
Vania menatap Bianca dengan wajah datar. Hatinya memang sakit mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut wanita di depannya. Namun Vania sadar, ia bersalah.
"Kau tidak pernah berubah, Bianca. Kau egois!" ucap Vania.
"Egois? Siapa yang paling egois dan paling tidak berperasaan di antara kita? Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri?" Bianca menyipit.
"Kau selalu mementingkan dirimu dan urusanmu sendiri dibandingkan persahabatan kita, padahal kita sudah saling kenal jauh sebelum kau bersama Darren. Kau mementingkan kisah asmara diatas persahabatan, kau egois!" hardik Vania.
Bianca menatap tajam, apa maksud perkataannya?
"Kau bersenang-senang bersenang-senang bersama Darren saat aku dalam keadaan sulit. Apa kau tidak ingat? Kau tidak ada saat aku butuh, Bianca!" Nada suara Vania semakin meninggi, namun Bianca berusaha tetap tenang dan santai.
"Lalu?" tanya Bianca.
"Disaat kau tidak ada, Darren yang senantiasa menghiburku. Kau sibuk dengan urusanmu sendiri. Padahal kau sudah kaya, tapi kau seakan serakah dan mementingkan urusan bisnis keluargamu."
__ADS_1
"Jadi, kau iri?"
Vania terdiam. Benar, ia memang iri sejak awal. Bianca selalu hidup tenang dan nyaman. Ia tidak pernah merasa kekurangan. Harta melimpah, kasih sayang kedua orang tua, hingga kekasih yang setia.
Bianca memiliki segala hal yang tidak dimiliki oleh Vania. Memang benar ia pernah merasakan hidup mewah, namun segalanya berubah setelah ayahnya masuk ke dalam penjara dan semua kekayaan itu musnah begitu saja.
"Benar, aku iri padamu," jawab Vania mantap.
"Lalu kau merayu Darren? Merebut salah satu kebahagiaanku?"
"Ah, begitu. Baiklah, kalian memang sama saja. Kalian terlihat sangat cocok, pasangan serasi. Terima kasih telah mengambil sampah yang mengganggu hidupku," ejek Bianca.
"Kau!" Vania menggertakkan gigi karena kesal.
"Apa kau sudah selesai bicara? Aku sibuk." Bianca melihat jam di pergelangan tangannya. Jam tangan berwarna putih dengan taburan berlian yang sangat indah. Berlian putih itu nampak berwarna pelangi saat sinar matahari menyorotnya.
__ADS_1
Vania melirik, ia memang selalu iri dengan apa yang Bianca miliki. Jika dulu saat mereka masih bersahabat baik, Bianca pasti dengan senang hati memberikan barang-barang miliknya pada Vania jika wanita itu menginginkannya. Namun kini, Vania hanya bisa menggigit jari.
Vania sadar Bianca memang teman yang baik, ia dermawan, namun entah mengapa ia selalu merasa iri. Vania tidak hanya sering mendapatkan barang-barang milik Bianca, namun ia juga sering mendapatkan hadiah berupa barang baru.
Kehidupan Vania yang awalnya baik-baik saja lalu berubah terbalik seratus delapan puluh derajat, membuatnya menjadi gelap mata. Rasa iri timbul pada kehidupan Bianca yang penuh dengan keberuntungan.
Saat merasa tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan, Bianca masuk ke dalam mobil. Ia membunyikan klakson berkali-kali agar Vania menyingkir dari samping mobilnya.
"Bukan aku ingin bersikap sombong, tapi kau yang membuatku melakukannya," batin Bianca. Ia bahkan sudah kehilangan hati nurani untuk mengasihani orang yang pernah sangat penting dalam hidupnya.
Selama perjalanan pulang, Bianca terus berpikir. Ia mengingat hal-hal mencurigakan yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.
Saat kepulangannya dari Prancis, Vania memang mulai menjauhinya meski ia sudah meminta maaf dengan membantu ayah Vania keluar dari penjara. Namun Darren yang tiba-tiba menjadi sangat sibuk dan sulit dihubungi selama beberapa waktu terakhir, menjadi bukti bahwa sejak saat itulah mereka mulai bersama.
"Aku tidak menyesalinya. Aku mendapatkan setumpuk bongkahan berlian meski kehilangan secuil emas."
__ADS_1
***