
Daniel menunggu dengan gelisah sampai sore, ia berkali-kali menelepon Bianca dan mengatakan pada istrinya jika belum bisa pulang saat itu juga.
Entah apa yang di pikirkan oleh Bianca, wanita itu menjadi tak banyak bertanya dan hanya meminta Daniel untuk tetap hati-hati saat berkendara.
Daniel sudah melihat tagihan sementara dari pihak rumah sakit untuk biaya persalinan Vania dan perawatan bayinya, nilainya cukup besar, dan hal itu membuat Daniel khawatir.
"Daniel," sapa seseorang saat Daniel duduk di ruang tunggu sambil memakan sepotong roti. Ia bahkan melewatkan makan siangnya dan merasa lapar.
"Kak." Daniel menoleh, melihat Darren mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Darren.
"Bianca memintaku melihat keadaan kalian. Aku sudah di sini sejak siang, ke mana saja kau?"
"Bianca yang memintamu?" Darren balik bertanya tanpa memberi penjelasan tentang dirinya yang hilang selama beberapa jam.
"Hmm." Daniel mengangguk. "Apa kau perlu sesuatu?" tanyanya.
"Tidak." Darren menggeleng. Tatapannya kosong, ia melamun.
"Anakmu sempat kritis, aku bersedia menjadi walinya karena dokter butuh tanda tangan untuk memberikan tindakan medis. Ke mana saja kau?"
"Apa dia sudah baik-baik saja? Terima kasih," jawab Darren.
"Kak, aku tanya, ke mana saja kau pergi? Anak dan istrimu sedang kesulitan di rumah sakit, tapi kau tidak ada mendampingi mereka!" tegur Daniel.
__ADS_1
"Aku sedang ada urusan mendesak, Danial. Maaf sudah merepotkanmu."
Daniel merasa Darren menyembunyikan sesuatu darinya. Daniel terus berusaha agar Darren mau bicara. Paling tidak, ia bersedia membantu jika mmang diperlukan.
"Aku malu jika merepotkanmu, aku malu merepotkan orang lain." Hanya itu yang Darren katakan.
"Katakan yang sejujurnya, Kak. Apa kau ada masalah? Kau dalam kesulitan?"
Darren menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan tentang kesulitannya selama beberapa bulan terakhir. Terlebih, semua perusahaan tidak mau menerimanya dan Vania bahkan dikeluarkan dari kampus tempatnya mengajar. Darren pun mengatakan bahwa ini adalah hukuman dari orang tua Bianca.
"Sekarang aku paham sulitnya mencari pekerjaan dan mencari uang. Dulu, aku menggantungkan hidupku pada Mama dan Papa, saat mereka tidak peduli, aku seperti kehilangan duniaku," jelas Darren.
"Aku tidak mau membahas hal-hal yang sudah selesai, tapi ini semua akibat dari perbuatanmu sendiri, Kak. Kau yang memilih jalanmu."
"Aku menyadari kesalahanku, Daniel." Darren menunduk. Ia memejamkan kedua matanya sambil menutup wajah. Di lihat dari sikapnya, Darren pasti sudah menyesali semua ini sejak lama, hanya saja ia sudah merasa putus asa dalam hidupnya.
"Ada beberapa teman yang memberitahuku. Perusahaannya menolakku karena ada andil Tuan Abraham. Aku tidak marah, aku paham kenapa dia melakukannya," jelas Darren.
Daniel tampak diam beberapa saat. Ia semakin merasa iba pada nasib kakaknya.
"Apa Bianca tahu?" tanya Darren.
"Sepertinya tidak. Dia bukan orang seperti itu."
"Kalau begitu jangan beritahu dia. Jangan membuat ayah dan anak saling salah paham. Aku akan berusaha sendiri," ucap Darren.
__ADS_1
Daniel tidak memberi jawaban, ia hanya diam dan mendengarkan. Karena hari sudah hampir malam, Daniel akhirnya memutuskan untuk pulang. Melihat keadaan saudaranya saja sudah membuat hatinya lega.
"Pakai ini, Kak. Isinya tidak banyak, tapi cukup untuk membiayai istri dan anakmu serta kebutuhanmu selama beberapa waktu." Daniel menyerahkan kartu ATM miliknya sebelum pergi.
"Tidak, Daniel. Aku tidak ingin merepotkanmu."
"Apa kau ingin rumah sakit mengusir kalian? Anakmu butuh perawatan! Terimalah."
"Tapi, Daniel ...."
"Aku harus pulang, urus anak istrimu dengan baik." Daniel meninggalkan kartu ATM nya di atas kursi. Ia meninggalkan Darren sendirian.
Melihat bagaimana sikap adiknya, Darren tidak heran. Daniel memang tumbuh dengan hati yang baik dan dermawan sejak kecil. Namun ia tidak menyangka jika adiknya masih peduli setelah apa yang telah ia lakukan selama ini.
***
Sesampainya di rumah, Daniel melihat sang istri sedang sibuk di dapur. Bianca asik memasak untuk menu makan malam mereka sambil mendengarkan musik.
"Sayang," sapa Daniel. Ia mendekat, memeluk dan mencium kening Bianca.
"Kau sudah pulang? Cepat mandi dan ganti pakaian."
"Maafkan aku, seharian ini aku ...."
"Jangan meminta maaf, aku tahu." Bianca memotong kalimat Daniel dan tersenyum.
__ADS_1
"Aku tahu kau adalah laki-laki yang baik, dalam hati kecilmu kau masih peduli pada saudaramu. Karena itulah aku jatuh cinta padamu," ucap Bianca.
***