
Daniel dan Bianca sangat senang mndengar persetujuan dari Sintia. Entah karena terpaksa atau benar-benar bersedia, paling tidak Sintia masih mau memikirkan nasib anak Darren. Darren mmang bersalah, namun tidak dengan bayi mungil tak berdosa itu.
Setelah ketiganya mengobrol dan menghabiskan teh yang dibuat Bianca, mereka akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah sakit.
Sebelum mereka sampai, Darren sudah berada di sana lebih dulu. Ia duduk di depan ruangan tempat bayinya mendapatkan perawatan.
Bayi perempuan kecil yang baru berumur beberapa hari itu masih memerlukan bantuan alat untuk bertahan hidup.
"Kak," sapa Daniel. Ia mendekati Darren, sementara Bianca berdiri di belakangnya sambil menggandeng Sintia.
"Kalian datang? Terima kasih," ucap Darren. Ia tersenyum menatap Sintia.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sintia. Ia mendekati kaca besar yang menjadi penghalang antara ia dan cucunya. Dada Sintia terasa sakit, hatinya ngilu. Ia tidak tega melihat bayi sekecil itu merasakan sakit sendirian.
"Dokter bilang sudah ada kemajuan. Hanya saja masih butuh waktu sampai benar-benar pulih," jelas Darren. "Ma, terima kasih sudah datang," lanjutnya.
"Dia juga cucu Mama," jawab Sintia. Ia memperhatikan Darren dengan saksama. Wajah anak sulungnya tampak pucat dan tidak terawat, kumis dan janggut dibiarkan tumbuh tak beraturan. Wajahnya berjerawat, rambut gondrong dan tubuh yang makin kurus, membuat Sintia sadar bahwa selama ini anaknya mengalami hidup yang sulit.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Sintia.
"Aku merasa lebih baik setelah Mama datang. Terima kasih, Ma." Darren tersenyum.
"Lalu, bagaimana dengan istrimu?"
"Vania, sudah pulang pagi tadi. Dia sudah sehat," jawab Darren. Ia tidak ingin membahas Vania, ia tidak mau membuat sang Mama merasa tidak nyaman.
Sementara Bianca dan Daniel, mereka memutuskan untuk meninggalkan Darren dan Sintia berdua. Setelah sekian lama, mereka pasti butuh waktu mengobrol untuk mencairkan suasana. Terlebih, keberadaan Bianca dan Darren dalam satu tempat membuat Daniel merasa tidak nyaman.
"Aku lapar," jawab Bianca.
"Lapar? Bagaimana jika kita membeli makanan? Ada rumah makan enak di dekat sini."
"Jangan meninggalkan Mama terlalu lama, Sayang. Belikan saja makanan ringan untukku."
"Hmm, baiklah. Kau tunggu di sini."
__ADS_1
Daniel pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli camilan berupa roti, es krim, serta beberapa makanan ringan. Ia juga membeli membeli untuk Mama dan Kakaknya.
Sementara Bianca, ia duduk sendirian sambil melamun. Tanpa ia ketahui, Vania sedang memperhatikannya dari kejauhan. Wanita itu datang menaiki taksi karena ingin menyusul sang suami, namun keberadaan Bianca membuat hatinya memanas.
Saat hendak mendatangi Bianca, tiba-tiba Daniel datang dan Vania mengurungkan niatnya.
"Maaf, lama. Aku bawakan es krim untukmu," ujar Daniel sambil menyodorkan es krim dalam cup kecil.
"Hmm, terlihat enak." Bianca menelan ludah sambil menerima es krim serta sekantong makanan dari tangan suaminya.
"Apa kau tidak keberatan jika aku masuk menemui Mama dan Kakak? Sebentar saja, untuk mengantar makanan."
"Tentu saja, pergilah. Kau bisa menemani Mama dan Kakakmu, Sayang. Aku lebih nyaman di sini," jawab Bianca.
Meski ia sudah memaafkan Darren, namun tidak bisa dipungkiri bahwa melihat laki-laki itu masih membuatnya merasa tidak nyaman. Ada luka yang masih membekas dan tidak mudah dihilangkan begitu saja.
***
__ADS_1