Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Persiapan Kejutan


__ADS_3

Daniel berangkat ke kantor pukul sembilan pagi. Sebelum keluar dari pintu rumah, ia menyempatkan diri untuk mengajak Bianca bermesraan. Ia memeluk Bianca, mencium kening serta kedua pipinya, bahkan mendaratkan kecupan singkat di bibirnya.


Namun, respon Bianca membuat Daniel merasa heran. Berulang kali Daniel menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tetap sabar di tengah keanehan sikap sang istri.


"Aku akan pulang cepat," ucap Daniel sebelum pergi. Bianca mengantarnua sampai di depan pintu.


"Tidak perlu buru-buru. Sebaiknya pulang pukul dua sore sampai meeting selesai. Kau juga bisa mengecek pekerjaan marketing," jawab Bianca.


"Ah, baiklah." Daniel mengangguk.


Rasanya aneh saat Bianca melarangnya pulang lebih awal. Padahal, biasanya wanita itu akan merengek setiap kali berada di rumah sendirian, dan selalu memohon agar Daniel pulang secepat mungkin dengan banyak alasan.


"Sayang, apa kau akan baik-baik saja di rumah? Aku pergi cukup lama," ucap Daniel.


"Hmm, aku baik-baik saja."


"Lima jam loh, apa kau tidak akan rindu?" tanya Daniel lagi. Entah mengapa hatinya terasa sangat berat jika harus berpisah cukup lama, namun mengapa Bianca tampak kurang peka.


"Sungguh, aku baik-baik saja. Pergilah, Hati-hati di jalan," ucap Bianca sambil mendorong tubuh suaminya keluar dari rumah.


Wanita itu melambaikan tangan singkat dan langsung menutup pintu rapat. Daniel yang masih berdiri di depan pintu, merasa semakin kebingungan. Ia tampak seperti suami yang baru saja terusir oleh istrinya.


Selama perjalanan menuju kantor, Daniel tidak bisa fokus. Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya.

__ADS_1


"*Apa aku melakukan kesalahan?"


"Apa dia sedang datang bulan, tapi tidak mengaku?"


"Apa aku salah bicara?"


"Tapi kami tidak pernah bertengkar sebelumnya."


"Atau jangan-jangan, dia salah makan sesuatu*?"


"Ah, ini sungguh meresahkan!"


Mood Daniel selama berada di kantor pun menjadi kurang baik. Bianca bahkan tidak mengirim pesan atau menelponnya sama sekali, membuat Daniel merasa seperti ada yang kurang.


Karena banyak yang harus dikerjakan, maka dengan berat hati Bianca meminta Daniel pulang sedikit terlambat. Ia paham Daniel pasti merasa kecewa, namun ini akan menjadi kejutan yang tidak akan terlupakan bagi mereka. Ada hadiah besar menanti, maka harus ada pengorbanan untuk mendapatkannya.


Dengan berbekal resep dari internet, Bianca mulai sibuk di dapur. Ia tahu Daniel menyukai segala macam makanan berbahan dasar coklat, maka Bianca membuat kue coklat secara perdana. Bahkan tanpa pengalaman, ia bertekad untuk menyajikan semua yang terbaik.


Kamar utama yang sudah sekian lama dibiarkan kosong, kini dirombak menjadi kamar dengan suasana baru, perabotan baru, dan banyak hal baru lainnya.


Bianca memasang foto pernikahan mereka dengan ukuran yang cukup besar, lengkap dengan berbagai hiasan bunga dan balon sebagai pelengkap perayaan ulang tahun.


***

__ADS_1


Tepat pukul dua siang, semua pekerjaan di rumah itu sudah beres. Bianca akhirnya bisa bernapas lega karena Daniel benar-benar tidak pulang sampai semua sudah siap.


Bianca mengunci kamar utama setelah semua persiapan usai. Ia juga menyembunyikan hadiah serta kue ulang tahun yang telah ia dekorasi seadanya.


Tepat pukul dua belas malam nanti, ia akan memberikan kejutan besar untuk sang suami.


"Sayang, aku pulang!" seru seseorang dari arah ruang tamu.


Bianca buru-buru membereskan dapur dan merapikan tubuhnya. Ia bahkan belum sempat mandi karena terlalu sibuk.


"Aku belum sempat memasak, kau bisa pesan pizza," ujar Bianca saat Daniel menyusulnya ke dapur.


"Kau sedang apa, Sayang? Kenapa berkeringat sekali?"


"Tidak apa-apa. Hari ini cuaca memang panas, aku akan mandi," pamit Bianca.


Melihat istrinya berjalan masuk ke dalam kamar, Daniel meras terpotek hatinya.


"Cuaca yang sedang panas atau hatimu yang sedang panas, Bianca?"


Daniel hanya bisa mengeluh dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2