
Entah mengapa jawaban dan penjelasan Vania tiba-tiba membuat Bianca tertawa geli. Bukannya merasa iba dengan pengakuan mantan sahabatnya, Bianca justru merasa jijik.
"Itulah yang membuat hidupmu selalu sulit dan serba kekurangan, karena kau miskin rasa syukur sejak awal. Bukannya kau tidak bahagia, hanya saja kau tidak bisa mencari kebahagiaanmu sendiri tanpa mengusik kebahagiaan orang lain," ketus Bianca.
"Apa sekarang kau bahagia setelah mendapatkan apa yang kau inginkan?"
"Apa kehidupanmu menjadi lebih baik?"
"Apa kau menikmati semuanya?"
"Tidak, kau tidak akan pernah bahagia dengan cara seperti itu. Kau menghancurkan hidup orang lain demi kesenanganmu. Kau membuat banyak orang terluka. Bagaimana bisa kau berbahagia dengan darah di tanganmu?"
Vania terdiam, semua ucapan Bianca bagai pedang yang menusuk-nusuk hatinya dengan kejam. Tanpa ada belas kasih, Bianca mengatakan hal-hal yang menyakitkan.
Namun tidak heran, bahkan jika Bianca mau, ia bisa bersikap lebih kejam dari itu. Hanya saja Bianca tidak ingin melakukannya, ia tidak akan menjadi seperti Vania hanya untuk membalas perbuatan wanita itu.
__ADS_1
"Jadi, kalian akan bercerai?" tanya Bianca lagi. Vania terdiam, menatap kosong pada kolam ikan.
"Sebuah hubungan akan selalu berakhir dengan tidak baik jika sejak awal sudah diawali dengan cara yang tidak baik."
"Kau pantas mendapatkan semuanya, kau pantas untuk tidak pernah bahagia!"
Bianca menarik napas panjang, lalu mengemasi makanan yang dibeli oleh suaminya. Bianca memilih pergi daripada harus terus berurusan dengan Vania.
Paling tidak, Bianca sudah merasa lega. Ia sudah tahu apa alasan Vania menghianati dirinya. Pada dasarnya Vania memang bukan teman yang baik, apa lagi di sebut sebagai sahabat. Vania hanya lintah darat bagi Bianca. Ia bahkan tidak pantas bahagia setelah apa yang ia lakukan selama ini.
"Sayang, aku baru akan menemuimu," sapa Daniel lebih dulu. Mereka berpas-pasan di sebuah lorong.
"Di luar panas, aku mencarimu," jawab Bianca. Ia tersenyum, seakan tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.
"Ah, istriku kepanasan. Kasihan sekali," ucap Daniel dengan ekspresi menggoda. Dengan penuh perhatian, laki-laki itu memperbaiki anak rambut yang menjuntai di pipi Bianca. Ia pun dengan lembut mengusap keringat yang menempel di dahi sang istri.
__ADS_1
Merasa senang, Bianca mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Daniel, membuat sang suami menjadi gemas dan merangkul erat pinggang wanita itu.
Tanpa mereka ketahui, Darren tidak sengaja melihat Bianca dan Daniel bermesraan. Dalam hatinya Darren merasakan sebuah percikan kecemburuan, namun nasi telah menjadi bubur. Cukup sekali saja ia membuat kesalahan.
Meninggalkan Bianca dan menghianatinya adalah kesalahan sekaligus penyesalan terbesar Darren. Namun sekali lagi ia sadar, ia memang tidak pantas untuk Bianca.
Kini Darren bisa melihat Bianca yang telah hidup bahagia bersama Daniel, bahkan jauh lebih bahagia daripada bersamanya.
Beberapa saat berlalu, saat Bianca dan Daniel tengah bercanda dan bertingkah gemas, mereka tersadar jika ada sepasang mata yang sedang menatap dari kejauhan.
Saat itulah ekspresi wajah Bianca berubah seketika.
"Ayo ajak Mama pulang, kau harus istirahat di rumah," ujar Daniel setelah menyadari ketidaknyamanan istrinya.
"Aku akan menelepon sopir dan pulang bersama Mama, Sayang. kau di sini saja, temani Kakakmu," jawab Bianca.
__ADS_1
***