
Bianca tertawa saat Daniel menaikkan tubuhnya ke atas meja. Ia benar-benar hanya berniat menggoda dan bercanda, namun Daniel menganggapnya begitu serius hingga kini tangan bocah laki-laki itu telah masuk ke dalam gaunnya dari bagian bawah tubuhnya.
"Hei, geli. Hentikan!" ucap Bianca sambil berusaha menyingkirkan tangan yang merogoh nakal.
"Tidak mau! Kau yang memulainya!" seru Daniel. Sebelah tangannya menopang punggung sang istri, sementara tangan yang lain mulai sibuk meraba.
"Ah, hentikan," keluh Bianca dengan napas tersenggal. Pasalnya, kini tangan sang suami telah menyentuh langsung pada permukaan yang mulai lembab.
"Jangan menolak, kau menyukainya," ujar Daniel sambil tersenyum. Ia merasakan respon positif dari tubuh Bianca, meskipun berkali-kali wanita itu berusaha menolak.
"Hmmm." Bianca melenguh. Jemari nakal itu membuatnya kesulitan mengatur napas.
Seluruh tubuh Bianca bagai tersengat arus listrik, setiap syaraf saling berhubungan dan membuat tangan wanita itu mencengkram kuat kedua pundak suaminya.
"Mmmh." Bianca memejamkan kedua matanya. Ia menggeleng pelan saat jemari Daniel bermain-main dengan lembut untuk membuka jalan.
"Kau sudah siap," bisik Daniel. Ia menarik tangannya dan menyempatkan diri untuk memastikan pintu telah terkunci dengan benar.
Saat kembali, Daniel menyingkirkan berbagai kertas dan dokumen serta laptop di atas meja. Ia merebahkan tubuh Bianca lalu menarik secarik kain tipis yang menjadi penghalang jalannya menuju surga kenikmatan.
Bianca menyerah. Ia sudah terlanjur basah oleh ulah suaminya, jika dihentikan begitu saja, rasanya pasti sangat tidak menyenangkan.
__ADS_1
Kedua tangan Daniel membuka beberapa kancing bagian atas gaun Bianca. Ia mencium, menjilat, dan ******* dua benda bertekstur padat dan kenyal yang melambai di depan matanya.
Bianca semakin menjadi-jadi. Tangannya mere*mas rambut Daniel sambil menggigit bibir.
Setelah puas bermain-main di bagian atas, bibir Daniel semakin turun. Kini tangannya mulai menaikkan ujung gaun hingga tempat terbaik itu mulai terlihat begitu indah dan menggoda.
"Jangan, please!" Bianca memohon. Ia sudah dipermainkan cukup lama, ia ingin segera menuntaskannya dengan cepat. Namun Daniel seakan-akan masih menikmatinya lebih lama.
"Bertahanlah," ucap Daniel.
Bocah laki-laki itu mendekatkan wajahnya, merasakan aroma yang begitu memikat indra penciumannya. Sebagai seorang istri, Bianca memang sangat pandai merawat bagian terbaiknya, tidak hanya memperhatikan penampilan, namun juga setiap hal paling detail di tubuhnya.
Dimulai dari ciuman, Daniel melanjutkan aksinya. Semakin Bianca bereaksi, Daniel semakin menyukainya.
Bianca sudah terlihat kualahan. Terdengar dari napasnya yang mulai berat dan keringat di dahinya, Daniel pun merasa tidak tega.
"Kemarilah." Daniel membantu Bianca duduk, menggeser tubuhnya agar berada tepat di pinggiran meja.
Bianca tersenyum senang, kini gilirannya.
"Kau tidak lelah mempermainkanku?" tanya Bianca.
__ADS_1
"Kau menyukainya, kan?"
Kedua tangan Bianca dengan cepat membuka ikat pinggang serta kancing celana suaminya. Bibir mereka saling bertautan, sementara tangan Bianca mulai membelai benda tegang panjang di bawah tubuh sang suami. Berawal dari gerakan perlahan, lalu semakin cepat dan intens.
"Hentikan!" pinta Daniel mengeluh.
"Kau menyukainya!" seru Bianca. Memangnya hanya Daniel yang bisa bermain-main? Ia pun bisa melakukannya.
"Tidak, aku lebih suka dengan cara ini," ujar Daniel sambil menepis tangan Bianca.
Daniel segera menancapkan tongkat saktinya hingga Bianca menjerit kecil. Keduanya mulai bergerak seirama, membuat meja kerja berdencit karena kaki meja beradu dengan lantai marmer.
Punggung Bianca menekuk ke belakang, sementara sebelah tangan Daniel berusaha menahannya.
Seperti tidak puas dengan satu posisi, Daniel menggendong tubuh Bianca dan membawanya ke atas sofa tanpa melepas tali cinta mereka.
Beruntung, mereka berada di sebuah ruangan yang berada di lantai lima belas. Dengan kaca mengelilingi ruangan, Daniel dan Bianca tidak khawatir karena jarak antar gedung cukup jauh. Lagi pula tidak akan ada yang dengan sengaja mengintip mereka melalui teropong jarak jauh.
Selang lima menit permainan, keduanya telah mencapai puncak dan tergeletak lemas di atas sofa. Daniel bangkit dan merapikan pakaiannya, ia pun mengambil selimut dan menutup tubuh istrinya yang telah lemas tak bertenaga.
"Istirahatlah, aku akan membereskan semuanya," bisik Daniel.
__ADS_1
***