
Dengan pelan, Bianca membaca setiap baris kata yang tertulis. Tangan wanita itu gemetar, seluruh darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir hingga badannya terasa lemas.
"Ini tulisan Vania," lirih Bianca.
"Hmm, Vania meninggalkan surat itu. Sepertinya dia menulisnya sesaat sebelum memutuskan untuk bunuh diri," jelas Daniel.
"Jadi, Heera ...." Bianca tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Air matanya mengalir seketika. Bayangan tentang nasib bayi itu begitu memilukan, terlebih Vania jelas mengakui perbuatan buruknya.
"Kemungkinan besar begitu," jawab Daniel lirih. "Tapi, bukankah masih ada kemungkinan bahwa Heera anak kandung Kak Darren? Mungkin saja Vania hanya sekali dua kali bersama laki-laki lain, tapi saat itu dia juga bersama Kak Darren. Pasti ada kemungkinan," lanjutnya.
Daniel masih ingin berharap, bahwa Heera benar-benar anak Darren. Bukan karena kasihan melihat Darren terpuruk atas semua kenyataan ini, namun Daniel memikirkan nasib Heera kedepannya.
Jika benar Heera bukan anak Darren, lalu ke mana mereka akan mencari ayah dari anak itu? Bagaimana masa depannya nanti? Bagaimana dengan nasibnya? Ketakutan itu tergambar jelas di wajah Daniel.
__ADS_1
"Lalu bagaimana tanggapan kakakmu? Dia akan membuang Heera begitu saja setelah tahu kenyataan ini?" tanya Bianca.
"Pasti dia sulit menerimanya. Tapi lebih baik kita memberinya waktu berpikir, aku akan mengantar Heera jika semua sudah membaik," jelas Daniel.
Bianca menatap bayi yang tengah tertidur lelap. Ada rasa sakit hati yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya, hingga dada Bianca terasa nyeri.
"Kau mengkhianatiku dan tidak mengakui darah daging yang tumbuh di rahim ku hanya untuk semua ini? Menyedihkan sekali hidupmu, Darren."
Bianca menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya. Masih ada luka yang tidak bisa sembuh begitu saja, namun ia tidak ingin terlalu larut dalam masalah yang orang lain hadapi. Bagi Bianca, Darren pantas mendapatkan hukuman dan rasa sakit yang setimpal dengan apa yang sudah pernah ia lakukan.
Ini adalah hasil perbuatan Darren, maka dia harus menerima semua resiko yang seharusnya.
"Aku akan membuatnya melakukan tes DNA. Masih ada kemungkinan," jawab Daniel.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi, harus ada yang bertanggungjawab atas bayi ini. Dia bayi tidak berdosa, dia tidak bersalah, bahkan dia tidak berharap dilahirkan dalam kondisi orang tua seperti mereka. Namun Darren harus tetap bertanggungjawab dan mengurusnya layaknya orang tua!" tegas Bianca.
Daniel melihat wajah kesal Bianca. Laki-laki itu sadar, bahwa masih ada luka basah yang membekas di hati wanita itu. Ia pasti mengingat bagaimana ia telah dihianati dan dicampakkan, hanya demi semua kekacauan ini.
"Kemarilah," lirih Daniel sambil meraih tubuh Bianca. Ia membenamkan wajah wanita itu di depan dadanya sambil memeluknya erat.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku tahu pasti kau kesal dengan semua yang terjadi, tapi aku yakin kau lebih kuat dari yang aku pikirkan," ucap Daniel. Ia mengelus lembut rambut Bianca.
"Terima kasih sudah mendampingiku selama ini. Kau adalah obat dari segala rasa sakitku." Bianca tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
"Kau adalah belahan jiwaku. Pemilik hatiku. Aku tidak akan pernah membiarkan kau terluka lagi, kau harus bahagia."
Dengan semua yang telah terjadi, seakan menjadi obat penguat untuk rasa cinta dan kasih sayang antara Daniel dan Bianca.
__ADS_1
Tidak sedikitpun Daniel merasa terpaksa menjalani pernikahan yang sama sekali tidak ia rencanakan. Bianca pun merasakan hal yang sama, ia tidak pernah merasa menyesal telah menerima Daniel sebagai suaminya. Bahkan di saat-saat terpuruknya, Daniel senantiasa ada di sampingnya.
***