
Pasti rasanya seperti di sambar petir di siang bolong. Saat anak yang sangat ia sayangi dan ia cintai hingga mengubah kehidupannya, ternyata bukan anak kandungnya.
"Kak," lirih Daniel sambil duduk di samping Darren.
"Hukuman ini terlalu berat bagiku, Daniel," ucap Darren dengan kepala menunduk. Ia tidak bisa menahan kekecewaan serta sakit hatinya, ia menangis dalam diam.
"Belum tentu itu anak orang lain, kau belum membuktikannya," ujar Daniel berusaha menenangkan.
"Jangan memberi harapan padaku, Daniel. Sudah jelas-jelas Vania pernah bersama laki-laki lain."
"Ya, tapi belum tentu di dalam tubuh Heera mengalir darah laki-laki lain. Kita bisa melakukan tes DNA untuk meyakinkannya."
"Tidak, tidak ada gunanya," tolak Darren.
Daniel terdiam, ia tidak ingin terlalu memaksa sang kakak. Terlebih, masalah seperti ini menjadi lebih sensitif di situasi seperti ini.
Apakah ini semua adalah buah dari perbuatan yang telah Darren lakukan selama ini?
Daniel tidak tahu dan tidak ingin menghakiminya.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu pulang," ajak Daniel.
Hari sudah semakin malam, polisi pun sudah hampir selesai melakukan penyelidikan di rumah itu. Sementara, tubuh Vania baru bisa di makamkan besok siang setelah hasil tes dari rumah sakit keluar.
Dengan sedikit memaksa, Daniel mengajak kakaknya pulang. Ia mengantar Darren ke rumah yang menjadi tempat tinggal sementara laki-laki itu.
"Sementara waktu biarkan Heera bersamaku. Kau bisa menemuinya jika sudah siap," ujar Daniel sebelum pergi. Ia meninggalkan Darren sendirian di rumahnya.
Sepanjang perjalanan Daniel turut merasa sedih. Ia bingung bagaimana harus bersikap. Ia juga khawatir jika Darren tiba-tiba enggan merawat Heera dan menelantarkan bayi itu.
Sesampainya di rumah, ia mendapati Bianca sedang memasak air di dapur. Daniel segera mencuci tangan dan kakinya lalu bergegas memeluk sang istri.
"Ada apa lagi? Kenapa wajahmu kusut sekali?" tanya Bianca. Daniel menggeleng dan memaksakan bibirnya tersenyum.
"Tidak, aku bisa sendiri. Kau pasti lelah," tolak Bianca. Ia mendorong sang suami agar duduk di kursi makan, sementara dirinya meracik susu hamilnya sendiri.
Kini, kehamilan Bianca sudah memasuki trimester kedua. Karena ia sedang mengandung dua bayi sekaligus, maka perutnya sudah terlihat lebih buncit dari kehamilan tunggal.
Sejak hamil, Bianca pun mengurangi segala aktifitas serta pekerjaan di luar rumah. Sementara itu, Daniel bertanggung jawab atas semua urusan kantor, namun tetap dengan bantuan Bianca.
__ADS_1
"Bagaimana harimu, Sayang?" tanya Daniel. Mereka duduk berhadapan. Daniel menggenggam sebelah tangan Bianca dan menatap wajah cantik istrinya.
"Cukup melelahkan, Heera lebih banyak menangis dari biasanya," jawab Bianca. "Tapi aku senang, lagi pula aku bisa sambil belajar untuk merawat anak-anak kita nanti," lanjutnya dengan senyum merekah.
"Apa kau tidak keberatan untuk mengurusnya selama beberapa waktu? Aku akan mencari babysitter secepat mungkin untuk membantu."
"Aku bisa mengurusnya sendiri."
"Tidak, kau sedang hamil, Sayang. Kau juga harus banyak istirahat dan memprioritaskan dirimu sendiri."
"Hmm, baiklah." Bianca pun setuju. Ia tidak mungkin menolak permintaan sang suami.
Daniel menunggu sampai Bianca menghabiskan segelas susu miliknya. Kemudian mereka masuk ke dalam kamar bersama.
Daniel melihat Heera tertidur pulas di dalam box bayi. Perlahan, Daniel mendekati bayi itu dan mengelus kepalanya.
"Malang sekali nasibmu," batin Daniel.
"Aku menunggu. Kau terlihat gelisah, apa ada sesuatu lagi yang terjadi?" tanya Bianca menodong penjelasan Daniel.
__ADS_1
Perlahan, Daniel mengeluarkan surat tulisan tangan Vania dan menyerahkannya ke tangan Bianca.
***