Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Hanya Sebuah Alat


__ADS_3

Setelah hampir dua minggu menjalani perawatan di rumah sakit, bayi perempuan Darren dan Vania akhirnya di perbolehkan pulang oleh dokter.


Berkat kebaikan hati Daniel, Darren tidak perlu susah memikirkan biaya rumah sakit yang cukup besar. Dengan persetujuan Bianca, Daniel membayar seluruh tagihan rumah sakit serta keperluan bayi itu tanpa menuntut imbalan apapun dari Darren.


Selama di rawat di rumah sakit, Vania datang beberapa kali dengan niat untuk menemui anaknya. Namun dengan tegas Darren menolak, ia masih sakit hati dengan semua perkataan Vania beberapa waktu lalu.


Sementara Bianca, ia hanya datang sesekali ke rumah sakit untuk menemani Sintia. Meski begitu, Bianca tidak pernah berbicara banyak saat bertemu Darren. Ia lebih memilih untuk menghindar daripada merasa tidak nyaman.


"Aku akan mengantarmu pulang, Kak," ujar Daniel.


"Hmm." Darren mengangguk. Ia mendorong bayi perempuannya yang masih tertidur pulas di sebuah stroller.


Jika tidak pulang, lalu ke mana lagi Darren akan pergi. Ia tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya, karena selama ini ia tidak memberitahu Sintia tentang kondisi rumah tangganya.


"Aku tahu masalahmu, tapi aku tidak mungkin mengajakmu ke rumahku. Kau pasti tahu alasannya," ujar Daniel saat menyadari wajah sedih sang kakak.


Daniel tahu, hubungan Darren dan Vania sedang kurang baik. Bahkan Darren sudah mengatakan niatnya untuk bercerai. Namun Daniel tidak ingin ikut campur, ia akan membiarkan Darren menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Tidak apa-apa, aku paham," lirih Darren. Ia memberi tahu Daniel alamat rumahnya, dengan cepat Daniel mengemudikan mobilnya hingga mereka sampai di halaman depan rumah Darren.


"Terima kasih, Daniel." Darren menggendong putri kecilnya turun dari mobil, sementara Daniel membantunya mengeluarkan semua barang bawaan mereka.

__ADS_1


"Kau bisa menghubungiku jika ada sesuatu yang mendesak," ucap Daniel.


"Hmm. Terima kasih."


"Ngomong-ngomong, kau belum memberi nama keponakanku. Siapa namanya?"


"Kau bisa memanggilnya Heera, yang artinya berlian yang berharga," jawab Darren.


Daniel tersenyum kecil, mengusap pipi lembut keponakannya. Apapun yang sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya, bayi kecil itu tidak boleh menerima kebencian dari siapapun.


Selepas kepergian Daniel, Darren masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu utama, ia merasakan aroma tidak sedap dari dalam rumahnya. Laki-laki itu mengernyitkan dahi sambil mencari keberadaan Vania.


"Vania, Vania!" teriak Darren. Ia meletakkan Heera di stroller dan menyisir seluruh ruangan.


"Apa yang kau lakukan, hah? Kau menjadikan rumah ini sebuah gudang?" tanya Darren saat melihat Vania duduk di kursi makan sambil mengaduk makanan di atas piring.


"Lihat rumah ini, berantakan, kotor, bau!" bentak Darren.


Vania tidak menoleh, bahkan mendongak. Wanita itu hanya tertunduk sambil tangan terus sibuk mengaduk.


Dua hari terakhir, Vania memang tidak datang ke rumah sakit. Darren melarangnya datang karena muak mendengar semua perkataan wanita itu tentang keluarganya.

__ADS_1


Dan saat ini, Darren menemukan sang istri dengan penampilan yang berantakan. Ia seperti tidak pernah mandi, wajahnya kusam, rambutnya acak-acakan.


"Jangan membuat drama, Vania. Apapun yang kau lakukan tidak akan membuatku membatalkan keputusanku. Aku akan menceraikanmu!" seru Darren.


Mendengar hal itu, Vania beranjak dari kursi. Ia berdiri di hadapan Darren.


"Apa kau akan kembali pada Bianca? Apa hubungan kalian sudah membaik?" tanya Vania.


"Kau gila! Dia sudah menjadi istri adikku. Buang jauh-jauh pikiran burukmu itu!" bantah Darren.


"Aku gila? Memangnya kenapa kalau dia istri adikmu? Bukankah selama ini kau menghianati keluargamu?"


"Itu semua karena kau, Vania! Kau yang menarikku dan membuatku melakukan semua ini."


"Aku?"


"Kini aku sadar, aku yang terlalu bodoh mempercayaimu selama ini. Aku baru sadar, jika aku memilih wanita yang salah, aku memilih ular sepertimu!"


"Kau memang bodoh! Apa kau pikir selama ini aku mencintaimu?" tanya Vania.


"Selama ini, kau hanya alat bagiku! Kau tidak berarti apa-apa!" bentak Vania. Kedua matanya melotot tajam, tangannya mengepal kuat.

__ADS_1


Darren tersentak, apa Vania sadar dengan apa yang baru saja ia katakan?


***


__ADS_2