
Daniel dan Bianca berdiri sambil menatap Darren. Keduanya terpaku para penampilan Darren yang terlihat berantakan, rambut gondrong memanjang, pakaian yang tidak lagi bermerk terkenal, juga raut wajah yang tampak kusut dan basah oleh air mata.
Ada setitik rasa iba di hati Bianca, juga rasa ingin tahu tentang apa yang di alami oleh Darren. Terlebih, Vania sempat memohon pertolongannya dan mengatakan jika kehidupan mereka sedang dalam masa-masa sulit dan penuh tekanan.
Bagaimanapun perlakuan mereka di masa lalu, sebenarnya Bianca masih punya hati nurani dan belas kasih. Kebencian dan rasa sakit hati tidak membuatnya ingin bersikap semena-mena pada mereka.
"Biarkan saja, ayo masuk," ajak Daniel. Ia menggenggam tangan Bianca dan mengajaknya masuk ke rumah sakit lewat pintu utama.
Bianca memperhatikan wajah Daniel. Apa ia tidak sedikitpun ingin menanyakan keadaan saudaranya? Namun Bianca tidak punya keberanian untuk bertanya.
Daniel dan Bianca masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menemui dokter kandungan yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Dokter melakukan pemeriksaan ulang serta kembali menjelaskan tentang semua hasil pemeriksaannya dengan lebih jelas dan lengkap.
Daniel mengajukan banyak pertanyaan seputar hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Bianca. Laki-laki itu ingin mengetahui semuanya dengan jelas agar bisa menjaga Bianca dengan baik. Ia tidak ingin ada hal-hal buruk menimpa sang istri.
"Selain makanan sehat dan asupan cairan yang baik, ibu hamil juga harus dijaga dari kondisi kesehatan mentalnya. Ibu yang bahagia bisa memberikan hormon yang baik bagi bayi. Sebaliknya, jika ibu hamil merasa stres dan terlalu banyak pikiran, bayi juga bisa merasakan hal yang sama, bahkan bisa mengganggu perkembangannya di dalam rahim," jelas dokter.
__ADS_1
"Baik, Dok. Saya akan melakukan yang terbaik," jawab Daniel.
"Karena Nona Bianca sebelumnya pernah mengalami keguguran, maka sebaiknya porsi hubungan s*ksual dikurangi demi menjaga keamanan," lanjut dokter.
"Berapa lama, Dok?"
"Sampai trimester pertama terlewati, atau paling tidak sampai usia kandungannya memasuki usia lima bulan. Itu adalah usia yang paling aman. Karena berhubungan di saat trimester awal rentan menimbulkan kontraksi bagi sebagian ibu hamil."
"Lima bulan? Yang benar saja?" batin Daniel ingin berteriak tidak terima. Namun bagaimanapun, ia ingin apapun yang terbaik untuk istri dan kedua calon buah hatinya.
Setelah semua pemeriksaan usai, Daniel dan Bianca meninggalkan ruangan dokter. Daniel sangat peka, ia paham jika istrinya sedang memikirkan sesuatu, dan Daniel yakin hal itu pasti tentang Darren.
"Kau terlihat tidak bersemangat saat pemeriksaan, Sayang. Ada apa?" tanya Daniel. Ia merangkul pinggang sang istri sambil berjalan.
"Ada sesuatu yang mengganjal di benakku," jawab Bianca.
"Kak Darren?" tebak Daniel.
__ADS_1
"Hmm, tidak. Vania, dan bayinya. Orang tua mereka memang bersalah, tapi bayi tidak berdosa itu tidak boleh ikut sengsara dan menanggung hukuman atas perbuatan orang tua mereka," jelas Bianca.
"Apa Vania sudah melahirkan? Bagaimana kau tahu?" tanya Daniel.
Bianca terdiam, ia tidak pernah bercerita bahwa Vania sebelumnya pernah mendatanginya. Bianca tidak menceritakan hal itu karena tidak mau Daniel khawatir.
Dan saat itu, Vania mengatakan jika hari persalinannya semakin dekat dan bayinya akan segera lahir. Jika kini Darren berada di rumah sakit, maka kemungkinan besar Vania lah yang berada di antara hidup dan mati untuk melahirkan bayi mereka.
"Biarkan saja, mereka sudah terlalu jahat. Mereka pantas mendapatkannya," ucap Daniel.
"Tapi bayinya ...."
"Sudahlah, Sayang. Fokus pada bayi kita sendiri," sela Daniel sebelum Bianca melanjutkan kata-katanya.
Padahal, Bianca hanya ingin tahu kondisi bayi yang mereka lahirkan. Paling tidak, bayi tidak berdosa itu tidak boleh lahir ke dunia ini dalam kesulitan.
***
__ADS_1