Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Sebuah Hukuman


__ADS_3

Sejak awal Bianca paham jika Daniel pasti menemui Darren. Bianca sudah mengenal dua laki-laki itu cukup lama dan paham betul bagaimana hubungan persaudaraan mereka.


Bagaimanapun sakitnya hati Daniel, laki-laki itu tidak akan sampai hati jika membiarkan saudaranya terlalu larut dalam penderitaan. Dalam hati kecil Daniel, ia pasti begitu menyayangi Darren dan peduli padanya. Hanya saja, keadaan yang membuat Daniel harus bersikap tak acuh.


Setelah memeluk dan mencium Bianca, Daniel langsung ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Pikiran tentang Abraham menyelimuti kepala laki-laki itu. Haruskah ia bertanya pada Bianca?


Daniel paham Bianca tidak mungkin tahu soal hal itu, tapi sampai kapan Abraham harus menghukum Darren? Kini ia punya seorang anak, ada bayi tidak berdosa yang harus dinafkahi, ada bayi tidak berdosa yang perlu diberi makan dan dibahagiakan.


Setelah mandi, Daniel kembali menghampiri istrinya di dapur. Rupanya Bianca sudah duduk manis dan menunggunya.


"Ayo makan, Sayang. Kau pasti lapar," ajak Bianca.


"Hmm. Terima kasih sudah memasak untukku," jawab Daniel.


Mereka duduk saling berhadapan, di pisahkan oleh meja yang berisi beberapa jenis makanan. Daniel tampak menikmati makanan hasil olah tangan sang istri, ia berulang kali memuji kemampuan Bianca dalam memasak yang semakin hari semakin baik.


Keduanya pun bersantai di depan televisi setelah selesai membetekan dapur.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Bianca mengawali pembicaraan. Hanya satu kata, tapi Daniel paham apa yang sedang ia ingin cari tahu.


"Mereka baik-baik saja," jawab Daniel.


"Kau datang dengan wajah murung. Pasti ada sesuatu."

__ADS_1


"Bayi yang dilahirkan Vania mengalami keracunan ketuban, kondisinya sempat kritis. Sementara Kakak, dia tidak akan bisa membayar biaya rumah sakit karena sudah beberapa bulan dia tidak bekerja," jelas Daniel singkat.


Bianca tampak diam beberapa saat, ia menatap layar televisi dengan tatapan kosong.


"Beberapa waktu lalu Vania menemuiku," ucap Bianca. Daniel menoleh, ia terkejut.


"Kenapa tidak pernah bercerita?" tanya Daniel.


"Aku tidak mau kau khawatir."


"Sayang, bagaimana jika wanita itu berbuat jahat padamu? Jangan sekali-kali membiarkannya mendekatimu!" tegas Daniel.


"Tidak ada yang bisa menyakitiku, Sayang. Aku baik-baik saja."


Jika hati seseorang sudah membatu, apa saja pasti ia lakukan.


"Sebaliknya, dia memohon meminta bantuan," lanjut Bianca. Daniel mengernyit.


"Apa urat malunya sudah putus? Atau dia memang tidak punya malu sampai memohon bantuan padamu? Hmm."


"Dia dan Darren tidak punya pekerjaan, dia bilang kampus mengeluarkannya tanpa alasan jelas, sementara Darren di tolak oleh semua perusahaan. Apa menurutmu semua ini ada campur tangan Papa?" tanya Bianca.


Daniel tidak tahu, apakah ia harus berkata jujur?

__ADS_1


Karena jika Bianca tahu, ia pasti marah pada Abraham. Dan pada akhirnya keduanya pasti menjadi salah paham.


"Sayang, apa menurutmu Papa melakukannya?" ulang Bianca bertanya.


"Bagaimana jika kita mencari tahu? Aku tidak mau kita berprasangka tanpa bukti," jawab Daniel.


Bianca terdiam sesaat, lalu meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Satu panggilan ia layangkan pada seseorang yang ia kenal.


["Baik, akan saya cari tahu, Nona."] Terdengar jawaban dari seorang wanita di sebrang telepon.


Daniel tahu, Bianca pasti menelepon sekretarisnya, orang yang selalu bisa diandalkan dalam setiap masalah.


***


Di rumah sakit, Darren berdiri di depan sebuah ruangan. Ia menatap nanar pada bayi perempuan yang tengah berada di dalam inkubator. Terdapat banyak selang di tubuhnya agar ia bisa bertahan hidup.


Dalam hati Darren ingin menangis dan menjerit, hukuman ini terlalu berat baginya. Ia bisa saja hidup susah, tapi ia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada buah hatinya.


Kemarin, Darren datang ke rumah kedua orang tuanya. Ia datang untuk memohon ampun, memohon maaf untuk yang ke sekian kalinya.


Ia datang tidak untuk memohon pertolongan atau bantuan, ia hanya datang untuk memohon doa, demi keselamatan anaknya.


Darren yakin, apa yang menimpa buah hatinya adalah hukuman atas apa yang telah ia perbuat pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


***


__ADS_2