
Hidupnya berantakan, ia bahkan tidak memiliki harga diri lagi untuk digadaikan. Vania kehilangan segalanya, ia kehilangan harapan dan impiannya.
"Untuk apa lagi aku hidup?"
__ADS_1
***