
Mata Darren tidak bisa lepas dari bayi yang terbujur lemas sendirian. Seharusnya ia bisa menggendongnya, menciumnya, dan memeluknya dengan bahagia. Namun kini, ia hanya bisa memandang dari kejauhan.
Ini adalah rasa sakit terbesar yang Darren rasakan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang mendekatinya.
Darren menoleh, melihat Vania duduk di kursi roda. Wanita itu datang diantarkan oleh seorang perawat.
"Dokter bilang keadaannya sudah membaik, tapi masih ada kendala di saluran pernafasannya Jadi kita hanya bisa menunggu," jawab Darren setelah perawat yang mengantar Vania pergi.
"Kita pasti butuh banyak biaya. Kita tidak akan bisa membawanya pulang jika tidak bisa melunasi tagihan rumah sakit," keluh Vania.
"Yang terpenting dia harus sehat terlebih dahulu," gumam Darren.
Vania terdiam. Hatinya pun remuk melihat bayi yang ia lahirkan harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup. Ia ingin marah, tapi tidak tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi.
"Kemarin kau tidak ada di sini, dokter mencarimu. Aku tidak tahu siapa yang datang dan mengajukan diri sebagai wali bayi kita," ujar Vania.
"Daniel." Darren menjawab singkat.
__ADS_1
"Daniel? Kau datang menemui Daniel? Untuk mengemis bantuan padanya?" Vania bertanya dengan nada kesal.
Mendengar ucapan istrinya, Darren menoleh dengan tatapan tajam.
"Jaga ucapanmu, Vania. Aku pergi untuk menemui orang tuaku, Daniel lah yang menjagamu dan bayi kita, dia juga yang mengajukan diri sebagai wali sementara tanpa sepengetahuan ku!" seru Darren.
"Lalu, apa yang kau lakukan? Meminta bantuan orang tuamu?"
"Apa kau tidak sadar jika apa yang terjadi saat ini adalah hukuman untuk kita? Kita sudah menyakiti banyak orang. Bianca, Daniel, keluargaku dan keluarga Bianca. Mungkin inilah hukuman yang Tuhan berikan untuk kita," terang Darren.
"Ini semua terjadi karena kau lemah mempertahankan hakmu! Jika saja kau tetap bisa mempertahankan hakmu sebagai anak sulung orang tuamu serta pewaris keluargamu, kita tidak akan mengalami semua ini."
"Cukup, Vania. Cukup!" sentak Darren. "Jangan buat aku bersikap kasar padamu!"
Vania pergi dengan tangis, ia mengayuh kursi roda dengan tangannya sendiri dan pergi meninggalkan Darren.
"Vania ... Vania!" seru Darren. Ia berusaha mencegah istrinya pergi namun wanita itu enggan mendengarkan.
Darren hanya menghela napas berat. Ia tahu ia pun merasa lemah, namun ia masih cukup tahu diri dan malu jika menuntut sesuatu dari kedua orang tuanya sementara ia telah menyakiti hati mereka.
__ADS_1
Setelah tiga hari berada di rumah sakit dan dinyatakan sehat, Vania telah diizinkan pulang oleh dokter. Sementara bayinya, harus menjalani perawatan untuk beberapa waktu ke depan hingga kondisinya benar-benar baik dan paru-parunya berfungsi dengan normal.
Karena tidak ada sanak saudara, Darren terpaksa mengantar Vania pulang sementara bayinya di rumah sakit seorang diri.
"Dari mana kau membayar biaya rumah sakit sebesar itu?" tanya Vania. Ia tahu suaminya tidak bekerja dan tidak memiliki sumber penghasilan, jadi ia merasa penasaran dari mana Darren mendapatkan cukup banyak uang untuk biaya persalinannya.
"Daniel membantuku," jawab Darren.
"Daniel?" ulang Vania.
"Memalukan sekali, kita bahkan dianggap pengemis oleh saudaramu sendiri," gerutu wanita itu.
"Cukup, Vania! Apa kau pikir saudaraku punya sifat seperti itu? Kenapa seakan-akan keluargaku tidak ada yang baik di matamu?"
"Benar, mereka semua jahat. Bagaimana bisa mereka membiarkanmu hidup sulit dan bahkan tidak punya pekerjaan. Kita menikah karena saling cinta, kau meninggalkan Bianca karena tidak mencintainya. Jadi mereka tidak bisa menyalahkan takdir, bahwa kau memang tidak berjodoh dengan Bianca! Mereka saja yang terlalu berharap memiliki menantu seorang konglomerat!"
"Jaga bicaramu Vania. Kau keterlaluan!"
"Tidak, mereka yang keterlaluan. Jika saja aku tahu bahwa menikah denganmu hanya akan membuat hidupku menderita, aku pasti tidak akan mau!"
__ADS_1
"Kau menderita karena menikah denganku? Baik, aku akan menceraikanmu!"
***